<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981</id><updated>2011-09-16T20:54:11.578+07:00</updated><title type='text'>Hanya Goresan</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>39</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-4731060927190016000</id><published>2008-02-23T10:17:00.005+07:00</published><updated>2008-02-25T14:00:58.241+07:00</updated><title type='text'>Belajar Menjadi (Lebih) Dewasa</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kedewasaan memang kadang tidak berbanding lurus dengan usia seseorang. Tidak ada jaminan orang yang lebih tua maka dia akan lebih dewasa dalam menyikapi sesuatu. Seperti kata iklan, ”Tua itu Pasti, Dewasa itu Pilihan”. Menjadi tua itu niscaya (tapi tentu kalau kita diberi umur panjang), tapi berpikir dewasa itu kadang menjadi pilihan dan sangat tergantung pada kemauan kita untuk belajar. Dan saya sedang dalam proses belajar untuk menjadi dewasa itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kagum rasanya melihat orang-orang yang jauh lebih matang daripada usia biologisnya. Saya pernah ketemu Salim A Fillah, penulis buku dari Jogja itu. Usianya hanya terpaut 1 tahun lebih tua dari saya, tapi subhanalloh, cara berpikir beliau, dan karya-karya beliau nggak cukup kalau hanya diberi dua acungan jempol. Karena memang Islam mengajarkan kepada pemeluknya untuk lekas dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru belajar menjadi dewasa, dan dengan menulis saya mencoba untuk belajar. Karena menulis menghajatkan saya untuk selalu membaca, membaca apa saja yang ada di sekityar saya. Dan dengan ngeblog, semoga hasrat saya untuk belajar menulis semakin bulat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-4731060927190016000?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/4731060927190016000/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=4731060927190016000&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/4731060927190016000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/4731060927190016000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2008/02/belajar-menjadi-lebih-dewasa.html' title='Belajar Menjadi (Lebih) Dewasa'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-1924958377298554298</id><published>2008-02-02T10:07:00.000+07:00</published><updated>2008-12-10T15:00:23.423+07:00</updated><title type='text'>Surat Terbuka untuk Istriku</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/R6PidE1wQBI/AAAAAAAAAGE/YDxRchBQ12A/s1600-h/surat.jpeg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5162218587040006162" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/R6PidE1wQBI/AAAAAAAAAGE/YDxRchBQ12A/s320/surat.jpeg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Teruntuk&lt;br /&gt;Adinda tersayang, kekasih dalam berjuang&lt;br /&gt;Istriku yang selalu lekat dalam bayang&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sungguh tiada kata dan rasa yang lebih pantas untuk diungkapkan selain syukur tiada terkira kepada Alloh Robb Semesta atas pertemuan kita, ikatan kita, dan segala rasa yang senantiasa mengiringi langkah kita. Alangkah besar harapan semoga getaran cinta kita akan terus terjaga dan bermuara pada cinta kepadaNya. Salam dan sholawat untuk Baginda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, kekasih Alloh yang telah mengajari kita bagaimana memuliakan istri, bagaimana menghormati suami, dan bagaimana menjaga keluarga agar menjadi institusi solid yang saling menguatkan untuk selalu beribadah kepada Alloh.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Adinda tercinta,&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Hari ini konon genap 23 tahun usiamu menurut kalender masehi yang kita gunakan. Tentu surat ini tidak ada maksud mengajakmu merayakan hari yang disebut orang sebagai “ulang tahun” itu. Gak level lah kita ikut-ikutan latah mengikuti budaya yang tidak jelas darimana sumbernya. Tapi boleh kiranya sedikit mengajak kontemplasi, memperbarui getaran cinta kita sekaligus mengungkapkan segala rasa yang selama ini membuncah. Rasa terimakasih dan rasa syukur yang teramat besar yang selalu memenuhi ruang jiwa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Adinda tersayang,&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya surat ini tidaklah cukup untuk mengungkapkan segala terimakasih dan kekagumanku yang semakin menjadi akan dirimu. Tujuh bulan terasa begitu cepat ketika kulalui bersamamu, tapi juga cukup lama untuk merekam banyaknya kenangan yang tercatat jelas setiap detilnya di otakku. Kenangan yang selalu terasa manis semanis senyum yang selalu tersaji dari wajahmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Adinda terkasih,&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Seringkali hatiku menangis ketika merasa belum memberikan kehidupan yang baik untuk dirimu. Mungkin dulu tidak pernah terbayang di otakmu akan kehabisan uang di akhir bulan, atau tidur di kamar yang panas dan sempit dengan kasur pinjaman yang tidak kalah sempitnya. Juga berjalan jauh demi menghemat ongkos sampai-sampai kau hampir pingsan karena kelelahan. Atau ketika harus adu argumen dengan petugas bandara karena kamu tidak punya uang cukup untuk membayar over bagasi ketika menyusulku ke sini. Tapi itulah hidup. Tidak selamanya mulus dan gampang, karena kita butuh ujian untuk membuat kita lebih matang dan dewasa. Dan aku selalu bersyukur mempunyai pendamping yang setegar dan setabah dirimu. Kamu selalu bilang, masih banyak orang-orang yang jauh di bawah kita. Tak perlu mengeluh, karena memang tidak pantas untuk mengeluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Adindaku,&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada orang yang begitu istimewa buatku, itulah dirimu. Begitu istimewanya sehingga rindu ini selalu terasa meskipun hampir setiap saat kita bersama. Dan setiap saat itu pula energi luar biasa selalu aku rasakan dari dirimu. Energi untuk selalu melakukan kebajikan dan meninggalkan segala yang tidak pantas dilakukan. Syukur Alhamdulillah atas pertemuan kita di jalan dakwah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah menghimpun hati kita dalam cinta-Nya, yang berjumpa karena taat kepada-Nya, melebur satu dalam dakwah ke jalanNya, dan saling berjanji untuk menolong syariat-Nya. Ini uhibbuki fillah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ternate waktu dhuha, 1 Februari 2008&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-1924958377298554298?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/1924958377298554298/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=1924958377298554298&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/1924958377298554298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/1924958377298554298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2008/02/surat-terbuka-untuk-istriku.html' title='Surat Terbuka untuk Istriku'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/R6PidE1wQBI/AAAAAAAAAGE/YDxRchBQ12A/s72-c/surat.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-6857537325752324694</id><published>2007-09-30T10:32:00.000+07:00</published><updated>2008-12-10T15:00:23.656+07:00</updated><title type='text'>Rumah Sakit oh Sakit...</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/Rv8ZpdmZ9CI/AAAAAAAAAF0/HoSXVk8BWlY/s1600-h/suntikan.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5115835901827216418" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/Rv8ZpdmZ9CI/AAAAAAAAAF0/HoSXVk8BWlY/s320/suntikan.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sebenernya, aku agak males menggunjing secara terbuka di blog, apalagi di bulan Ramadhan ini. (emang di luar Ramadhan boleh?). Yah, tapi sesekali boleh lah, menceritakan sedikit kekesalan yang dirasakan. Tentang sebuah pelayanan umum di negeri ini. Semoga ini bukan gunjingan karena tidak menyebut tokoh maupun instansi secara jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal Romadhon kemarin, sehabis subuh tiba-tiba istriku mengeluh sakit kepala yang luar biasa. Sampai-sampai gak tega melihatnya. Ditunggu beberapa jam (karena kan ngiranya cuma sakit kepala biasa) ternyata tak kunjung sembuh, malah tambah sakit. Dan akhirnya setelah konsultasi ke seorang teman yang kebetulan berprofesi sebagai dokter, dibawalah istriku tersayang ke rumah sakit terdekat (maksudnya yang dekat dengan kontrakan kami) dengan mobil pinjaman dari kantor. Kebetulan rumah sakit itu adalah rumah sakit pemerintah yang konon fasilitas medisnya terlengkap di kota kami. Terus terang, di kotaku dulu aku sudah beberapa kali opname di rumah sakit, jadi sudah sangat hapal prosedur seseorang yang dibawa ke rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aku langsung menuju Unit Gawat Darurat. Cukup susah juga untuk mencari tempat parkir mobil karena ternyata rumah sakit ini sedang direparasi. (kayak mobil aja direparasi). Maksudnya dibangun kembali. Setelah sampai di depan pintu UGD aku langsung membopong tubuh istriku masuk ke dalam ruang.penanganan. Seorang perawat membantu menaikkan tubuh istriku ke tempat tidur yang bisa didorong itu (gak tahu namanya je..). Hueks… serasa mau muntah mencium aroma pengap yang ada di ruang itu. Kesan kumuh dan kotor langsung dapat aku tangkap dengan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar..sabar...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menunggu beberapa saat, istriku hanya ditanya-tanya tentang sakitnya. Mungkin memang begitu ya prosedur masuk rumah sakit? Agak kasihan juga melihat istriku yang kesakitan masih harus menjawab pertanyaan dari para perawat. Untung tidak lama setelah itu dokter jaga segera datang memeriksa. Tapi ternyata tidak jauh beda dengan perawat tadi. Dia Cuma bertanya-tanya tetang apa yang dirasakan oleh istriku. Barangkali aku yang terlalu panik sehingga merasakan waktu berlalu begitu lama. Dan istriku belum mendapat penanganan! Padahal aku berharap paling tidak ada infus yang terpasang di lengan istriku untuk menyuplai nutrisi yang dibutuhkannya. Ia sudah begitu pucat dan lemas. Ya Alloh....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu semakin lama berlalu. Dan akupun hanya mondar-mandir sambil mengharapkan ini semua segera selesai. Beberapa kali kulongok ruangan perawat di UGD itu. Semuanya sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ke mana orang yang merawat istriku tadi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai kesal. Untungnya sebelum emosiku keluar, seorang suster memberikan secarik kertas padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pak, tolong ditebus dulu ya? Di Apotik sana”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buset, aku baru mulai mengerti sekarang. Sepertinya rumah sakit ini tidak mau mengambil resiko. Mereka hanya mau melayani kalau pasien jelas-jelas bisa membayar. Su’udzon? Gak lah... Kenyataan kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa buang waktu lagi aku berlari menuju apotik yang ditunjuk. Untung di dompetku ada beberapa lembar ratusan ribu rupiah. Gak kebayang kalau aku gak bawa duit. Bisa-bisa istriku dibiarkan kesakitan di ruangan pengap itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menunggu beberapa saat, akupun dipanggil oleh petugas apotik. Oalah, ternyata seperangkat alat infus yang harus kutebus. Kirain tadinya obat yang akan menyembuhkan istriku yang harus kubeli itu. Semakin dongkol perasaanku. Apa kalau kita tidak bisa menebus infus itu sang pasien akan dibiarkan lemas di ruangan pengap itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera berlari menuju istriku yang semakin pucat. Sebelumnya kuserahkan hasil dari apotik itu ke perawat. Setelah melihat-lihat lengan istriku, perawatnya memanggilku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pak, ini jarumnya terlalu besar, tuker dengan nomer 12 ya?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grrhhhhh.... Mbok tadi dilihat dulu jarum yang sesuai dengan tangan lembut istriku. Emang gak capek bolak-balik rumah sakit apotik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udahlah, demi istriku aku kembali ke apotik untuk menukar jarum infus itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mau kelas berapa Pak?” Tanya perawat padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kelas satu aja Pak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpikir, kelas satu biasanya sudah cukup layak untuk pasien. Gak perlu VIP lah. Lagian gak punya duit ini, he2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar kemudian istriku dibawa ke bangsal dengan kursi roda. Sampai di bangsal dan menunggu perawat mencari kuncu kamarnya (tuh kan, kunci kamar aja masih harus dicari), sang perawat bilang padaku, ”Pak, bisa pulang sebentar untuk ngambil sprei sama piring buat makan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bengong. Sprei harus bawa sendiri? Piring juga? Pengen ketawa tapi juga pengen ngumpat juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau spreinya dari sini saja bisa gak sus?”, aku mencoba menawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oiya, bisa.” Halah, mbok ya dari tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketka kamar dibuka… Hiks, begitu mengenaskan. Rasa pengap dan bau debu sangat terasa di hidung. Jauh lebih nyaman kamar di kosanku itu. Lantainya sangat kotor, belum disapu apalagi dipel. Kamar mandinya setelah kulihat, ada kecoa yang hidup di sana. Hayah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Begini ini kalau rumah sakit umum, Mas...” Perawat itu agaknya mengerti ketidakpuasanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Egoku ingin mendebat, tapi sepertinya tidak ada gunanya. Sabar ya dek...?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;em&gt;To be continued...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-6857537325752324694?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/6857537325752324694/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=6857537325752324694&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/6857537325752324694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/6857537325752324694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/09/rumah-sakit-oh-sakit.html' title='Rumah Sakit oh Sakit...'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/Rv8ZpdmZ9CI/AAAAAAAAAF0/HoSXVk8BWlY/s72-c/suntikan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-4623597229289044222</id><published>2007-09-30T10:24:00.000+07:00</published><updated>2008-12-10T15:00:23.800+07:00</updated><title type='text'>The Art of Dying</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/Rv8aodmZ9DI/AAAAAAAAAF8/IttEISWN-hs/s1600-h/merdeka+atau+mati.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5115836984158975026" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/Rv8aodmZ9DI/AAAAAAAAAF8/IttEISWN-hs/s320/merdeka+atau+mati.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pagi itu, matahari belum juga sempurna menampakkan wujudnya. Seorang tua di atas kursi roda, keluar dari masjid seusai melaksanakan sholat Subuh. Tubuhnya terlalu ringkih untuk memutar roda kursinya sehingga seorang ajudanpun membantu mendorongnya. Tapi tubuh ringkihnya itu tidak bisa menghalangi wajahnya untuk senantiasa memancarkan semangat yang begitu menyala, bahkan meresonansi seluruh rakyat Palestina. Mengobarkan semangat perjuangan pembebasan tanah para anbiya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih di pagi itu, sebuah helicopter Apache tiba-tiba muncul di depan kursi rodanya. Melontarkan rudal yang tepat mengenainya. Dan tubuh orang tua itupun hancur, akibat ulah pengecut dari bangsa penakut yang dilaknat oleh Tuhannya. Dialah Syeikh Ahmad Yassin, pemimpin gerakan perlawanan HAMAS di Palestina. Dunia Islam pun berduka setelah kehilangan salah satu mujahid terbesarnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dr. Abdul Azis Rantisi, pemimpin HAMAS yang menggantikan Syeikh Ahmad Yassin pun menikmati pangalaman bertemu Alloh yang mirip dengan pendahulunya. Ditembak roket dari helikopter Apache yang mengintainya. Sebelumnya, dia berkata kepada para wartawan yang mengkerubutinya. “Setiap orang pasti akan mati. Tinggal bagaimana matinya. Apakah di pembaringan, atau di jalanan dengan rudal Apache. Dan saya, lebih memilih Apache”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, setiap makhluk Alloh yang bernyawa pasti akan merasakan mati. &lt;em&gt;Kullu nafsin dzaa iqotul mauut&lt;/em&gt;… Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Tidak akan ada yang luput, meskipun ia di balik tembok yang sangat tebal sekalipun, malaikat maut pasti akan menemukannya apabila sudah tiba waktunya. Tidak ada lagi perdebatan tentang kematian. Yang ada hanyalah dengan apa dan bagaimana akan kita hadapi kematian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kematian sesungguhnya adalah pintu gerbang menuju episode kehidupan yang lebih kekal dan abadi. Kematian adalah batas tipis antara kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat yang tiada ujungnya. Dan kematian adalah masa permulaan penghitungan segala amal kita di dunia. Kematian adalah akhir dari segala usaha kita di dunia. Dan kematian adalah masa di mana kita akan mulai merasakan akibat dari perbuatan kita selama di dunia. Karenanya, sudah seharusnya kematian dipersiapkan semaksimal mungkin dengan bekal sebaik mungkin. Karena kita berharap, kematian adalah awal dari kebahagiaan kita yang abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kematian sesungguhnya adalah pertemuan kita dengan Sang Khalik. Titik di mana kita kembali kepadaNya. Saat di mana kita akan menghadapi pengadilanNya. Dan waktu di mana kita akan mendapatkan keputusanNya. Karenanya, seharusnya kematian kita cita-citakan sebagai sesuatu yang sukses. Dengan cara yang sukses. Dengan sesuatu yang akan kita banggakan ketika kita menghadapNya. Meskipun hanya sebuah cita-cita, untuk menikmati kematian tidak dengan cara biasa. Untuk menggapai kematian dengan sebuah predikat yang akan membuat kita tidak mati, melainkan hidup. &lt;strong&gt;Syahid!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-4623597229289044222?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/4623597229289044222/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=4623597229289044222&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/4623597229289044222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/4623597229289044222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/09/art-of-dying.html' title='The Art of Dying'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/Rv8aodmZ9DI/AAAAAAAAAF8/IttEISWN-hs/s72-c/merdeka+atau+mati.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-3152663912774399244</id><published>2007-09-02T09:27:00.000+07:00</published><updated>2008-12-10T15:00:23.968+07:00</updated><title type='text'>Nagabonar dan Bonaga</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RtogDW3qc-I/AAAAAAAAAFg/KrKf_0MqjIA/s1600-h/nagabonar2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5105428369628623842" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RtogDW3qc-I/AAAAAAAAAFg/KrKf_0MqjIA/s320/nagabonar2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Entah kenapa, dari dulu saya menyukai akting Pak Deddy Mizwar di layar kaca. Menurut saya aktingnya selalu luwes dan begitu menjiwai setiap perannya. Tapi saya tidak berminat untuk membahasnya di sini, karena memang saya awam terhadap dunia seni peran sehingga merasa tidak kompeten untuk memberikan komentar lebih lanjut. Babar blas gak mudheng tentang dunia per-felem-an seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampilan teranyar Pak Deddy yang (kembali) memukau saya, ada di Film naga Bonar (jadi) 2. Film yang konon hendak mengulang kesuksesan film Naga Bonar itu mengingatkan saya atas perntanyaan teman-teman kepada saya, "Bagaimana sih cara meyakinkan ortu agar mengijinkan kita menikah muda?". Lho, emang apa hubungannya?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam film itu ada satu konflik yang cukup menarik perhatian saya. Konflik antara Bonaga (anaknya Nagabonar yang diperankan Tora Sudiro) dengan Naga Bonar (Deddy Mizwar). Bonaga yang merupakan lulusan S2 luar negeri telah berhasil menjadi seorang pengusaha sukses di Jakarta. Suatu ketika, dia mendapat tawaran proyek bernilai trilyunan rupiah. Tentu, sebagai seorang pengusaha, itu merupakan kesempatan emas yang (mungkin) tidak akan datang dua kali. Investor tersebut ingin membangun sebuah resort di kebun kelapa sawit milik Nagabonar. Katanya, kebun yang luas itu merupakan tempat yang sempurna untuk didirikan tempat peristirahatan karena daerahnya yang berbukit-bukit. Masalah muncul ketika ternyata di kebun tersebut terdapat makam istri, ibu, dan sahabat karib Nagabonar. Tentu dong, Nagabonar gak mau melepas tanahnya. Meskipun sudah meninggal, tapi ketiga orang itu adalah orang-orang yang terlalu istimewa bagi Nagabonar, sehingga tetap hidup dalam hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di sisi lain, Bonaga (dan teman-temannya) dengan cara berpikir seorang usahawan, tetap berusaha agar Nagabonar mau merestui penjualan tanah itu yang akan menjadikan mereka pengusaha sukses kelas internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, saya tidak akan bercerita panjang lebar tentang film ini. Silakan tonton sendiri aja filmnya, he he... Tapi ada satu hal yang menjadi pelajaran bagi saya. Adanya pertentangan antara generasi tua (orang tua) dengan generasi muda (anak). Pada dasarnya antara Nagabonar dengan Bonaga mempunyai kesamaan sifat. Bisa dibilang, Bonaga adalah Nagabonar yang hidup pada masa kini. Tapi masalahnya, karena dua orang itu besar dan mendapat pengalaman dari dua zaman yang berbeda, maka jadilah mereka dua orang yang memiliki dua sudut pandang yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah... Tanpa kita sadari, kitapun sering mengalami "konflik" semacam itu dengan orang tua kita. Banyak teman-teman yang mengeluh, mereka ingin menikah tapi terhambat izin dari orang tua. Padahal, dia merasakan bahwa kebutuhan untuk mendapatkan pendamping hidup begitu mendesak. Tapi mereka juga tidak berani melangkah lebih lanjut tanpa restu dari orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Nagabonar yang saya ceritakan tadi, sebenarnya (saya yakin) tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya tidak bahagia. Cuma masalahnya, bahagia menurtut si anak dan bahagia menurut orang tua terkadang berbeda. Misalnya, kita merasa yakin bahwa kita akan bahagia ketika menikah di usia muda, sedangkan orang tua memandang bahwa pernikahan merupakan sesuatu yang tidak main-main sehingga harus disiapkan seserius mungkin dan tidak tergesa-gesa. Kalau sudah menemui masalah seperti ini, maka hanya ada satu jalan yang harus ditempuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;k/o/m/u/n/i/k/a/s/i &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 huruf itu yang harus mulai dilakukan oleh kita. Sebuah hal yang wajar ketika orang tua khawatir terhadap anaknya yang baru usia 22 tahunan, sudah ngebet untuk nikah. Bukan hal aneh juga ketika mereka kaget saat bertanya tentang calon mantunya, dan sang anak tidak bisa menjelaskan dengan pasti karena cara pernikahan sang anak yang tidak lewat pacaran dulu. Atau ketika ditanya modal untuk menikah, dan ternyata sang anak hanya memiliki uang sekedarnya. Orang tua pasti akan berpikir dengan cara dan sudut pandang orang tua. Sedangkan anak, tetap berpikir dengan cara anak muda yang menggebu dan merasa lebih tahu dari siapapun. Ini yang sering jadi masalah. Kepada teman-teman saya yang bertanya, "Bagaimana cara meyakinkan ortu agar mengijinkan kita menikah?", saya ingin mengatakan, "Kenapa antum tidak coba berusaha mengerti jalan pikiran ortu antum dan coba dikompromikan dengan keinginan antum lalu disampaikan lagi kepada mereka dengan cara yang lebih baik?". Kadang timbul konflik yang cukup besar ketika masing-masing pihak masih eyel-eyelan dengan pendapatnya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua, sama dengan kita, selalu menginginkan hal yang terbaik bagi kita. Pernahkah antum berpikir, khawatirnya mereka akan kehilangan putra/putri tercintanya apabila telah menikah? Pernahkah terpikir khawatirnya mereka akan kesiapan anak-anaknya mengarungi bahtera rumahtangga yang seluas sisa umur kita di dunia ini? Cobalah selami cara berpikir mereka, lalu kompromikan dengan keinginan kita. Memang, pernikahan bukan suatu perkara yang gampang. Pernikahan adalah masalah separuh agama kita. Makanya, jangan sampai kita mempersiapkan secara serampangan. Dan jangan sampai juga, kita menyakiti hati orang tua kita demi mempertahankan pendapat kita. Makanya kata ustadz Anis Matta, "Persiapkanlah orang tua antum dua tahun sebelum antum berencana untuk menikah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-3152663912774399244?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/3152663912774399244/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=3152663912774399244&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/3152663912774399244'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/3152663912774399244'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/09/nagabonar-dan-bonaga.html' title='Nagabonar dan Bonaga'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RtogDW3qc-I/AAAAAAAAAFg/KrKf_0MqjIA/s72-c/nagabonar2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-6440270217309143683</id><published>2007-09-01T11:51:00.000+07:00</published><updated>2008-12-10T15:00:24.028+07:00</updated><title type='text'>Menata Ulang Visi Hidupku</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/Rtj8KW3qc7I/AAAAAAAAAFI/IDyQbNdX9DY/s1600-h/kepal.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5105107432492397490" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" height="143" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/Rtj8KW3qc7I/AAAAAAAAAFI/IDyQbNdX9DY/s320/kepal.jpg" width="65" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;Khairunnaas anfa uhum linnaas&lt;/em&gt;... Sebaik-baik manusia adalah yang berguna bagi manusia yang lainnya. Kata-kata Rosululloh itu tiba-tiba terngiang ketika usia saya memasuki pintu ke dua puluh dua nya. Kembali saya berpikir, apakah kehidupan dengan segala karunia dan kemudahan yang diberikan Alloh kepada saya selama lebih dari 22 tahun ini telah saya manfaatkan untuk mengejar predikat "sebaik-baik manusia" menurut hadits tersebut. Ketika fragmen sejarah hidup saya diputar kembali -&lt;em&gt;tentu dengan keterbatasan memory, tidak semua bisa saya putar&lt;/em&gt;-, kontan saya tidak berani memberikan jawaban "ya" atas pertanyaan saya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usia 22 tahun, seorang Hasan Al Bana mendirikan sebuah organisasi Al Ikhwan Al Muslimun yang kelak melahirkan mujahid dan penggiat da'wah yang menyinari bumi ini. Usamah bin Zaid baru berusia 18 tahun kala itu saat dia diamanahi menjadi panglima perang. Mushab bin Umair menjadi duta untuk membuka da'wah di Madinah ketika usianya duapuluh tahunan. Ali bin Abi Thalib masih begitu belia saat dengan gagah berani mendampingi hijrah Rosululloh dengan taruhan nyawanya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah... tentunya tidak pantas untuk membandingkan diri dengan orang-orang mulia seperti mereka. Tapi semoga tidak salah ketika berharap mampu mengikuti jejak orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk sesuatu yang lebih besar daripada sekedar egoisme diri. Hmm.. saya jadi teringat kata-kata Sayyid Quthb sang penulis tafsir "Fi Zhilalil Qur'an". &lt;em&gt;"Barangsiapa yang hidup bagi dirinya, akan hidup sebagai manusia kecil dan mati sebagai manusia kecil. Barangsiapa yang hidup bagi orang lain, akan hidup sebagai manusia besar dan mati sebagai manusia besar". &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Yah, mungkin memang sebaiknya saya menata ulang visi hidup saya sebelum saya melanjutkan tulisan ini. Karena memang, niat dan keikhlasan saya harus selalu di &lt;em&gt;update&lt;/em&gt; setiap saat agar tidak tergelincir pada pragmatisme yang melenakan saya terhadap kehidupan yang kekal. Niat ketika setiap hari berangkat ke kantor, niat ketika disibukkan dengan syuro dan kegiatan, niat ketika berbicara dan bercanda dengan istri... Niat dan niat. Ketika dan ketika. Agar ada sesuatu yang bisa saya banggakan ketika menghadap Sang Khalik kelak.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Allohu a'lam bisshowab&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-6440270217309143683?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/6440270217309143683/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=6440270217309143683&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/6440270217309143683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/6440270217309143683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/09/menata-ulang-visi-hidupku.html' title='Menata Ulang Visi Hidupku'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/Rtj8KW3qc7I/AAAAAAAAAFI/IDyQbNdX9DY/s72-c/kepal.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-1295877013412154654</id><published>2007-08-17T13:01:00.000+07:00</published><updated>2008-12-10T15:00:24.165+07:00</updated><title type='text'>Pernikahan Sahabatku</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://www.friendster.com/30404242"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5099551376898945954" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RsU-9W3qc6I/AAAAAAAAAFA/X7bhCy0DdK8/s320/mawar.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Liburan panjang ini, tiga hari berturut-turut setiap hari ada sahabat saya yang menggenapkan separuh dien mereka. Saya selalu gembira ketika mendengar kabar teman-teman saya yang akan segera maupun sudah menggenapkan separuh agama mereka dengan menikah. Karena saya tahu, menikah adalah keindahan, kecuali yang menganggapnya sebagai beban. Rumahtangga adalah kemuliaan, kecuali bagi yang memandangnya sebagai rutinitas tak bermakna. Dan bagi mereka para aktivis dakwah yang saya kenal, menikah dan perjuangan mereka adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Artinya, menikah adalah sebagian dari perjuangan mereka untuk menegakkan agama ini. Subhanalloh….&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana saya yang menikah ketika usia saya belum genap 22 tahun, sahabat-sahabat saya inipun masih sangat muda usianya ketika besok (insya Alloh) melepaskan masa lajang mereka dan mengubah status mereka menjadi bapak dan ibu rumah tangga. Memang, seperti kata pepatah di televisi, “Tua itu Pasti, Dewasa itu Pilihan”. Tidak ada hubungan pasti antara usia dan kedewasaan seseorang. Dan tentu tidak ada hubungan pasti juga antara usia dan kesiapan seseorang untuk menikah. Dan saya selalu salut kepada para pemuda yang menjaga kesuciannya dengan menikah. tentu diiringi dengan bekal yang cukup. Bekal ilmu, bekal iman, bekal mental, bekal materi, dan bekal-bekal lain yang sangat dibutuhkan untuk mengarungi samudera luas bernama rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm... spesial untuk sahabat-sahabatku Mbak Ratna yang akan menikah pada 17 Agustus ini, &lt;a href="http://www.friendster.com/30404242"&gt;Mas Febri&lt;/a&gt; dan Mbak Siti Kholilah yang esok 18 Agustus hendak merayakan cintanya, dan &lt;a href="http://www.friendster.com/27722879"&gt;Mbak Malatika Septiasari &lt;/a&gt;dan Mas Amin Fauzan yang 19 Agustus nanti insya Alloh akan resmi menjadi suami istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Barokallohulaka wa baroka 'alaika wajama'a bainakuma fii khoiri... &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Dan harapan saya selalu, semoga pernikahan ini tidak menjadi terminal pemberhentian bagi kreatifitas dan kontribusi kita dalam hidup ini. &lt;em&gt;Ana uhibbukum fillah...&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-1295877013412154654?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/1295877013412154654/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=1295877013412154654&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/1295877013412154654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/1295877013412154654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/08/pernikahan-sahabatku.html' title='Pernikahan Sahabatku'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RsU-9W3qc6I/AAAAAAAAAFA/X7bhCy0DdK8/s72-c/mawar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-2979498655367763400</id><published>2007-08-05T08:35:00.000+07:00</published><updated>2008-12-10T15:00:24.313+07:00</updated><title type='text'>Kangen Nduuk....</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RrVjIi3IbFI/AAAAAAAAAE4/zvA9pIzXWMU/s1600-h/Picture_4___1_.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5095087551887731794" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" height="240" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RrVjIi3IbFI/AAAAAAAAAE4/zvA9pIzXWMU/s320/Picture_4___1_.jpg" width="285" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Selalu menjadi pilihan yang tidak saya sukai ketika harus berjumpa dengan yang namanya perpisahan. Perpisahan dengan apa saja dan dengan siapa saja. &lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebenarnya saya selalu menyukai perubahan dan hal-hal baru dalam hidup saya. Tapi ketika bertemu dengan perpisahan, selalu saya sedih bukan kepalang &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(&lt;em&gt;duuhh..berlebihan gak ya?&lt;/em&gt;)&lt;/span&gt;. Seperti sepekan lalu ketika saya harus berpisah dengan istri pertama saya &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(&lt;em&gt;tapi insya Alloh belum berniat untuk nambah lagi, he2&lt;/em&gt;)&lt;/span&gt;. Saya harus kembali ke Ternate karena cuti saya sudah habis, sedangkan istri saya harus pergi ke Jakarta karena ada panggilan untuk ngantor di salah satu Kantor Pelayanan Pajak di sekitar Mampang. Jadilah saya kembali ke status semula. Bujangan. Meski sekarang status itu sudah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(&lt;em&gt;sedikit&lt;/em&gt;)&lt;/span&gt; berubah karena orang-orang menyebut saya dan yang senasib dengan saya sebagai "Bujang Lokal".&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Memang, tidak mudah bagi pasangan suami istri apalagi yang baru 3 pekan menikah seperti saya untuk berjauh-jauhan. Apalagi jauhnya antara Jakarta-Ternate yang apabila dilihat dengan peta pun sudah kelihatan sangat jauh. Yah, bagaimanapun kami menganggapnya sebagai sesuatu yang harus kami jalani. Dan sebagai orang yang beriman, tentu kami akan selalu mengambil ibroh dari setiap kejadian yang kami alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit puisi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(&lt;em&gt;yang sepertinya&lt;/em&gt;)&lt;/span&gt; kurang cerdas untuk istriku yang sangat cerdas dan menggemaskan...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"   style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"   style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;Cintaku...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"   style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;Bahkan aku selalu kehilangan kata-kata untuk sekedar menggambarkan keindahanmu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"   style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;Anugerah Alloh yang tidak akan cukup terlukiskan hanya dengan untaian kata dalam puisi yang panjang&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="Cintaku: "&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;Dan akupun hanya bisa bilang&lt;br /&gt;I Love U...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangku...&lt;br /&gt;Tidak ada yang kuinginkan sekarang keciali mencitaimu&lt;br /&gt;Tentu dalam ketaatan kepadaNya&lt;br /&gt;Membelaimu dalam naungan kasihNya&lt;br /&gt;Mendekapmu dalam bingkai cintaiNya&lt;br /&gt;Menjagamu dengan segenap pertolongan dariNya&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-2979498655367763400?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/2979498655367763400/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=2979498655367763400&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/2979498655367763400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/2979498655367763400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/08/kangen-nduuk.html' title='Kangen Nduuk....'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RrVjIi3IbFI/AAAAAAAAAE4/zvA9pIzXWMU/s72-c/Picture_4___1_.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-8864448820244919129</id><published>2007-07-29T11:34:00.001+07:00</published><updated>2007-07-29T12:16:12.852+07:00</updated><title type='text'>Perbedaan yang Indah Itu...</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Banyak teman yang mengira, saya dan &lt;a href="http://www.friendster.com/35778009"&gt;istri&lt;/a&gt; saya adalah dua manusia dengan banyak kesamaan. Mungkin karena kami sama-sama (&lt;em&gt;mantan&lt;/em&gt;) aktivis kampus dan kebetulan sering dapat amanah yang mirip dan bahkan sama. Sama-sama sering berkecimpung di dunia politik di kampus. Sama-sama sering turun ke jalan ketika mahasiswa diharuskan turun ke jalan. Dan kesamaan-kesamaan yang lain. Tapi sebenarnya, kesamaan-kesamaan itu adalah kesamaan-kesamaan yang semu. Ketika membaca biodatanya (&lt;em&gt;meskipun sebenarnya saya sudah kenal dia karena sering kerja bareng di kepanitiaan&lt;/em&gt;), saya langsung bisa menebak bahwa kami adalah dua pribadi yang sangat berbeda. Bahkan mungkin saling bertolak belakang. Dan dugaan saya itu terbukti setelah akhirnya kami menikah pada tanggal 070707 kemarin setelah melewati proses 2,5 bulan yang cukup melelahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya adalah orang yang sering bercanda dengan gaya guyonan saya sendiri. Bercanda dengan siapa saja, dengan bahan apa saja. Tapi guyonan saya akhir-akhir ini sering jadi garing karena gak bisa ditangkap dengan baik oleh istriku tercinta. Jadinya malah kami sering mentertawakan ketidaknyambungan kami kalau bercanda. Capek deh kalo ngejayus di depan istriku. Pasti jadi gak lucu!&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahu saya, wanita itu suka dengan laki-laki romantis. Tapi sepertinya itu tidak berlaku bagi istriku. Tiap kali saya membombardirnya dengan kata-kata romantis, pasti keluar satu kata yang sudah bisa saya tebak, "&lt;strong&gt;Gombal!&lt;/strong&gt;". Padahal kata-kata itu keluar dari lubuh hatiku yang paling dalam (&lt;em&gt;hayah!&lt;/em&gt;). Dan jangan harap dia akan mengucapkan kata-kata cinta kalau kami lagi ngobrol berdua. Malu katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering saya merasa sifat saya yang paling buruk (&lt;em&gt;salah satunya&lt;/em&gt;) adalah cuek terhadap diri sendiri dan (&lt;em&gt;kadang&lt;/em&gt;) lingkungan sekitar. Gak resikan blas kalau kata orang jawa. Kalau bahasa mBetawinya, Jorok! Padalah istri saya -dan juga keluarganya- adalah tipe orang yang rapi dan bersih. Jadinya sering keki dan gak enak sendiri ketika bidadariku membereskan handuk basah yang kulempar di atas tempat tidur, atau merapikan baju-baju kotor yang saya taruh sembarangan. Memang sih, dia selalu melakukannya dengan senyum termanis yang dia punya, tapi tetep aja selalu dibarengi dengan rasa bersalahku yang harus merepotkannya. Masalah makanan pun seperti itu. Dia termasuk cerewet masalah makanan. "&lt;em&gt;Kopi sama tehnya dikurangi dong mas...&lt;/em&gt;", katanya ketika tahu saya hobi minum kopi dan hampir tidak lupa minum teh pagi dan sore hari. "&lt;em&gt;Jangan pakai saus itu, gak sehat. Mending gak usah pakai saus aja...&lt;/em&gt;" Akhirnya saya sekarang membiasakan diri untuk membawa saus sachet kemana-mana. Katanya, "&lt;em&gt;Paling gak, ini lebih terjamin kesehatannya&lt;/em&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya adalah tipe orang yang &lt;em&gt;easy going&lt;/em&gt; dan cenderung mengalir apa adanya, doi adalah tipe planer sejati yang mempersiapkan segalanya dengan matang. Bahkan dia sudah punya planing hidup selama 10 tahun ke depan. Akhirnya, saya pun mau gak mau jadi ikutan mikir apa yang harus saya capai beberapa tahun ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi masalah hiburan yang seringkali (&lt;em&gt;meski dia tidak sadar kayaknya&lt;/em&gt;) saya dengan senang hati mengalah dengan menemaninya nonton Harry Potter yang baru sekali itu saya tonton, makan di foodcourt di mall padahal saya lebih suka jajan di kaki lima, dan masalah tempat wisata yang sampai harus &lt;em&gt;eyel-eyelan&lt;/em&gt; beberapa hari untuk mencapai kesepakatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, dua manusia tidak akan mungkin bisa sama dan cocok segalanya. Kami berdua dilahirkan dan dibesarkan di dua keluarga berbeda, dengan kultur yang berbeda, dengan keadaan yang berbeda, dengan cara didik yang berbeda. Sekolah kami pun tidak pernah sama. Tidak mungkin kami mengharapkan akan mempunyai sifat dan kebiasaan yang sama. Kata Baim Lebon, ibarat rel, mereka tidak akan pernah menyatu, tapi tujuan mereka adalah sama, stasiun! Ya, bagaimanapun juga kami adalah dua orang yang berbeda dengan sifat dan kebiasaan yang berbeda. Tidak mungkin kami merubah diri kami menjadi dua orang dengan satu sifat yang sama. Tapi apapun itu, tujuan kami adalah sama, stasiun yang bernama Ridlo Alloh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sayapun telah membuktikan, bahwa perbedaan-perbedaan kami itulah yang semakin mengeratkan cinta kami. Maha Suci Alloh yang telah menciptakan manusia berpasang-pasangan dengan segala keunikannya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang... &lt;em&gt;ana uhibbuki fillah &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Luv u so much coz Alloh...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-8864448820244919129?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/8864448820244919129/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=8864448820244919129&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/8864448820244919129'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/8864448820244919129'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/07/perbedaan-yang-menyenangkan-itu.html' title='Perbedaan yang Indah Itu...'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-6358655177679553516</id><published>2007-07-29T09:38:00.001+07:00</published><updated>2007-07-29T12:24:25.553+07:00</updated><title type='text'>Dan Alloh-lah yang Telah Menolong Kami</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Dan Allohlah yang Telah Menolong Kami&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingat, hari itu tanggal 21 April 2007, ketika niat untuk menggenapkan separuh dien dan melanjutkan perjuangan ke jenjang berikutnya (&lt;em&gt;ini kata salah seorang ustadz lho..&lt;/em&gt;) itu mulai menemui jalan terang. Seorang akhowat, teman seangkatan yang dulu kukenal sebagai aktivis super di kampus menyatakan bersedia untuk mengarungi hidup bersamaku, dengan segala kekuarangan dan kelebihan yang aku miliki. Asli, kalau dipiki-pikir waktu itu hanya modal nekad dan tentu saja keyakinan yang begitu besar pada Alloh ketika aku memutuskan untuk menikah secepat mungkin. Dari sisi materi, bisa dibilang aku masih sangat belum mapan sekali untuk melamar seorang gadis. Apalagi kondisiku yang berada di pulau terpencil (&lt;em&gt;gak segitunya ding..&lt;/em&gt;) yang berjuluk Ternate, sedangkan keluarga besarku, dan keluarga sang akhwat sama-sama ada di Jawa Tengah. Otomatis aku harus bolak-balik Ternate-Jawa untuk khitbah dan membicarakan segala sesuatunya. He he.. ternyata nikah itu gak semudah yang kubayangkan dulu. Apalagi kalau sudah berhubungan dengan keinginan keluarga besar yang seringkali menjadikan ribet seuatu yang seharusnya bisa jadi mudah.Pyiuh...ribet buanget! &lt;span class="fullpost"&gt;Kontan aja, terhitung mulai awal Mei, aku udah dua kali bolak-balik terbang Ternate-Jogja yang kalau diitung-itung secara matematis gak mungkin bisa kubayar hanya dengan gajiku yang masih gaji seorang CALON Pegawai Negeri Sipil. Ditambah lagi untuk biaya ini itu yang dulu luput dari perhitunganku. Sampai sekarang pun aku masih bingung, dari mana bisa kupenuhi semua itu? Tapi Alloh memang Maha Kaya. Terlalu mudah bagi Alloh untuk memudahkan segala urusan hambaNya. Apalagi dia telah berjanji dalam kitabNya "&lt;em&gt;Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. &lt;strong&gt;Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya&lt;/strong&gt;. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui&lt;/em&gt;". Maha Benar Alloh dengan segala firmanNya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;So, bagi saudara-saudaraku yang masih ragu untuk menikah, jangan jadikan biaya sebagai alasan utama antum!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-6358655177679553516?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/6358655177679553516/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=6358655177679553516&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/6358655177679553516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/6358655177679553516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/07/dan-alloh-lah-yang-telah-menolong-kami.html' title='Dan Alloh-lah yang Telah Menolong Kami'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-4781140246184630154</id><published>2007-06-22T17:55:00.000+07:00</published><updated>2007-06-22T18:12:28.784+07:00</updated><title type='text'>PRESS RELEASE</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Bismillahirrohmanirrohiim &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Alloh, Dzat yang menciptakan manusia berpasang-pasangan, yang menjadikan rasa kasih sayang dan ketenteraman. Semoga keimanan dan kesyukuran kita senantiasa hanya kepadaNya. Sholawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Rosul akhir zaman, suri tauladan utama kita baginda Muhammad saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan senantiasa memohon ridlo dari Alloh 'azza wa jalla&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;Insya Alloh akan menikah&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#ff6600;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#000099;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.friendster.com/agusfredy"&gt;Agus Fredy Muthi'ul Wahab&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.friendster.com/35778009"&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#ffff00;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Inge Febria Aryandari&lt;/span&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;Akad Nikah &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;Sabtu, 7 Juli 2007&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 19.30 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Josroyo Indah Jl. Veteran Raya Blok C78 Jaten &lt;a href="http://id.wilkipedia.org/wiki/Karanganyar"&gt;Karanganyar&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#330099;"&gt;&lt;strong&gt;Walimatul 'ursy&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ahad, 8 Juli 2007 &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 09.30 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monumen Jaten, Jl. Solo-Tawangmangu Km 8 Jaten Karanganyar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sabtu, 14 Juli 2007 &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 09.30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nepak RT 007 RW I Bulurejo Kec Mertoyudan Kab &lt;a href="http://id.wilkipedia.org/wiki/magelang"&gt;Magelang&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon Doanya, semoga barokah dan bermanfaat bagi dakwah dan ummat. Amin&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-4781140246184630154?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/4781140246184630154/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=4781140246184630154&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/4781140246184630154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/4781140246184630154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/06/press-release.html' title='PRESS RELEASE'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-5644078563196840988</id><published>2007-06-22T17:29:00.000+07:00</published><updated>2007-06-22T18:21:39.878+07:00</updated><title type='text'>Pamitan....</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Entah, tiba-tiba ada sesuatu yang membuat sedih di hati saya. Besok siang saya harus terbang ke &lt;a href="http://id.wilkipedia.org/wiki/manado"&gt;Manado&lt;/a&gt; untuk ikut Diklat Pra Jabatan Departemen Keuangan sampai tanggal 4 Juli 2007. Hiks, mendadak sih diklatnya, karena baru diumumin hari Kamis lalu. Berarti hanya punya waktu dua hari untuk mempersiapkan segalanya, termasuk rescheduling semua rencana yang telah tersusun rapi. Yah, itulah skenario Alloh yang pasti ada hikmah indah di balik semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu tanggal 4 atau 5 Juli rencananya langsung terbang ke Magelang untuk mempersiapkan segala sesuatu yang harus saya persiapkan. Cuti sekitar 3 pekan, dan baru balik ke &lt;a href="http://id.wilkipedia.org/wiki/ternate"&gt;Ternate&lt;/a&gt; sekitar akhir Juli, insya Alloh. Bagi sebagian orang, seharusnya saya senang. Lha wong bisa jalan-jalan, ketemu sama keluarga, MENIKAH, dan yang penting lepas dari rutinitas kantor yang (kadang) menjemukan dan bikin makan ati. Ups, kalo ada temen sekantorku yang baca, sorry ya..?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, sepertinya saya mulai jatuh hati dengan kota ini. Gak tau juga ding. Yang pasti saya adalah orang yang paling benci dengan perpisahan. Bukan benci, tapi tidak suka. Berpisah dengan saudara-saudara seiman di sini, berpisah dengan teman-teman di sini, berpisah dengan suasana di sini, berpisah dengan segala sesuatu di sini. Meskipun hanya sekitar satu bulan, tapi selalu saja saya merasa sedih menghadapi perpisahan. Para Muhajirin pun konon menangis ketika harus meninggalkan Makkah, tanah kelahiran mereka. Jadi saya rasa juga manusiawi ketika kita akan meninggalkan sebuah tempat yang terlanjur mapan bagi kita.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;'Alla kulli haal... sebenarnya saya tidak sedang ingin curhat, tapi hanya ingin berpamitan kepada anda semua. Mungkin selama beberapa pekan tidak akan berinteraksi dengan internet. Berarti pula tidak akan sempat untuk ngeblog lagi. Dan tentu saja tidak bisa "mencuri" ilmu dari blogger lain yang begitu menawan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mohon doa dari antum sekalian, semoga semuanya lancar, aman, dan terkendali.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-5644078563196840988?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/5644078563196840988/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=5644078563196840988&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/5644078563196840988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/5644078563196840988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/06/pamitan.html' title='Pamitan....'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-921263320076380602</id><published>2007-06-13T14:58:00.000+07:00</published><updated>2007-06-13T15:16:24.634+07:00</updated><title type='text'>Jangan Permaklumi Dirimu!</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;em&gt;“Akhi, jangan permaklumkan diri sendiri. Secapek apapun, tetap paksakan diri untuk jaga ruhiyah. Semakin kita mempermaklumkan diri sendiri, semakin susah buat bangkit lagi. Gimana mau transfer energi, kalau energi antum sendiri kosong? Kasihan orang-orang di sekitar antum...”&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata itu mampir di layar HP Nokia butut saya setelah ”curhat” dengan seseorang kalau ruhiyah saya terasa kering beberapa pekan ini. Penurunan ruhiyah yang ditandai dengan penurunan semangat untuk melaksanakan amalan harian yang telah menjadi standar. Curhatan saya ternyata dibalas dengan kata-kata yang begitu nampol bagi saya. Hiks, hiks, hiks.. bunyi hujan... (&lt;em&gt;lho kok malah nyanyi...&lt;/em&gt;)&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ya, kadang kita mencari seribu satu alasan untuk kekurangan-kekurangan yang hinggap pada diri kita. Sering juga kita melakukan pembelaan-pembelaan dan permakluman ketika kita melakukan kesalahan. ”&lt;em&gt;Ah, manusia kan tidak ada yang sempurna. Wajar kalau berbuat sedikit kesalahan.”&lt;/em&gt; Padahal, sebenarnya tidak ada kesalahan yang kecil bagi seorang muslim. Seperti kata Imam Syafi’i, &lt;em&gt;”Jangan liat kecilnya dosa yang kita lakukan. Tapi lihat, betapa Agung dan Besarnya Dzat yang kita lawan!”&lt;/em&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Allohu Akbar! Betapa beraninya kita apabila melakukan maksiyat di depanNya! Yup, kita tidak akan pernah bisa membelakangi Alloh. Tidak akan mungkin bisa bersembunyi dari pengamatanNya. Astaghfirullahal’adziim...&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lho, kok jadi ke sini ngomongnya?&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke masalah ruhiyah saya yang jeblok (&lt;em&gt;eh, bukan jeblok, kering malahan&lt;/em&gt;) beberapa pekan ini. Seringkali permakluman-permakluman itu muncul. Berbagai alasan muncul mensugesti agar tidak segera bangkit. Alasan lingkungan, capek kerja, kebanyakan lembur, membuat saya berpikir, &lt;em&gt;”Wajar lah kalau kualitas ibadah saya turun. Masih mending gak ancur-ancur amat.” &lt;/em&gt;Walah!&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ya, tapi bagaimanapun juga permakluman-permakluman itu sama sekali tidak bisa dibenarkan. Betapa berat dan padat aktivitas Rosul dan sahabat, tapi tetap mereka menjadikan kekuatan ruhiyah sebagai bekal utama untuk perjuangan mereka. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Jadilah engkau seperti rahib-rahib di malam hari, dan jadilah engkau bagaikan singa di siang hari”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Yup, doakan saya agar bisa segera bangkit ya? Hare gene masih futur...?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-921263320076380602?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/921263320076380602/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=921263320076380602&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/921263320076380602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/921263320076380602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/06/jangan-permaklumi-dirimu.html' title='Jangan Permaklumi Dirimu!'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-4073007786653241655</id><published>2007-06-08T13:10:00.000+07:00</published><updated>2007-06-09T14:33:43.232+07:00</updated><title type='text'>Yuuk Bangun Cinta...</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Cinta Bersemi di Pelaminan &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Oleh: Ust. Anis Matta&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lupakan! Lupakan semua cinta jiwa yang tidak akan sampai ke pelaminan. Tidak ada cinta jiwa tanpa sentuhan fisik. Semua cinta dari jenis yang ini yang tidak berujung dengan penyatuan fisik hanya akan mewariskan penderitaan bagi jiwa. Misalnya yang dialami oleh Nashr bin Hajjaj di masa Umar bin Khattab. Ia pemuda paling ganteng yang ada di Madinah. Sholeh dan kalem. Secara diam-diam gadis-gadis Madinah mengidolakannya. Sampai suatu saat Umar mendengar seorang perempuan menyebut namanya dalam bait-bait puisi yang dilantunkannya di malam hari. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Umar pun mencari Nashr. Begitu melihatnya, Umar terpana dan mengatakan, ketampanannya telah menjadi menjadi fitnah bagi gadis-gadis Madinah. Akhirnya Umar pun memutuskan untuk mengirimnya ke Basra. Disini ia bermukim pada sebuah keluarga yang hidup bahagia. Celakanya, Nashr justru jatuh cinta pada istri tuan rumah. Wanita itu juga membalas cintanya. Suatu saat mereka duduk bertiga bersama sang suami. Nashr menulis sesuatu dengan tangannya di atas tanah yang lalu dijawab oleh sang istri. Karena buta huruf, suami yang sudah curiga itu pun memanggil sahabatnya untuk membaca tulisan itu. Hasilnya: Aku cinta padamu! &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nashr tentu saja malu karena ketahuan. Akhirnya ia meninggalkan keluarga itu dan hidup sendiri. Tapi cintanya tak hilang. Dan ia menderita karenanya. Sampai ia jatuh sakit dan badannya kurus kering. Suami perempuan itupun kasihan dan menyuruh istrinya untuk mengobati Nashr. Betapa bahagianya Nashr ketika perempuan itu datang. Tapi cinta tak mungkin tersambung kepelaminan. Mereka tidak melakukan dosa, memang. Tapi mereka menderita. Dan Nashr meninggal setelah itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Itu derita panjang dari cinta yang tumbuh di lahan yang salah. Tragis memang. Tapi ia tak kuasa menahan cintanya. Dan ia membayarnya dengan penderitaan sampai akhir hayat. Pastilah cinta yang begitu akan jadi penyakit. Sebab cinta yang ini justru menemukan kekuatannya dengan sentuhan fisika. Makin intens sentuhan fisikanya, makin kuat dua jiwa saling tersambung. Maka ketika sentuhan fisik jadi mustahil, cinta yang ini hanya akan berkembang jadi penyakit. Itu sebabnya Islam memudahkan seluruh jalan menuju pelaminan. Semua ditata sesederhana mungkin. Mulai dari proses perkenalan, pelamaran, hingga mahar dan pesta pernikahan. Jangan ada tradisi yang menghalangi cinta dari jenis yang ini untuk sampai ke pelaminan. Tapi mungkin halangannya bukan tradisi. Juga mungkin tidak selalu sama dengan kasus Nashr. Kadan-kadang misalnya, karena cinta tertolak atau tidak cukup memiliki alasan yang kuat untuk dilanjutkan dalam sebuah hubungan jangka panjang yang kokoh. Apapun situasinya, begitu peluang menuju pelaminan tertutup, semua cinta yang ini harus diakhiri. Hanya di sana cinta yang ini absah untuk tumbuh bersemi: di singgasana pelaminan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Sumber : Tarbawi&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Itu adalah tulisannya Ust Anis Matta dalam Serial Cinta di majalah Tarbawi. Beberapa kali saya membacanya, beberapa kali itu pula saya tertegun, tercekat, atau apalah itu namanya. Bukan karena saya mengalaminya, tapi secara kebetulan ada beberapa kejadian yang membuat saya mau tidak mau memikirkan kisah itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Dulu (&lt;em&gt;dan sekarang juga ding&lt;/em&gt;), saya begitu ”kenyang” dengan pemahaman bahwa, menikah tidak harus dengan cinta. Tepat sekali. Saya pun masih meyakininya sampai kini. Terlalu banyak contoh yang membuktikan bahwa menikah dengan orang yang (sebelumnya) tidak dikenalpun ternyata tetap membawa kebahagiaan. Dan biasanya para aktivis (da’wah) menikah dengan cara ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Sampai kemudian ada beberapa cerita yang sampai ke telinga saya, menceritakan bahwa mereka kesulitan untuk menerima konsep bahwa "menikah tidak harus dengan cinta". Bahkan kalimat itu terlontar dari beberapa orang yang sudah menikah. He he tapi yang ini jujur gak ke saya ceritanya. Ya iyalah, wong saya belum nikah kok dicurhatin masalah kayak gitu. Pernah baca bukunya Mbak Izzatul Jannah, &lt;em&gt;Karena Cinta Harus Diupayakan&lt;/em&gt;? Dalam salah satu tulisannya di buku itu, beliau bercerita tentang seorang akhowat yang curhat, tidak bisa melupakan seorang ikhwan yang pernah tertambat di hatinya semasa di kampus dulu. Padahal kini ia telah menikah dengan orang lain. Singkat cerita, alhasil akhwat tersebut tidak bisa sepenuhnya mencintai suaminya. Walah!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Ya... karena saya belum pernah ngalamin, jadi ya belum berani untuk komentar, apa yang salah sama akhwat itu. Apa memang begitu dahsyat kekuatan cinta sampai menyiksa orang seperti itu? Dan apa memang begitu sulitnya melupakan cinta apalagi cinta pertama kita? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu juga ada seorang teman yang cerita, dia sudah hampir memasuki gerbang pernikahan, tapi ternyata belum juga bisa melupakan ”cinta” kepada seorang ikhwan lain yang telah dipendamnya selama bertahun-tahun. Kepada teman saya itupun saya hanya bisa memberikan sedikit nasehat (yang semoga aja didengarnya), bahwa menikah dengan orang yang kita cintai adalah sebuah pilihan dan kemungkinan, sedangkan mencintai orang yang kita nikahi adalah sebuah kewajiban. Ketika pilihan dan kemungkinan itu sudah tidak memungkinkan untuk dimungkinkan (&lt;em&gt;halah opo sih maksude&lt;/em&gt;?) maka tiada pilihan lain bagi kita kecuali melaksanakan kewajiban kita, mencintai orang yang kita nikahi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Memang, idealnya tidak jatuh cinta ketika belum siap menikah. Dan idealnya juga cinta sejati itu baru tumbuh setelah di pelaminan. Tapi ketika cinta tak terelakkan di saat kita belum siap menikah, dan ternyata cinta itu tidak memungkinkan untuk menyandingkan kita di pelaminan, maka saya kutip paragraf pertama tulisan di atas, &lt;em&gt;&lt;strong&gt;"Lupakan! Lupakan semua cinta jiwa yang tidak akan sampai ke pelaminan"&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, saya kutip nih, kata-katanya Salim A Fillah dalam &lt;strong&gt;”Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim”&lt;/strong&gt;. Bisa dilihat di halaman 237. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;em&gt;”Antum bebas jatuh cinta pada akhwat manapun, berapapun banyaknya –malah kalau bisa sebanyak-banyaknya-. Tapi jadilah gentle dan sportif! Kalau ada ikhwan lain yang lebih siap datang mendahului menjemput sang anagn pengisi sepi jangan menangisi nasib diri! Persilakan dengan gagah, bahkan bantu dengan segenap pengorbanan kalau perlu!”&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;em&gt;” Antunna bebas mencintai ikhwan manapun. Tetapi kalau seseorang berbeda yang baik akhlaq dan agamanya datang dan kita tidak punya alasan syar’i untuk menolak, jangan sekali-kali menghindar!”&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Mari kita tahan diri untuk tidak jatuh cinta, dan berjanjilah untuk membangun cinta kepada pasangan yang berhak kelak (kalau udah punya he he).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Ternate, 08062007 abis jumatan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;em&gt;dedicated for&lt;/em&gt; beberapa orang teman &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-4073007786653241655?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/4073007786653241655/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=4073007786653241655&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/4073007786653241655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/4073007786653241655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/06/yuuk-bangun-cinta.html' title='Yuuk Bangun Cinta...'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-662176591639902602</id><published>2007-05-31T18:33:00.000+07:00</published><updated>2007-06-10T07:48:47.945+07:00</updated><title type='text'>Cinta Mereka</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#000099;"&gt;Cinta Mereka&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Aku terkenang kisah cinta Muhammad yang Terpercaya&lt;br /&gt;Dengan Khadijah seorang wanita mulia&lt;br /&gt;Dari sanalah keimanan mulai terbina&lt;br /&gt;Ketika semua orang mendustakannya&lt;br /&gt;&lt;span class="selengkapnya"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="selengkapnya"&gt;&lt;span class="selengkapnya"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Aku terngiang cerita Jabir Sang Sahabat&lt;br /&gt;Yang menikahi janda demi kerukunan akhwat kerabat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terkesima dengan ketawakalan Ummu Sulaim&lt;br /&gt;Yang mensyaratkan Aqidah yang salim&lt;br /&gt;Ketika Abu Thalhah ingin meminangnya sebagai pengantin&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aku terpana dengan perbuatan Fatimah Az Zahra&lt;br /&gt;Yang tangannya terluka demi suami tercinta&lt;br /&gt;Yang dari rahimnya lahir mujahid-mujahid mulia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku takjub dengan Handzalah&lt;br /&gt;Yang menyambut seruan dengan gagah&lt;br /&gt;Meskipun harus merelakan malam zafaf nan indah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, aku terobsesi dengan mereka&lt;br /&gt;Yang menjadikan keluarga sebagai pijakan pertama&lt;br /&gt;Tuk membangun peradaban dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta mereka tak mengikis cinta kepada Tuhannya&lt;br /&gt;Kasih mereka tak menghalangi untuk saling melepas menuju medan jihad nan mulia&lt;br /&gt;Sayang mereka menjadikan nasihat sebagai perekat keduanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Alloh berkenan menyatukan mereka di dalam surga&lt;br /&gt;Dan semoga Alloh berkenan memberiku kekuatan untuk mengikuti jejak mereka yang mulia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="selengkapnya"&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;br /&gt;Ternate masih pagi, 29052007 &lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-662176591639902602?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/662176591639902602/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=662176591639902602&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/662176591639902602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/662176591639902602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/05/cinta-mereka.html' title='Cinta Mereka'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-8664654236092423097</id><published>2007-05-20T13:48:00.000+07:00</published><updated>2007-06-06T20:36:51.873+07:00</updated><title type='text'>Nostalgia</title><content type='html'>&lt;em&gt;Kepada para mahasiswa&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Yang merindukan kejayaan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kepada rakyat yang kebingungan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Di persimpangan jalan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="selengkapnya"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kepada pewaris peradaban&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Yang telah menggoreskan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sebuah catatan kebanggaan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Di lembar sejarah manusia&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;span class="selengkapnya"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wahai kalian yang rindu kemenangan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wahai kalian yang turun ke jalan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Demi mempersembahkan jiwa dan raga&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;untuk negeri tercinta&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Semoga belum terlambat kalau saya senandungkan bait perjuangan yang pernah menggelora 9 tahun lalu itu. Bait yang berhasil menggoyahkan tirani dan membuahkan awal perubahan bagi negeri ini. Yah... hanya sekedar nostalgia terhadap romantisme perjuangan masa lalu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-8664654236092423097?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/8664654236092423097/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=8664654236092423097&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/8664654236092423097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/8664654236092423097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/05/nostalgia.html' title='Nostalgia'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-2967145060753566013</id><published>2007-05-08T13:51:00.000+07:00</published><updated>2007-05-08T14:30:09.282+07:00</updated><title type='text'>Dirottul Muqoffa</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Mata saya gerimis ketika kemarin membaca berita tentang Durottul Muqoffa. Anda tau siapa dia? Dia adalah bocah berumur 8 tahun yang kemarin menjadi kafilah terkecil yang mewakili Jawa Tengah di cabang tartil golongan anak-anak puteri di MTQ Nasional XXI Kendari, Sulawesi Tenggara. Satu hal yang membuat saya tak henti-hentinya memuji kebesaran Alloh, dia adalah seorang hafidzoh Saudara-saudara. Bahkan dia sudah mampu menghafal 30 juz al qur’an ketika usianya baru 6 tahun. Subhanalloh…&lt;br /&gt;&lt;span class="selengkapnya"&gt;&lt;br /&gt;Wajah saya serasa ditampar hebat dengan berita ini. Anak 6 tahun yang umumnya masih doyan bermain dan menangis, sudah mampu menghafal ayat-ayat yang jumlahnya enam ribu lebih! Sedangkan saya? Masih berkutat dengan juz 30 yang serasa begitu sulit untuk direkam dalam memori otak saya. Hiks…! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak pelajaran yang saya ambil dari Dik Ova (nama panggilan Durottul Muqoffa) ini. Dengan kuasa Alloh, telah dibuktikan bahwa Al Qur’an akan tetap terjaga sampai akhir zaman kelak. Tidak ada satu kitab sucipun yang memungkinkan untuk dihafal huruf demi huruf kecuali Al Qur’an. Bahkan oleh anak kecil sekalipun! Ingat, Imam Syafi’I menjadi Hafidz ketika beliau berumur 10 tahun. Dan rata-rata ulama terkenal kita sudah mampu menghafal Al Qur’an dalam usia sangat dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ke dua, keluarga adalah madrasah pertama bagi anak. Keluarga juga merupakan ladang da’wah pertama dan utama bagi pasangan suami istri. Kedua orang tua Ova adalah juga hafidz dan hafidzoh. Kondisi ini memungkinkan Ova untuk berkembang lebih cepat dari anak sebayanya. Betapa kualitas hidup orang tua sedikit banyak akan berpengaruh pada kualitas anak mereka. Dan keberhasilan Ova menjadi salah satu bukti bahwa orang tua mereka menjadikan keluarganya sebagai ladang da’wah, selain amal da’wah mereka di masyarakat tentunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;( Al Furqaan:1)&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, saya jadi ingat dengan salah satu binaan semasa di kampus, yang bercerita bahwa ibunya adalah hafidzoh 20 juz. Dan semasa kecil senandung yang keluar dari mulut ibunya ketika menemani bermain, bukan senandung nyanyian nina bobo sebagaimana anak-anak lainnya. Tapi senandung itu adalah lantunan Surat Al Baqoroh. Makanya, ketika ia SD, ia sudah hafal Surat Al Baqoroh yang berjumlah 286 ayat tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;( Al Hijr:9)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dik Dirottul Muqoffa, semoga Alloh menjagamu dan menjadikanmu Mujahidah yang istiqomah dalam menda’wahkan dan mengajarkan Al Qur’an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Sebaik-baik manusia adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya”&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-2967145060753566013?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/2967145060753566013/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=2967145060753566013&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/2967145060753566013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/2967145060753566013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/05/dirottul-muqoffa.html' title='Dirottul Muqoffa'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-3521640321236634341</id><published>2007-05-06T13:11:00.000+07:00</published><updated>2007-05-20T13:06:56.909+07:00</updated><title type='text'>Pengen Nikah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#cc33cc;"&gt;Gundah nampak begitu jelas di wajah seorang Ibu tatkala suatu pagi putri kesayangannya mengungkapkan keinginannya lewat telepon. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#cc33cc;"&gt;"&lt;em&gt;Bu, ijinkan kakak untuk berumah tangga ya Bu? Kakak ingin menggenapkan separuh dien kakak&lt;/em&gt;", Suara anaknya memelas seakan mengharapkan suatu yang amat sangat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;color:#cc33cc;"&gt;&lt;span class="selengkapnya"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="selengkapnya"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#cc33cc;"&gt;"&lt;em&gt;Engkau masih terlalu muda nak... Apa kau tak ingin menikmati dulu masa mudamu? Tak inginkah kau merasakan jerih payahmu selama ini? Tak inginkah kau menikmati dulu gajimu dari pekerjaan yang baru kau dapat itu?&lt;/em&gt;", jawab sang ibu berusaha untuk menyanggah keinginan putrinya tanpa menyakiti hatinya. Ya, perasaan anaknya adalah perasaannya. Ketika perasaan putrinya sakit, sakit pulalah perasaannya. Sungguh, penolakannya hanya karena rasa sayang semata kepada anaknya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;"Kakak sudah 22 tahun Bu... Sudah cukup dewasa untuk menentukan jalan hidup sendiri. Kakak merasa sudah memerlukan pendamping hidup. Yang akan membagi beban yang kakak rasa. Yang akan melindungi kakak di kala kakak terancam. Yang akan mengingatkan kakak ketika kakak mulai tersesat." &lt;/em&gt;Sang anak mencoba mengingatkan Ibunya kalau dirinya bukan lagi bayi kecil sebagaimana 22 tahun silam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;"Tak cukupkah ibu sebagai pendampingmu Nak...?"&lt;/em&gt; Sang Ibu kembali mencoba memberi pengertian kepada putri sulungnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;"Ibu juga membutuhkanmu. Ibu juga butuh tempat untuk berbagi beban hidup. Dan kamulah tempat selama ini ibu bercerita."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;"Ibu, tahukah ibu kalau menikah merupakan perintah agama? Ketika kakak menikah, kakak ingin melaksanakan sunnah Baginda yang mulia. Kakak ingin menjaga diri kakak. Kakak tidak ingin seperi anak-anak muda lain yang mengumbar nafsu mereka lewat pacaran, atau apapun namanya. Kakak takut terjerumus pada dosa Bu..."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;"Ketika kakak menikah, bukan berarti kakak ingin meninggalkan Ibu... bukan berarti kakak ingin meninggalkan tanggungjawab terhadap adik-adik. Insya Alloh tidak Bu... Bakti kakak kepada Ibu-Bapak insya Alloh tidak akan luntur oleh pernikahan ini kelak. Dan kakak juga akan selalu siap menjadi tempat berbagi untuk ibu...Ibu tidak akan kehilangan kakak. Tidak sama sekali. Kakak berjanji Bu"&lt;/em&gt; Sang anak berusaha menjelaskan dengan menahan tangis, meskipun sesekali terdengar juga isaknya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;"Apa kau sudah mantap dengan keputusanmu Nak...?"&lt;/em&gt; Hati sang Ibu mulai luluh dengan kesungguhan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;"Insya Alloh"&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;"Kenalkan dia pada Ibu Bapak Nak. Kebahagiaanmu, kebahagiaan kami. Insya Alloh Ibu ijinkan."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#cc33cc;"&gt;&lt;br /&gt;Gampang amat ya minta ijin nikah? Kekekekeke &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-3521640321236634341?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/3521640321236634341/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=3521640321236634341&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/3521640321236634341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/3521640321236634341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/05/pengen-nikah.html' title='Pengen Nikah'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-7907475261424672278</id><published>2007-04-21T05:32:00.001+07:00</published><updated>2008-12-10T15:00:24.576+07:00</updated><title type='text'>Wanita</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;Wanita....&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Dia mempunyai kekuatan mempesona laki-laki&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Dia dapat mengatasi beban bahkan melebihi laki-laki&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Dia mampu tersenyum bahkan saat hatinya menjerit &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="selengkapnya"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, bahkan tertawa saat ketakutan&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Dia berkorban demi orang yang dicintainya&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Mampu berdiri melawan ketidakadilan&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Dia tidak menolak kalau melihat yang lebih baik&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Dia menerjunkan dirinya untuk keluarganya&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Dia membawa temannya yang sakit untuk berobat&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Cintanya tanpa syarat&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Dia girang dan bersorak saat melihat kawannya tertawa&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Dia begitu bahagia mendengar kelahiran&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Hatinya begitu sedih mendengar berita sakit dan kematian&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Tetapi dia selalu punya kekuatan untuk mengatasi hidup&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Hanya ada satu hal yang kurang dari wanita:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;(KADANG) DIA LUPA BETAPA BERHARGANYA DIA.....&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Setangkai mawar untuk kalian, para wanita...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RisCmHVo04I/AAAAAAAAAEQ/DQBEh1xG7kI/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5056137860481602434" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RisCmHVo04I/AAAAAAAAAEQ/DQBEh1xG7kI/s320/images.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;Lili (Mama Katya)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;salam hangat dari jinju,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;pak nawir,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;disadur dari sebuah milis...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-7907475261424672278?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/7907475261424672278/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=7907475261424672278&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/7907475261424672278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/7907475261424672278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/04/wanita.html' title='Wanita'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RisCmHVo04I/AAAAAAAAAEQ/DQBEh1xG7kI/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-1206599058748091119</id><published>2007-04-14T14:57:00.000+07:00</published><updated>2008-12-10T15:00:25.273+07:00</updated><title type='text'>Semoga Kita Masih Ingat....</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RiCU2y2JOWI/AAAAAAAAADQ/xZjmhHmPHrQ/s1600-h/fil11.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5053202450992413026" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RiCU2y2JOWI/AAAAAAAAADQ/xZjmhHmPHrQ/s320/fil11.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hanya Sekedar Mengingatkan Kita Semua... &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span class="selengkapnya"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RiCUqC2JOVI/AAAAAAAAADI/JO4fT2FSIxQ/s1600-h/tekme.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5053202231949080914" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RiCUqC2JOVI/AAAAAAAAADI/JO4fT2FSIxQ/s320/tekme.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Semoga Kita Tidak &lt;strong&gt;Buta&lt;/strong&gt; Terhadap Kejadian Itu...&lt;/p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RiCUcS2JOUI/AAAAAAAAADA/aOdIPeB2UFQ/s1600-h/31filist.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RiCURi2JOTI/AAAAAAAAAC4/kxF6eq64eGo/s1600-h/26filist.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5053201811042285874" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RiCURi2JOTI/AAAAAAAAAC4/kxF6eq64eGo/s320/26filist.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Semoga Kita Tidak &lt;strong&gt;Tuli&lt;/strong&gt; Terhadap Jeritan Itu....&lt;/p&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RiCT8C2JORI/AAAAAAAAACo/Omm-Ck6sfjI/s1600-h/21filist.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RiCT8C2JORI/AAAAAAAAACo/Omm-Ck6sfjI/s1600-h/21filist.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RiCUIS2JOSI/AAAAAAAAACw/jWmqdy0PASc/s1600-h/24mar02.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RiCT8C2JORI/AAAAAAAAACo/Omm-Ck6sfjI/s1600-h/21filist.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5053201441675098386" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RiCT8C2JORI/AAAAAAAAACo/Omm-Ck6sfjI/s320/21filist.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RiCUIS2JOSI/AAAAAAAAACw/jWmqdy0PASc/s1600-h/24mar02.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RiCURi2JOTI/AAAAAAAAAC4/kxF6eq64eGo/s1600-h/26filist.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="left"&gt;Semoga Kita Tidak &lt;strong&gt;Bisu&lt;/strong&gt; untuk Meneriakkan Kata Perjuangan Itu.... &lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RiCWIy2JOYI/AAAAAAAAADg/VBrdnmjr1tk/s1600-h/fil8.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RiCVzS2JOXI/AAAAAAAAADY/HMueTKGbRjA/s1600-h/asker.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RiCasS2JObI/AAAAAAAAAD4/uKkjp2hq-rc/s1600-h/4.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5053208867673553330" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RiCasS2JObI/AAAAAAAAAD4/uKkjp2hq-rc/s320/4.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Semoga Kita Masih &lt;strong&gt;Punya Nurani&lt;/strong&gt; untuk&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Sekedar Menghadiahi Doa Bagi Orang-orang Itu!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;gambar diambil dari &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;a href="http://tragedipalestina.com"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;tragedi palestina.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-1206599058748091119?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/1206599058748091119/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=1206599058748091119&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/1206599058748091119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/1206599058748091119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/04/semoga-kita-masih-ingat.html' title='Semoga Kita Masih Ingat....'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RiCU2y2JOWI/AAAAAAAAADQ/xZjmhHmPHrQ/s72-c/fil11.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-1392196532610445962</id><published>2007-04-06T15:02:00.001+07:00</published><updated>2008-12-10T15:00:25.943+07:00</updated><title type='text'>Sistem dan Watak</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RhYVhcpx-bI/AAAAAAAAACQ/NNHuTGT8av0/s1600-h/STPDN.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5050247696513890738" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RhYVhcpx-bI/AAAAAAAAACQ/NNHuTGT8av0/s320/STPDN.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Masih inget dengan Wahyu Hidayat? Seorang mahasiswa STPDN (sekarang IPDN) yang meninggal 4 tahun lalu di kampusnya. Kalau gak inget, aku ingatkan deh, mumpung perhatian publik lagi menyorot (lagi) kampus plat merah itu.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;spanclass="fullspot"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="selengkapnya"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;4 Tahun yang lalu, kita dikejutkan (&lt;em&gt;atau lebih tepatnya disadarkan&lt;/em&gt;) dengan kematian Wahyu Hidayat yang meninggal setelah mendapatkan "pembina&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;sa&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;an" yang dilakukan oleh senior-seniornya di IPDN. Waktu itu publik langsung menyorot habis-habisan kampus yang ada di Jatinangor itu. Hampir semua orang angkat bicara, tentu sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Bahkan waktu itu kampusku juga sempat kena getahnya ketika beberapa kalangan menyorot keefektifan Sekolah Kedinasan di Indonesia dan mengusulkan untuk menghapus Perguruan Tinggi Kedinasan dari sistem pendidikan di Indonesia. Intinya, rekasi publik begitu keras pada waktu itu karena ternyata diketahui bahwa kematian Wahyu Hidayat hanyalah puncak gunung es yang kelihatan. Tercatat mulai 1994 telah begitu banyak mahasiswa calon pegawai Depdagri itu yang meninggal dengan sebab yang tidak jelas. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nah, sebuah solusi cukup jitu sebenarnya telah dilakukan oleh lembaga STPDN untuk memutus mata rantai kekerasan di kalangan mahasiswanya. Dengan memisahkan junior dan senior dalam jarak ratusan kilometer. Mahasiswa baru angkatan 2004 ditempatkan di Kampus Institut Ilmu Pemerintahan yang ada di Cilandak, sedangkan mahasiswa lama tetap di Jatinangor. Seperti itu kurang lebih, kalau memoriku masih bener.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi siapa sangka, 4 tahun kemudian seorang korban lagi muncul. Cliff Muntu, mahasiswa asal Manado kembali mengalami nasib serupa yang seharusnya tidak terjadi. Dia meninggal setelah mendapat "pembinaan" dari senior-seniornya. Sampai tulisan ini dibuat (&lt;em&gt;cie, kayak wartawan aja&lt;/em&gt;), udah ada 5 tersangka yang dijerat dengan pasal pengeroyokan oleh polisi. 4 diantaranya sudah dipecat dari IPDN. Dan ternyata senior yang menganiaya Cliff Muntu itu adalah angkatan 2004 yang SEHARUSNYA tidak mengenal kekerasan terhadap junior, karena seperti tadi aku bilang, mata rantai kekerasan itu -konon- diputus tahun 2004. Tapi ternyata, rantai itu tetap kokoh, dan lagi-lagi meminta tubal seorang anak bangsa.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Terus terang, sampai di sini, kembali muncul pertanyaan yang sudah sekian lama mengendap dalam benakku, dan sampai sekarang belum terjawab. Kalau itu terjadi (dan ternyata memang terjadi), apa yang salah? &lt;strong&gt;Watak manusianya, atau sistemnya?&lt;/strong&gt; Seperti yang diungkap oleh Ustadz Anis Matta dalam buku "Membangun Peradaban", ternyata kita tidak bisa melepaskan diri dari dua hal tersebut. Sehebat apapun sistem yang dibuat oleh manusia, tidak akan bisa berjalan dengan baik apabila watak manusianya yang masih amburadul. Ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz berhasil memakmurkan separuh dunia hanya dalam waktu 2,5 tahun, apakah itu semata-mata karena sistemnya yang baik? Tidak. Tidak mungkin seorang khalifah mampu membangun sebuah sistem yang begitu memukau dalam waktu hanya 2,5 tahun. Apalagi kita juga tahu bahwa sebelum beliau memerintah, sistem pemerintah Islam adalah daulah, yang seringkali tidak mampu memberikan pemimpin yang baik, apalagi sistem yang baik. Lalu apa yang membuat Khalifah Umar bin Abdul Azis mampu mencapai rekor mencengangkan itu? Jawabannya adalah "WATAK"! Watak pemimpin yang begitu zuhud terhadap kilau dunia. Watak pemimpin yang begitu amanah terhadap apa yang ada dalam genggamannya. Watak pemimpin yang selalu takut kepada Alloh. Seperti doa (alm)KH Rahmat Abdullah -&lt;em&gt;semoga ALloh merahmati beliau&lt;/em&gt;- sewaktu deklarasi Partai Keadilan tahun 1998. "&lt;em&gt;Berikan kami pemimpin berhati lembut bagai Nabi yang menangis dalam sujud malamnya tak henti menyebut kami, ummati ummati, ummatku ummatku. Pemimpin bagai para khalifah yang rela mengorbankan semua kekayaan demi perjuangan. Yang rela berlapar-lapar agar rakyatnya sejahtera. Yang lebih takut bahaya maksiat daripada lenyapnya pangkat dan kekayaan Ya ALLAH, dengan kasih sayang-Mu". &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Itulah, makanya aku hanya tertawa dan mengejek (&lt;em&gt;dalam hati tentunya&lt;/em&gt;) ketika seorang Kepala Seksi (waktu aku masih magang di Jawa) bilang, "&lt;em&gt;Saya akan jadi orang idealis kalau besok sudah kerja di KPP Modern. Gak akan lagi nerima duit-duit gak jelas. Cukuplah semoga gaji yang gede itu. Sebenernya saya juga gak tega ngasih makan anak-anak dengan duit gak jelas. Tapi kalau sekarang idealis, ya saya kere...&lt;/em&gt;" Ya, kita doakan semoga beliau ingat dengan cita-cita "mulia"nya itu. Tapi apakah keimanan itu bisa direncanakan? Atau keimanan itu seperti gerak refleks, yang akan muncul ketika kita dalam bahaya? Jawabannya "TIDAK". Keimanan ibarat cermin yang harus kita gosok setiap saat agak tidak buram. Dan keimanan itulah yang akan menentukan "watak" kita sebenarnya. Dan "watak" itulah yang juga menentukan berapa derajat keimanan kita.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketika kita tadi membicarakan "watak", maka otomatis tidak akan bisa lepas dari "iman". Dan ketika kita membicarakan "iman" maka niscaya akan berhubungan juga dengan "Bagaimana kita mengungkapkan iman itu?". Aku baru saja menerima imel dari seorang ukhti, teman perjuangan sewaktu SMU dulu, lewat milis Rohis SMU. Isinya tentang muhasabah. Muhasabah yang kadang terlewatkan oleh kita. Sekarang mari kita tanya pada diri kita sendiri...&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Bagaimana Kabar sholat malam kita? Amal-amal yaumiyah kita....., bagaimana kabarnya? Kabar hati kita?&lt;br /&gt;Sesekali perlu bagi kita untuk melakukan usbu' ruhiy.... sebelum bertebaran di muka bumi... ada baiknya kita mengokohkan ruhiyah kita kembali.... tidak selamanya kita menangis, dan tidak selamanya kita tertawa terbahak-bahak. .. tapi bagaiamana dinamisasi tersebut juga bisa mendinamisasi diri kita untuk bisa selalu dan selalu menjadi kuat....karena sesungguhnya, Allah lah tempat kembali kita dan Ia lah pula yang menjadi sandaran hati kita, baik suka maupun duka...." &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;Kalau kita bercita-cita untuk "ANTI KORUPSI SAMPAI MATI!", maka jangan harap cita-cita itu akan terlaksana kalau kita jauh dari Alloh. Kalau kita bercita-cita ingin mengembangkan da'wah di daerah, seharusnya kita malu kalau keimanan kita masih sebatas minimal, dan amalan kita masih sebatas karena mutaba'ah pekanan. Makanya, kita latih iman kita untuk membentuk watak kita yang akhirnya akan turut menentukan sistem yang akan berlaku di lingkungan, bahkan negara kita. &lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"&lt;em&gt;Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.&lt;/em&gt; &lt;em&gt;Mereka itu adalah orang-orang yang &lt;strong&gt;bertobat&lt;/strong&gt;, yang &lt;strong&gt;beribadah&lt;/strong&gt;, yang &lt;strong&gt;memuji (Allah)&lt;/strong&gt;, yang melawat, yang &lt;strong&gt;rukuk&lt;/strong&gt;, yang &lt;strong&gt;sujud&lt;/strong&gt;, yang &lt;strong&gt;menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar&lt;/strong&gt; dan yang &lt;strong&gt;memelihara hukum-hukum Allah&lt;/strong&gt;. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu."&lt;/em&gt; (At Taubah 111-112) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Allohu a'lam&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ternate, 18 robiul Awal 1428 H /&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-1392196532610445962?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/1392196532610445962/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=1392196532610445962&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/1392196532610445962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/1392196532610445962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/04/sistem-dan-watak-renungan-dari-ipdn.html' title='Sistem dan Watak'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RhYVhcpx-bI/AAAAAAAAACQ/NNHuTGT8av0/s72-c/STPDN.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-1589658721790638113</id><published>2007-04-03T14:36:00.000+07:00</published><updated>2007-05-20T13:33:23.228+07:00</updated><title type='text'>Pilpres Ndeso</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Cuaca sangat cerah hari ini. Mentari seakan merasakan semangatku untuk mengarungi hari terakhir ayyamul bidh di bulan Robi’ul Awal ini. Jam 7.15. Akupun udah siap-siap berangkat ke kantor. Memang sih, selalu belum ada orang kalau aku datang jam segini. Tapi, aku selalu berusaha untuk amanah terhadap apa yang ada pada diriku. Termasuk pekerjaan. Belum sampai depan kamar, langkahku terhenti ketika suara khas keluar dari HPku. Ibuku telpon. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;span class="selengkapnya"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;"Assalamu’alaikum…” &lt;span class="fullspot"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Wa’alaikum salam… kok gak pernah nelpon? Kenapa? Sakit?”&lt;br /&gt;Ibuku langsung memberondong pertanyaan yang membuatku geli&lt;br /&gt;“Lho, bukannya baru dua hari yang lalu terakhir telpon?”&lt;br /&gt;“He..he.. iya ya? Kok rasanya udah lama banget ya?”&lt;br /&gt;Aku hanya tersenyum&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Gimana Nak? Sehat ‘kan?”&lt;br /&gt;“Alhamdulillah Bu, gimana Bapak-Ibu dan adek-adek? Eh Chacha udah bangun belum bu? Kangen nih..”&lt;br /&gt;“Di sini kan baru jam 5 lebih. Kamu tahu sendiri kan, adekmu yang kecil itu paling susah disuruh bangun pagi?”&lt;br /&gt;“Oiya, Nak. Di kampung lagi ramai nih. Mau Pilkades. Bapakmu jadinya kebawa-bawa deh.”&lt;br /&gt;“Lho, emang kenapa?” tanyaku penasaran&lt;br /&gt;“Ya kan yang maju jadinya empat orang. Salah satunya Pak Yanto, jamaah Mushollanya bapak. Nah, calon lain langsung musuhin Bapak. Mereka ngira, Bapak yang ada di belakang majunya Pak Yanto. Padahal kamu tahu sendiri, yang tiga orang itu masih saudara kita, lha kok malah Bapak ndukung Pak Yanto yang bukan siapa-siapa kita”&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Aku hanya tersenyum. Aku tahu, Pak Yanto adalah kader da’wah di kampungku. Ketua DPRa malah. Dan aku tahu juga kalau Pak Yanto maju jadi calon Kepala Desa atas permintaan bapak. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Biar ada kekuatan penyeimbang, Mas Yanto”, kata beliau.&lt;br /&gt;Sejak mengenal da’wah yang dikenalkan oleh murid-murid ngaji beliau yang mengaku kader Partai Da’wah, bapak memang lebih care dengan masalah politik. Dan tak terkecuali "politik ndeso" seperti ini. Akupun sadar, ada banyak resiko sebenarnya ketika Bapak ikut-ikutan ngurusin "PilPres Desa". Statusnya sebagai Kyai di kampung mungkin saja akan sedikit terusik. Bisa jadi popularitasnya akan hancur sebagaimana seorang da’i sekian umat yang –konon- salah langkah dalam berpolitik. Tapi kadang, mau tak mau pilihan itu harus diambil. Karena kalau tidak, masyarakat tidak punya pilihan untuk memilih pemimpin yang amanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halo, kok diem aja?”&lt;br /&gt;“Eh, iya Bu..” Suara ibuku di seberang menghancurkan lamunanku.&lt;br /&gt;“Temenmu yang Polisi itu mau nikah lho bentar lagi… Dapat Polwan, anaknya Pak Camat katanya.”&lt;br /&gt;“Oiya? Kapan Bu?” Tanyaku antusias. Yang dimaksud ibuku adalah si Didi, teman kecilku dulu yang baru saja lulus Akpol.&lt;br /&gt;“Belum tahu. Kamu sendiri gimana? Udah jadi dapat belum? Pokoknya ibu hanya minta satu hal dari calonmu nanti ya?”&lt;br /&gt;“Apa itu Bu?”&lt;br /&gt;“Ibu ingin mantu ibu nanti orang Jawa. Kalau gak bisa wong jowo, pokoknya dari Pulau Jawa lah minimal.”&lt;br /&gt;“Eee.. tapi Bu?”&lt;br /&gt;“Udah, katanya PKS jaringannya banyak. Pasti gak sulit to, PKS Ternate nyariin kader PKS yang dari Jawa? Wis yo? Mau masak dulu nih... Assalamu’alaikum…”&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ibu pun menutup telponnya sambil menyisakan keraguan dalam hatiku.&lt;br /&gt;“Harus orang jawa?” &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-1589658721790638113?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/1589658721790638113/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=1589658721790638113&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/1589658721790638113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/1589658721790638113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/04/pilpres-ndeso.html' title='Pilpres Ndeso'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-2413226479682753174</id><published>2007-04-01T13:15:00.000+07:00</published><updated>2008-12-10T15:00:26.405+07:00</updated><title type='text'>Pra Nikah (Sebuah Evaluasi)</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/Rg9Sq1342xI/AAAAAAAAAB0/wyKv8sQ5gqM/s1600-h/mawar.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5048344603275090706" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/Rg9Sq1342xI/AAAAAAAAAB0/wyKv8sQ5gqM/s320/mawar.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kemarin, sewaktu asyik blogwalking, tiba-tiba nemu cerpen di blog &lt;a href="http://4lfi.blogspot.com/" target="_blank" rel="nofollow"&gt;4lfi.blogspot. com &lt;/a&gt;milik ikhwah di Aceh yang bikin aku senyum-senyum sendiri. Kenapa senyum-senyum sendiri? Hmm, aku rasa gak gak perlu berbagi di sini. Biar aku dan Alloh saja yang tahu. Tapi juga jangan coba-coba untuk menebak lho ya..? Karena aku yakin kemungkinan besar tebakan antum akan salah. Berikut aku copy pastekan cerpennya ya? Tapi belum minta ijin nih? Gak papa lah, toh udah dishare di milis FLP juga...:)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;MENGAPA SAYA SELALU DITOLAK BANG? &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa saya selalu ditolak Bang?" Bibirnya, membiarkan kekecewaan yang terekspresikan begitu nyata. Ia membuang pandangan pada kendaraan yang lalu lalang di hadapan kami. Aku masih diam mengamati nafasnya yang naik turun.&lt;br /&gt;"Jodoh itu sulit sekali ditemukan. Ini yang ketiga Bang," tambahnya lagi. Kali ini matanya menghujam ke arahku. Dan aku yakin masih ada gumpalan yang bersembunyi di balik tubuhnya yang kekar. Ekspresiku tidak berubah membiarkan ia nyaman adalah pilihan yang tepat.&lt;br /&gt;"Lalu?" Tanyaku bijak.&lt;br /&gt;"Saya ingin cooling down dulu," katanya menyerup sisa teh yang tinggal seperempat.&lt;br /&gt;"Alasannya kali ini ditolak?" Tanyaku hati-hati&lt;br /&gt;"Biasalah bang, alasan primordial," ia memainkan selang teh botol menghindari tatapanku.&lt;br /&gt;"Karena saya belum selesai kuliah," jawabnya seakan-akan tanpa beban.&lt;br /&gt;"Dari awal saya sudah merasakan," lanjutnya&lt;br /&gt;"Tapi saya masih ingin ada harapan, karena saya merasa sangat cocok dengannya,"&lt;br /&gt;"Akhwatnya juga menurut saja apa kata orang tuanya, saya fikir sang akhwat dapat memperjuangkan saya di hadapan keluarganya, "&lt;br /&gt;"Inikah takdir saya selalu gagal dan kecewa?" Tanyanya sambil menarik nafas. Aku tersenyum saat ia mulai ngejudge diri sendiri.&lt;br /&gt;"Abang tahu, what should you do next," kataku memberi kekuatan.&lt;br /&gt;"Lihat kamu, Insya Allah you will find Mrz Right, hanya saja untuk mendapatkan yang terbaik Allah masih menyimpannya di satu tempat yang juga khusus. Dan kamu diuji dulu sebelum bertemu dengannya," lagi-lagi aku memberi keyakinan. Karena memang inilah yang dapat kulakukan pada adik binaanku ini.&lt;br /&gt;"It's oke, jika kamu ingin istirahat dulu sementara, tapi ingat! jangan lama-lama karena bunga-bunga itu sedang bermekaran dan banyak sekali yang ingin memetiknya," aku mencoba mencairkan suasana. Ia menyungingkan senyum, menyadari kekalahannya sendiri.&lt;br /&gt;"Iya, saya istirahat dulu, mungkin setahun baru bisa memulihkannya dan bangkit lagi," jawabnya. Aku hanya tersenyum saja, dan mengangguk. Padahal dalam hati aku tidak begitu yakin dengan ucapannya yang terakhir.&lt;br /&gt;"Makasih Bang, saya mau kuliah dulu," pamitnya. Aku mengangguk dan mengusap punggungnya. Sosok itu hilang di balik tikungan dan aku masih saja tersenyum&lt;br /&gt;"Setahun?" tanyaku dalam hati sambil geleng-geleng kepala.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;"Assalamualaikum Bang," sosok itu muncul di rumahku. Setelah menjawab salam aku mempersilahkannya duduk di teras. Kali ini wajahnya lebih ceria dari sebulan yang lalu saat ia membawa kekecewaannya.&lt;br /&gt;"Ada khabar gembira nih?" tanyaku membuka percakapan, ia mengangguk sambil mengeluarkan kertas dari dalam tasnya.&lt;br /&gt;"Saya ingin mulai proses lagi Bang," katanya yakin. Aku tersenyum dalam hati.&lt;br /&gt;"Bukannya istirahat dulu setahun?" tanyaku dengan nada bercanda. Mukanya memerah menahan malu.&lt;br /&gt;"Jadi sudah bangkit lagi nih?"&lt;br /&gt;"Nggak takut kecewa lagi?" Lanjutku, ia menggeleng.&lt;br /&gt;"Insya Allah," katanya.&lt;br /&gt;"Lalu apa yang dapat Abang Bantu?"&lt;br /&gt;"Saya sudah memutuskan," jelasnya menggantung kalimat. Aku bingung melihat reaksinya saat menyodorkan satu kertas yang berisi lima nama.&lt;br /&gt;"Maksudnya?"&lt;br /&gt;"Gini Bang, saya siap jika diproses dengan nama-nama itu,"&lt;br /&gt;"Ada lima nama akhwat yang saya rasa cocok dengan saya,"&lt;br /&gt;"Kita mulai satu per satu dulu," katanya.&lt;br /&gt;Aku masih mencoba bersikap biasa menghadapi langkahnya kali ini, karena ia sangat sensitif jika langsung terjadi penolakan. Cukup berani mengajukan lima nama sekaligus. Lalu aku membaca nama-nama yang tertera pada kertas yang sudah agak lecek seperti sudah terlalalu sering dipegang. Aku mengenal kelima nama akhwat tersebut.&lt;br /&gt;"Gimana Bang?" tanyanya antusias. Aku mengatur nafas&lt;br /&gt;"Apa tidak takut kecewa lagi?" Aku kembali bertanya. Ia mengangguk menyakinkan.&lt;br /&gt;"Kadang dalam hidup ini kita dapat merencanakan dan merancang segalanya, tapi Allahlah yang menentukanya, '&lt;br /&gt;"Memang, kita dianjurkan untuk berusaha, tapi ingat Yang di atas memiliki rencana yang terbaik untuk kita," lanjutku. Matanya tak berkedip menunggu reaksiku.&lt;br /&gt;"Jadi cara saya salah Bang?" tanyanya. Aku tersenyum dan melanjutkan.&lt;br /&gt;"Yang terpenting saat ini adalah agar kamu dapat bersikap lebih bijak dan dewasa dalam langkah dan keputusan."&lt;br /&gt;"Maksud abang apa kemungkinan untuk gagal itu ada, jika saya diproses dengan nama-nama tersebut?" tanyanya lagi.&lt;br /&gt;"Maksud saya begini, kamu harus banyak belajar dan memiliki ketetapan hati. Jangan memandang sesuatu hanya dengan mata telanjang saja,"&lt;br /&gt;"Tapi kita juga dianjurkan untuk menggunakan ini dan ini," kataku sambil menunjuk ke arah kepala dan dada.&lt;br /&gt;"Sudahkah kamu menggunakan keduanya?" tanyaku tanpa meminta jawaban. Ia masih memandang ke arahku tak berkedip.&lt;br /&gt;"Agar kita siap. Diterima maupun ditolak,"&lt;br /&gt;Ia mengangguk tanda setuju. Lalu memandang ke kertas yang kupegang.&lt;br /&gt;"Lalu gimana Bang?" tanyanya mendesak&lt;br /&gt;"Saya sudah yakin kok, Insya Allah," lanjutnya.&lt;br /&gt;"Betul nih?" tanyaku, dan ia mengangguk. Aku kembali menarik nafas.&lt;br /&gt;"Akhwat pertama dan kedua sedang dalam proses taaruf dengan ikhwan lain." Jelasku perlahan-lahan. Aku memandangnya yang terlihat agak shock. Mulutnya sedikit terbuka, tidak menyangka jika dua nama sudah gagal langsung mengubur impiannya.&lt;br /&gt;"Masih mau lanjut?" tanyaku. Ia tersenyum tanpa berkata-kata sampai akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;"Yang ketiga, untuk tahun ini belum ingin menikah karena orang tuanya belum setuju sebelum selesai kuliah," kataku. Kali ini mulutnya semakin terbuka dan diam seribu bahasa. Aku mempersilahkannya meminum teh yang dari tadi sudah dipersiapkan oleh istriku.&lt;br /&gt;"Masih mau lanjut?" tanyaku lagi. Ia tak menjawab dan tersenyum, sambil memegang dagunya yang ditumbuhi beberapa bulu yang jarang.&lt;br /&gt;"Ah… Kok bisa begini ya Bang?" ia malah bertanya.&lt;br /&gt;"Maksudnya?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Mungkin saya harus banyak belajar, menyelesaikan kuliah dan bersikap dewasa dulu ya." Jawabnya sendiri, aku mengangguk.&lt;br /&gt;"Ia sih, kata orang saya masih terlalu kekanak-kanakan untuk menikah." Jawabnya lagi.&lt;br /&gt;"Masih manja, masih berfikir singkat, dan belum mandiri," tambahnya.&lt;br /&gt;"Lalu, masih mau lanjut dengan sisa ini?"&lt;br /&gt;"Nggak berani deh bang."&lt;br /&gt;"Loh kok?"&lt;br /&gt;"Masih harus belajar lagi"&lt;br /&gt;"Cooling down lagi nih?"&lt;br /&gt;"Setahun setengah kayaknya,"&lt;br /&gt;"Kok tambah lama?"&lt;br /&gt;"Iya target wisuda setahun lagi, lalu setengah tahun cari maisyah,"&lt;br /&gt;"And then?"&lt;br /&gt;"Baru cari Aisyah," katanya tertawa terbahak-bahak.&lt;br /&gt;"So?"&lt;br /&gt;"Banyak pelajaran dari sini."&lt;br /&gt;"Yup,"&lt;br /&gt;"Doakan ya Bang,"&lt;br /&gt;"Always,"&lt;br /&gt;"Eh pamit Bang, mau kuliah ntar lagi,"&lt;br /&gt;"Iya,"&lt;br /&gt;"Assalamualaikum, "&lt;br /&gt;"Waalaikumussalam. " Jawabku.&lt;br /&gt;Aku kembali terseyum atas kejadian yang barusan. Memperhatikan dua nama yang terakhir yang diberikan, tidak mungkin untuk diproses dengannya. Karena keduanya sudah ada jadwal akad nikah dengan ikhwan lain. Sekali lagi aku hanya bisa tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;)!(&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kemarin sih sebenarnya tidak begitu ambil pusing dengan cerita seperti itu. Aku tahu, itu jamak terjadi. Tapi setelah dipikir-pikir lagi dan diskusi dengan salah satu qiyadah di Ternate, aku rasa (ini pendapat pribadi lho...) ada yang salah (atau minimal terlewat) dari materi-materi tentang munakahat yang selama ini diterima oleh para kader da'wah. Ya, mungkin ini cuma perasaan aku pribadi sih, tapi gak ada salahnya kan dibagi sama antum semua?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Selama ini apa yang terbayang ketika antum, eh kita, mayoritas kader da'wah, menyatakan diri untuk siap menikah? Kebanyakan dari kita mungkin akan berpikir seperti ini. Masukkan biodata, tunggu beberapa saat, dapat biodata lagi, taaruf bentar, khitbah, terus nikah! Begitu mudahnya. Bisa jadi tidak sampai hitungan bulan semua sudah jadi kenyataan. Benar begitu yang antum pikirkan? Atau aku sendiri ya yang berpikir seperti ini? Ah, terserahlah. Karena memang selama ini materi-materi tentang pernikahan hampir semuanya bercerita tentang yang indah-indah dan mudah dalam menikah. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dan kalau punya pikiran seperti itu memang sebenarnya tidak salah, karena Islam memang mensyariatkan pernikahan yang &lt;strong&gt;mudah&lt;/strong&gt; dan tentu saja, &lt;strong&gt;berkah&lt;/strong&gt;! Tapi terkadang idealita tidak berbanding lurus dengan realita. Seringkali dijumpai intrik-intrik yang menyebabkan pernikahan tidak semudah yang dibayangkan. Dan itu yang kadang tidak (kelupaan) dipersiapkan oleh para kader. Banyak kader yang ternyata tidak siap menjalani liku-liku pra nikah yang ternyata mereka hadapi. Menghadapi penolakan sang calon, menghadapi penolakan orang tua sang calon, etc dsb. Banyak juga yang ternyata shock setelah ujian datang bertubi-tubi. Ah, jadi teringat kata-kata seorang teman, "&lt;em&gt;Jodoh itu kan prerogratif Alloh, akh. Kalaupun niat kita sudah kuat, tapi Alloh berkehendak untuk menundanya, ya harus siap!&lt;/em&gt;" &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Oke, kalau kita sudah siap menghadapi apapun kemungkinan yang akan terjadi dalam "perjuangan" menggenapkan separuh dien kita, ada satu lagi yang menurutku sering dianggap remeh. NIAT! &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Antum tentu sudah lebih mafhum dari saya kalau niat itu merupakan awal dari sebuah amal. Nilai amal kita ditentukan pertama kali dari niat tersebut. Tapi seringkali masalah niat ini tidak mendapat perhatian khusus para bujangan dan bujangwati yang hendak menikah. Hasilnya? Banyak sekali, ups afwan, maksudku, ada beberapa kasus yang memperlihatkan seseorang terjerembab dalam jebakan syaitan yang bernama&lt;strong&gt; Pragmatisme&lt;/strong&gt;! &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di &lt;a href="http://detikhot.com/"&gt;detikhot.com&lt;/a&gt; edisi Kamis 29 Maret 2007 kalau gak salah, ditulis 9 Alasan Terburuk Melepas Lajang. Aku tidak akan mencatutnya semua, karena kurasa itu tidak relevan kalau dinisbatkan pada seorang kader. Tapi ada beberapa juga yang cocok. nah, yang cocok aja ya yang diambil?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Menikah Karena Harta&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Mungkin antum akan sedikit protes, "&lt;em&gt;Emang ada ikhwah yang nikah karena harta? Keknya gak ada deh.&lt;/em&gt;.." Coba antum perhatikan sebuah kisah nyata berikut ini...&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Pak, kalau bisa calon istri ana nanti lulusan STAN juga. Bukan apa-apa sih Pak, ana rasa kalau lulusan STAN juga, ana akan tidak lagi khawatir atas nafkahnya. Kalau istri dapat gaji juga kan pasti cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.&lt;/em&gt;.." , ucap salah seorang al Akh yang siap menikah ketika ditanya kriteria oleh Murobbynya. Dan sang murobby pun hanya senyum-senyum gak jelas mendengar syarat yang diajukan binaannya itu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tidak eksplisit memang, karena akan sangat memalukan kalau sampai eksplisit mengungkapkan menikah demi mendapatkan harta. Tapi dari cerita itu paling tidak ada sebuah "harapan" dengan menikah..."&lt;em&gt;Wah, kalau dapat istri pegawai Depkeu juga, gajinya dobel dong, pasti kaya nih...Halal lagi, he..he&lt;/em&gt;" Ada yang ngerasa? Afwan ya..? he..he..&lt;br /&gt;Eit, tapi bukan berarti tercela lho, menikah dengan sama-sama lulusan STAN... Boleh banget malahan. Asal niatnya aja...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Menikah Karena Gengsi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Ati-ati lho, kadang-kadang yang ini tidak kita sadari. Ketika teman-teman seangkatan, teman-teman sehalaqoh sudah bisa menggenapkan separuh diennya, kadang-kadang tanpa kita sadari muncul perasaan, &lt;em&gt;"Mereka aja bisa, kenapa ana nggak?"&lt;/em&gt; bagus sih, kalau ungkapan itu dalam rangka fastabiqul khoirot, tapi kadang-kadang muncul perasaan lain, "&lt;em&gt;Kalau gak cepet-cepet nikah, entar dikira gak laku lagi... Malu-maluin&lt;/em&gt;"&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Tekanan Sosial&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pernah gak ditanya seperti ini?&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Kapan nih nikahnya? Dia aja udah berani, masa antum belum.."&lt;br /&gt;"Antum nggak kongkret, ngomong doang!"&lt;br /&gt;"Ditunggu lho Mbak undangannya, jangan lupa ya..?"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dulu aku paling hobi ngisengin beberapa ikhwah dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Tapi belakangan aku mulai sadar, kalau yang ditanya atau yang diledek orangnya cuek sih gak masalah. Tapi kalau yang ditanya adalah orang yang perasa? Bisa jadi dia merasa tertekan banget dengan pertanyaan-pertanya an itu. Dan yang gak pinter-pinter jaga niat, bisa-bisa dia menikah karena bosan mendapat tekanan seperti itu. Dan hasilnya? Terjerumus pada pragmatisme "asal dapat jodoh".&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Allohu a'lam &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-2413226479682753174?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/2413226479682753174/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=2413226479682753174&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/2413226479682753174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/2413226479682753174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/04/pra-nikah-sebuah-evaluasi.html' title='Pra Nikah (Sebuah Evaluasi)'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/Rg9Sq1342xI/AAAAAAAAAB0/wyKv8sQ5gqM/s72-c/mawar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-4382285482537221664</id><published>2007-03-30T15:58:00.000+07:00</published><updated>2008-12-10T15:00:26.553+07:00</updated><title type='text'>Sandal Jepit</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/Rgzq51342wI/AAAAAAAAABs/awhbR7cJyag/s1600-h/sandal.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5047667561810418434" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/Rgzq51342wI/AAAAAAAAABs/awhbR7cJyag/s320/sandal.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Adalah mas &lt;a href="http://mbnw.blogspot.com"&gt;babu negara&lt;/a&gt; yang dari tadi rewel sama sendal yang kupake. "&lt;em&gt;Ke kantor kok pake sendal jepit to le...?&lt;/em&gt;" Dan gak cuma berhenti di situ saja. Kayaknya kekesalannya dibawa ke dunia maya juga. Liat shoutbox-ku! "&lt;em&gt;Sekarang gak malu-malu pamer ngantor pake sendal...&lt;/em&gt;" Bahkan sampai ke Banda Aceh lewat komentar di blognya mas &lt;a href="http://fazlurrahman.web.id"&gt;Fazlurrahman&lt;/a&gt;. He..2 Aku sih cuek aja. Coba kalo dia bukan Korlak plus kakak kelas, tak ajak adu argumen deh. &lt;em&gt;halah sok banget &lt;/em&gt;:(&lt;em&gt;.&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi aku senang ketika ada yang mengingatkan setiap hal kecil yang ada pada dirikuk, meskipun itu sekedar hal sepele semacam sandal jepit. Kadang, ingatan manusia begitu pendek. Bahkan lebih pendek dari arus pendek sekalipun. Sekarang diingetin, sedetik kemudian bisa lupa seakan tidak pernah mendengar kata-kata yang didengarnya tadi. Para sahabat yang agung pun mengalaminya. Mereka menangis seakan neraka di hadapan mereka, dan tertawa riang seakan surga terhidang di depan mereka ketika berbincang dalam satu majelis dengan rosululloh. Tapi keimanan luar biasa itu seakan lenyap ketika bertemu dan bermain dengan istri dan anak-anak mereka. Dan itulah yang menyebabkan Rosululloh kemudian bersabda "&lt;em&gt;Iman itu kadang naik dan kadang turun&lt;/em&gt;". &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nah, salah satu cara efektif untuk menjaga konsistensi iman itu dengan kontrol dari orang lain. Teringat suatu ketika Umar ibn Khaththab sang khalifah datang kepada para sahabat dengan wajah murung. "&lt;em&gt;Aku takut, kalian tidak akan bisa meluruskanku ketika aku berbuat kesalahan. Aku takut, kalian segan untuk menasehatiku&lt;/em&gt;". Dan apa kata sahabatnya? "&lt;em&gt;Sungguh Umar, jika kau bengkok, maka pedang ini yang akan meluruskanmu!&lt;/em&gt;" Serem dan ekstrim. Tapi begitulah kadang, kita harus diingatkan dengan cara yang ekstrim agar selamat ketika menghadapi pengadilan yang Maha Ekstrim kelak.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Berbahagialah kita ketika ada saudara yang masih sempat mengingatkan kita, karena itu bukti kecintaannya kepada kita. Berbahagialah kita kalau masih ada teman yang rewel dengan penampilan kita, karena itu bukti perhatiannya kepada kita. Sungguh, tanpa mereka, kita hanya akan menjadi seorang amnesia yang lupa akan semua hal yang akan menyelamatkan kita.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kembali ke sandal jepit! Semua orang kan butuh proses mas... Aku sanggup kalau disuruh datang tepat waktu. Aku sanggup kalau disuruh belajar untuk tidak korupsi. Aku sanggup kalau disuruh menyelesaikan semua amanah pekerjaan di kantor. Tapi plis, jangan paksa aku untuk terus pakai sepatu... Kerja terasa berat kalau memakai sepatu, dan akan terasa ringan lagi menyenangkan ketika di depan komputer kaki diangkat ke kursi sambil browsing ke sana ke mari. Dan tentu saja, tanpa sepatu!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-4382285482537221664?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/4382285482537221664/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=4382285482537221664&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/4382285482537221664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/4382285482537221664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/03/sandal-jepit.html' title='Sandal Jepit'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/Rgzq51342wI/AAAAAAAAABs/awhbR7cJyag/s72-c/sandal.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-4032270360096136659</id><published>2007-03-25T13:41:00.000+07:00</published><updated>2008-12-10T15:00:26.844+07:00</updated><title type='text'>Barokah</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RgYtfnetY7I/AAAAAAAAABY/hIdwjfO1Ewg/s1600-h/Puspowardoyo.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5045770453712200626" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RgYtfnetY7I/AAAAAAAAABY/hIdwjfO1Ewg/s320/Puspowardoyo.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ada sebuah bahasan menarik di buku barunya Mas Salim A Fillah. Dalam buku yang lain dari yang biasa ia tulis ini, ada sebuah bahasan tentang Barakah. Kalau yang punya bukunya, buka aja halaman 246. Bukan promosi lho, wong aku juga gak kecipratan royalti dari beliau.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebenarnya apa sih yang disebut dengan 'barakah'? Sering kan kita didoain, "Semoga mendapat rizky yang barokah", atau ketika menikah kita disunnahkan untuk mendoakan pengantin dengan "&lt;em&gt;Barokallohu laka&lt;/em&gt;, Semoga Alloh karuniakan barokah kepadamu, &lt;em&gt;wa baroka 'alaika&lt;/em&gt;, dan semoga ia limpahkan barokah atasmu, dst"&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kalau kata Mas Salim di bukunya, secara sederhana barokah adalah bertambahnya kebaikan dalam setiap kejadian yang kita alami waktu demi waktu. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kata Aa' Gym, masih dalam bukunya, barokah adalah kepekaan untuk bersikap benar menghadapi masalah. Atau dalam bahasa Umar Bin Khoththob ra. barokah adalah dua kendaraan yang ia tak peduli harus menunggang yang mana : &lt;em&gt;shabr&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;syukur&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Masih bingung juga? Sama, he..he.. Gampangannya gini deh. Selama ini sering kita terjebak pada budaya materialisme yang memang telah mendarah daging di masyarakat kita. Kebahagiaan seseorang diukur hanya berdasarkan sesuatu yang kasat mata. Kalau seseorang punya harta yang melimpah, mobilnya banyak, anaknya keren-keren, istrinya cantik, pasti sebagian besar masyarakat akan mengatakan, "Sungguh beruntungnya orang itu"&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Wah, jadi teringat sebuah kisah ni. Tapi maaf, hanya ingat garis besarnya saja.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Suatu ketika, Rosululloh dan para sahabat sedang berkumpul di sebuah majelis. Tiba-tiba lewat seorang dengan pakaian kumal, tampang memelas, kurus, dekil, pokoknya &lt;em&gt;melas&lt;/em&gt; banget. Setelah orang itu lewat Rosul saw bertanya pada para sahabat "Bagaimana menurut kalian orang itu?" Jawab sahabat "Dia pastilah orang susah, kalau melamar wanita pasti akan ditolak". &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tidak lama setelah itu lewat lagi seorang laki-laki dengan pakaian bagus, tampang perlente, dan penampilan yang mempesona. Rasul saw bertanya lagi kepada para sahabat "Sekarang, bagaimana menurut kalian tentang orang itu?" Kemudian para sahabat menjawab, " Dia pastilah orang yang bahagia, banyak harta, kalau meminang seorang gadis pasti akan diterima". Mendengar jawaban sahabatnya, Rasul Mulia bersabda, "Sesungguhnya orang pertama tadi lebih baik dari orang kedua, bagaikan langit dengan bumi". Lho, kok? Iya, karena nilai seseorang tidak diukur hanya dengan apa yang tampak oleh mata, tapi lebih dari itu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;"&lt;em&gt;Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan bukakan atas mereka pintu-pintu barakah dari lagit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya&lt;/em&gt;." (Al A'raaf 96)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Itulah, barokah bersumber dari dua hal, iman dan taqwa. Tidak selain itu. Dan di saat apapun barokah itu akan membawa kebahagiaan. karena seperti kata Umar tadi, orang yang diberi barokah akan selalu mempunyai dua sifat, &lt;em&gt;shabr&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;syukur&lt;/em&gt;. Kalau orang sudah mempunyai dua sifat itu, maka apa lagi yang bisa membuatnya tidak bahagia?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nah, kalau kita sudah mengetahui apa itu barokah, mulai sekarang seharusnya kita berusaha untuk memperoleh barokah itu. Mencari rizky dengan cara yang akan membawa kita ke barokah. Mencari istri dengan cara yang akan membawa kita ke barokah. Dan mengerjakan apapun dengan cara yang akan membawa kita ke barokah. Karena sekali lagi, barokah itu akan membawa kebahagiaan. Di saat apapun. Barokah itu membawa senyum meski air mata menitik-nitik. Barokah itu menyinarkan kecerahan, meski gerimis di mata kadang tak tertahankan. Dan barokah akan selalu membuat kita belajar menilai sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang &lt;em&gt;shabr&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;syukur&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Barokah!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-4032270360096136659?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/4032270360096136659/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=4032270360096136659&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/4032270360096136659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/4032270360096136659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/03/barokah.html' title='Barokah'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RgYtfnetY7I/AAAAAAAAABY/hIdwjfO1Ewg/s72-c/Puspowardoyo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-7837663280851285349</id><published>2007-03-25T11:34:00.000+07:00</published><updated>2008-12-10T15:00:26.991+07:00</updated><title type='text'>Budidaya Malu Dikikis Habis Gerakan Syahwat Merdeka</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RgYFO3etY6I/AAAAAAAAABQ/IDWTsU9LmUo/s1600-h/Taufik+Ismail.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5045726185484280738" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RgYFO3etY6I/AAAAAAAAABQ/IDWTsU9LmUo/s320/Taufik+Ismail.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Sebenernya ini tulisan sudah agak lama... Tapi semoga aja belum basi...&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Seperti biasa, Pak Taufik Ismail berkata dengan cara sederhana tapi penuh makna dan mengena&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Karena tidak untuk diperjualbelikan, dan dengan harapan bisa menambah kesadaran kita akan keadaan yang terjadi di negeri kita, maka saya memberanikan diri untuk meng&lt;em&gt;copy paste&lt;/em&gt; tulisan beliau...&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;Perlawanan Sastra Taufiq Ismail di IPB&lt;/strong&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, Taufiq Ismail berbicara dihadapan dosen-dosen IPB. Makalah yangbeliau baca sama dengan pidato Taman Ismail Marzuki yaitu : 'Budaya Maludikikis Gerakan syahwat Merdeka'. Di penghujung pidatonya tadi, beliau mengusap airmatanya, sedih melihat kondisi yang terjadi. Saya lampirkantulisan beliau yang dahsyat menyentak kita semua:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Budidaya Malu Dikikis Habis Gerakan Syahwat Merdeka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pidato Kebudayaan Taufiq Ismail&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sederetan gelombang besar menggebu-gebu menyerbu pantai Indonesia, naik ke daratan, masuk ke pedalaman. Gelombang demi gelombang ini datang susun-bersusun dengan suatu keteraturan, mulai 1998 ketika reformasi meruntuhkan represi 39 tahun gabungan zaman Demokrasi Terpimpin dan Demokrasi Pembangunan, dan membuka lebar pintu dan jendela Indonesia. Hawa ruangan yang sumpek dalam dua zaman itu berganti dengan kesegaran baru. Tapi tidak terlalu lama, kini digantikan angin yang semakin kencang dan arus menderu-deru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan berbicara, berpendapat, dan mengeritik, berdiri-menjamurnya partai-partai politik baru, keleluasaan berdemonstrasi, ditiadakannya SIUPP (izin penerbitan pers), dilepaskannya tahanan politik, diselenggarakannya pemilihan umum bebas dan langsung, dan seterusnya, dinikmati belum sampai sewindu, tapi sementara itu silih berganti beruntun-runtun belum terpecahkan krisis yang tak habis-habis. Tagihan rekening reformasi ternyata mahal sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahana yang datang terlambat dari benua-benua lain itu menumbuh dan menyuburkan kelompok permissif dan addiktif negeri kita, yang sejak 1998 naik daun. Arus besar yang menderu-deru menyerbu kepulauan kita adalah gelombang sebuah gerakan syahwat merdeka. Gerakan tak bersosok organisasi resmi ini tidak berdiri sendiri, tapi bekerjasama bahu-membahu melalui jaringan mendunia, dengan kapital raksasa mendanainya, ideologi gabungan yang melandasinya, dan banyak media massa cetak dan elektronik jadi pengeras suaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Siapakah komponen gerakan syahwat merdeka ini?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PERTAMA&lt;/strong&gt; adalah praktisi sehari-hari kehidupan pribadi dan kelompok dalam perilaku seks bebas hetero dan homo, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. Sebagian berjelas-jelas anti kehidupan berkeluarga normal, sebagian lebih besar, tak mau menampakkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KEDUA&lt;/strong&gt;, penerbit majalah dan tabloid mesum, yang telah menikmati tiada perlunya SIUPP. Mereka menjual wajah dan kulit perempuan muda, lalu menawarkan jasa hubungan kelamin pada pembaca pria dan wanita lewat nomor telepon genggam, serta mengiklankan berbagai alat kelamin tiruan (kue pancong berkumis dan lemper berbaterai) dan boneka karet perempuan yang bisa dibawa bobok bekerjasama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KETIGA&lt;/strong&gt;, produser, penulis skrip dan pengiklan acara televisi syahwat. Seks siswa dengan guru, ayah dengan anak, siswa dengan siswa, siswa dengan pria paruh baya, siswa dengan pekerja seks komersial ---- ditayangkan pada jam prime time, kalau pemainnya terkenal. Remaja berseragam OSIS memang menjadi sasaran segmen pasar penting tahun-tahun ini. Beberapa guru SMA menyampaikan keluhan pada saya. "Citra kami guru-guru SMA di sinetron adalah citra guru tidak cerdas, kurang pergaulan dan memalukan." Mari kita ingat ekstensifnya pengaruh tayangan layar kaca ini. Setiap tayangan televisi, rata-rata 170.000.000 yang memirsa. Seratus tujuh puluh juta pemirsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KEEMPAT&lt;/strong&gt;, 4,200,000 (empat koma dua juta) situs porno dunia, 100,000 (seratus ribu) situs porno Indonesia di internet. Dengan empat kali klik di komputer, anatomi tubuh perempuan dan laki-laki, sekaligus fisiologinya, dapat diakses tanpa biaya, sama mudahnya dilakukan baik dari San Francisco, Timbuktu, Rotterdam mau pun Klaten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pornografi gratis di internet luarbiasa besar jumlahnya. Seorang sosiolog Amerika Serikat mengumpamakan serbuan kecabulan itu di negaranya bagaikan "gelombang tsunami setinggi 30 meter, dan kami melawannya dengan dua telapak tangan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Singapura, Malaysia, Korea Selatan situs porno diblokir pemerintah untuk terutama melindungi anak-anak dan remaja. Pemerintah kita tidak melakukan hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KELIMA&lt;/strong&gt;, penulis, penerbit dan propagandis buku syahwat ¼ sastra dan ½ sastra. Di Malaysia, penulis yang mencabul-cabulkan karyanya penulis pria. Di Indonesia, penulis yang asyik dengan wilayah selangkang dan sekitarnya mayoritas penulis perempuan. Ada kritikus sastra Malaysia berkata: "Wah, pak Taufiq, pengarang wanita Indonesia berani-berani. Kok mereka tidak malu, ya?" Memang begitulah, RASA MALU ITU YANG SUDAH TERKIKIS, bukan saja pada penulis-penulis perempuan aliran s.m.s. (sastra mazhab selangkang) itu, bahkan lebih-lebih lagi pada banyak bagian dari bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KEENAM&lt;/strong&gt;, penerbit dan pengedar komik cabul. Komik yang kebanyakan terbitan Jepang dengan teks dialog diterjemahkan ke bahasa kita itu tampak dari kulit luar biasa-biasa saja, tapi di dalamnya banyak gambar hubungan badannya, misalnya (bukan main) antara siswa dengan Bu Guru. Harganya Rp 2.000. Sebagian komik-komik itu tidak semata lucah saja, tapi ada pula kadar ideologinya. Ideologinya adalah anjuran perlawanan pada otoritas orangtua dan guru, yang banyak aturan ini-itu, termasuk terhadap seks bebas.&lt;br /&gt;Dalam salah satu komik itu saya baca kecaman yang paling sengit adalah pada Menteri Pendidikan Jepang. Tentu saja dalam teks terjemahan berubah, yang dikecam jadinya Menteri Pendidikan Nasional kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KETUJUH&lt;/strong&gt;, produsen, pengganda, pembajak, pengecer dan penonton VCD/DVD biru.&lt;br /&gt;Indonesia kini jadi sorga besar pornografi paling murah di dunia, diukur dari kwantitas dan harganya. Angka resmi produksi dan bajakan tidak saya ketahui, tapi literatur menyebut antara 2 juta - 20 juta keping setahun.Harga yang dulu Rp 30.000 sekeping, kini turun menjadi Rp 3.000, bahkan lebih murah lagi. Dengan biaya 3 batang rokok kretek yang diisap 15 menit, orang bisa menonton sekeping VCD/DVD biru dengan pelaku kulit putih dalam 6 posisi selama 60 menit. Luarbiasa murah. Anak SD kita bisa&lt;br /&gt;membelinya tanpa risi tanpa larangan peraturan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang peneliti mengabarkan bahwa di Jakarta Pusat ada murid-murid laki-laki yang kumpul dua sore seminggu di rumah salah seorang dari mereka,lalu menayangkan VCD-DVD porno. Sesudah selesai mereka onani bersama-sama. Siswa sekolah apa, dan kelas berapa? Siswa SD, kelas lima. Tak diceritakan apa ekses selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KEDELAPAN&lt;/strong&gt;, fabrikan dan konsumen alkohol. Minuman keras dari berbagai merek&lt;br /&gt;dengan mudah bisa diperoleh di pasaran. Kemasan botol kecil diproduksi, mudah masuk kantong celana, harga murah, dijual di kios tukang rokok di depan sekolah, remaja dengan bebas bisa membelinya. Di Amerika dan Eropa batas umur larangan di bawah 18 tahun. Negeri kita pasar besar minuman keras, jualannya sampai ke desa-desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KESEMBILAN&lt;/strong&gt;, produsen, pengedar dan pengguna narkoba. Tingkat keterlibatan Indonesia bukan pada pengedar dan pengguna saja, bahkan kini sampai pada derajat produsen dunia. Enam juta anak muda Indonesia terperangkap sebagai pengguna, ratusan ribu menjadi korbannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KESEPULUH&lt;/strong&gt;, fabrikan, pengiklan dan pengisap nikotin. Korban racun nikotin 57.000 orang / tahun, maknanya setiap hari 156 orang mati, atau setiap 9 menit seorang pecandu rokok meninggal dunia. Pemasukan pajak 15 trilyun (1996), tapi ongkos pengobatan berbagai penyakit akibatnya 30 trilyun rupiah.&lt;br /&gt;Mengapa alkohol, narkoba dan nikotin termasuk dalam kategori kontributor arus syahwat merdeka ini? Karena sifat addiktifnya, kecanduannya, yang sangat mirip, begitu pula proses pembentukan ketiga addiksi tersebut dalam susunan syaraf pusat manusia. Dalam masyarakat permissif, interaksi antara seks dengan alkohol, narkoba dan nikotin, akrab sekali, sukar dipisahkan.Interaksi ini kemudian dilengkapi dengan tindak kriminalitas&lt;br /&gt;berikutnya, seperti pemerasan, perampokan sampai pembunuhan. Setiap hari berita semacamini dapat dibaca di koran-koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KESEBELAS&lt;/strong&gt;, pengiklan perempuan dan laki-laki panggilan. Dalam masyarakat permissif, iklan semacam ini menjadi jembatan komunikasi yang diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KEDUABELAS&lt;/strong&gt;, germo dan pelanggan prostitusi. Apabila hubungan syahwat suka-sama-suka yang gratis tidak tersedia, hubungan dalam bentuk perjanjian bayaran merupakan jalan keluarnya. Dalam hal ini prostitusi berfungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KETIGABELAS&lt;/strong&gt;, dokter dan dukun praktisi aborsi. Akibat tujuh unsur pertama di atas, kasus perkosaan dan kehamilan di luar pernikahan meningkat drastis. Setiap hari dapat kita baca kasus siswa SMP/SMA memperkosa anak SD, satu-satu atau rame-rame, ketika papi-mami tak ada di rumah dan pembantu pergi ke pasar berbelanja. Setiap ditanyakan apa sebab dia/mereka memperkosa, selalu dijawab 'karena terangsang sesudah menonton&lt;br /&gt;VCD/DVD biru dan ingin mencobakannya.' Praktisi aborsi gelap menjadi tempat pelarian,&lt;br /&gt;bila kehamilan terjadi. Seorang peneliti dari sebuah universitas di Jakarta menyebutkan bahwa angka aborsi di Indonesia 2,2 juta setahunnya. Maknanya setiap 15 detik seorang&lt;br /&gt;calon bayi di suatu tempat di negeri kita meninggal akibat dari salah satu atau gabungan ketujuh faktor di atas. Inilah produk akhirnya. Luar biasa destruksi sosial yang diakibatkannya.&lt;br /&gt;Dalam gemuruh gelombang gerakan syahwat merdeka ini, pornografi dan pornoaksi menjadi bintang panggungnya, melalui gemuruh kontroversi pro-kontra RUU APP.&lt;br /&gt;Karena satu-dua-atau beberapa kekurangan dalam RUU itu, yang total kontra menolaknya, tanpa sadar terbawa dalam gelombang gerakan syahwat merdeka ini.&lt;br /&gt;Tetapi bisa juga dengan sadar memang mau terbawa di dalamnya. Salah satu kekurangan RUU itu, yang perlu ditambah-sempurnakan adalah perlindungan bagi anak-cucu kita, jumlahnya 60 juta, terhadap kekerasan pornografi. Dalam hiruk pikuk di sekitar RUU ini, terlupakan betapa dalam usia sekecil itu 80% anak-anak 9-12 tahun terpapar pornografi, situs porno di internet naik lebih sepuluh kali lipat, lalu 40% anak-anak kita yang lebih dewasa sudah melakukan hubungan seks pra-nikah. Sementara anak-anak diAmerika Serikat dilindungi oleh 6 Undang-undang, anak-anak kita belum, karena undang-undangnya belum ada. KUHP yang ada tidak melindungi mereka karena kunonya. Gelombang Syahwat Merdeka yang menolak total RUU ini berarti menolak melindungi anak-cucu kita sendiri. Gerakan tak bernama tak bersosok organisasi ini terkoordinasi bahu-membahu menumpang gelombang masa reformasi mendestruksi moralitas dan&lt;br /&gt;tatanan sosial. Ideologinya neo-liberalisme, pandangannya materialistik, disokong kapitalisme jagat raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menguji Rasa Malu Diri Sendiri&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Seorang pengarang muda meminta pendapat saya tentang cerita pendeknya yang dimuat di sebuah media. Dia berkata, "Kalau cerpen saya itu dianggap pornografis, wah, sedihlah saya." Saya waktu itu belum sempat membacanya. Tapi saya kirimkan padanya pendapat saya mengenai pornografi. Begini. Misalkan saya menulis sebuah cerpen. Saya akan mentes, menguji karya saya itu lewat dua tahap. Pertama, bila tokoh-tokoh di dalam karya saya itu saya ganti dengan ayah, ibu, mertua, isteri, anak, kakak atau adik saya; lalu kedua, karya itu saya bacakan di depan ayah, ibu, mertua, isteri, anak, kakak, adik, siswa di kelas sekolah, anggota pengajian masjid, jamaah gereja; kemudian saya tidak merasa malu, tiada dipermalukan, tak canggung, tak risi, tak muak dan tidak jijik karenanya, maka karya saya itu bukan karya pornografi.&lt;br /&gt;Tapi kalau ketika saya membacakannya di depan orang-orang itu saya merasa malu, dipermalukan, tak patut, tak pantas, canggung, risi, muak dan jijik, maka karya saya itu pornografis.&lt;br /&gt;Hal ini berlaku pula bila karya itu bukan karya saya, ketika saya menilai karya orang lain. Sebaliknya dipakai tolok ukur yang sama juga, yaitu bila orang lain menilai karya saya. Setiap pembaca bisa melakukan tes tersebut dengan cara yang serupa. Pendekatan saya adalah pengujian rasa malu itu. Rasa malu itu yang kini luntur dalam warna tekstil kehidupan bangsa kita, dalam terlalu banyak hal.&lt;br /&gt;Sebuah majalah mesum dunia dengan selaput artistik, Playboy, menumpang taufan reformasi dan gelombang liberalisme akhirnya terbit juga di Indonesia. Majalah ini diam-diam jadi tempat pelatihan awal onani pembaca Amerika, dan kini, beberapa puluh tahun kemudian, dikalahkan internet, sehingga jadilah publik pembaca Playboy dan publik langganan situs porno internet Amerika masturbator terbesar di dunia. Majalah pabrik pengeruk keuntungan dari kulit tubuh perempuan ini, mencoba menjajakan bentuk eksploitasi kaum Hawa di negeri kita yang pangsa pasarnya luarbiasa besarini. Bila mereka berhasil, maka bakal berderet antri masuk lagi majalah anti-tekstil di tubuh perempuan dan fundamentalis-syahwat-merdeka seperti Penthouse, Hustler, Celebrity Skin, Cheri, Swank, Velvet, Cherry Pop, XXX Teens dan seterusnya.&lt;br /&gt;Untuk mengukur sendiri rasa malu penerbit dan redaktur Playboy Indonesia, saya sarankan kepada mereka melakukan sebuah percobaan, yaitu mengganti model 4/5 telanjang majalah itu dengan ibu kandung, ibu mertua, kakak, adik, isteri dan anak perempuan mereka sendiri. Saran ini belum berlaku sekarang, tapi kelak suatu hari ketika Playboy Indonesia keluar perilaku aslinya dalam masalah ketelanjangan model yang dipotret. Sekarang mereka masih malu-malu kucing. Sesudah dibuat dalam edisi dummy, promosikan foto-foto itu itu di 10 saluran televisi dan 25 suratkabar. Bagaimana? Berani? Malu atau tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan lain yang dapat dipakai juga adalah menduga-memperkirakan-mengingat akibat yang mungkin terjadi sesudah orang membaca karya pornografis itu. Sesudah seseorang membaca, katakan cerpen yang memberi sugesti secara samar-samar terjadinya hubungan kelamin, apalagi kalau dengan jelas mendeskripsikan adegannya, apakah dengan kata-kata indah yang dianggap sastrawi atau kalimat-kalimat brutal, maka pembaca akan terangsang.&lt;br /&gt;Sesudah terangsang yang paling penakut akan onani dan yang paling nekat akan memperkosa. Memperkosa perempuan dewasa tidak mudah, karena itu anak kecil jadi sasaran. Perkosaan banyak terjadi terhadap anak-anak kecil masih bau susu bubuk belum haid yang di rumah sendirian karena papi-mami pergi kerja, pembantu pergi ke pasar, jam 9-10 pagi. Anak-anak tanggung pemerkosa itu, ketika diinterogasi dan ditanya kenapa, umumnya bilang karena sesudah menonton VCD porno mereka terangsang ingin mencoba sendiri. Merayu orang dewasa takut, mendekati perempuan-bayaran tidak ada uang. Kalau diteliti lebih jauh kasus yang sangat banyak ini (peneliti yang rajin akan bisa mendapat S-3 lewat tumpukan guntingan koran), mungkin saja anak itu juga pernah membaca cerita pendek, puisi, novel atau komik cabul.&lt;br /&gt;Akibat selanjutnya, merebak-meluaslah aborsi, prostitusi, penularan penyakit kelamin gonorrhoea, syphilis, HIV-AIDS, yang meruyak di kota-kota besar Indonesia berbarengan dengan akibat penggunaan alkohol dan narkoba yang tak kalah destruktifnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Akibat Sosial Ini Tak Pernah Difikirkan Penulis&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Semua rangkaian musibah sosial ini tidak pernah difikirkan oleh penulis cerpen-puisi-novelis erotis yang umumnya asyik berdandan dengan dirinya sendiri, mabuk posisi selebriti, ke sana disanjung ke sini dipuji, tidak pernah bersedia merenungkan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh tulisannya. Sejumlah cerpen dan novel pasca reformasi sudah dikatakan orang mendekati VCD/DVD porno tertulis. Maukah mereka membayangkan, bahwa sesudah sebuah cerpen atau novel dengan rangsangan syahwat terbit, maka beberapa ratus atau ribu pembaca yang terangsang itu akan mencontoh melakukan apa yang disebutkan dalam alinea-alinea di atas tadi, dengan segala rentetan kemungkinan yang bisa terjadi selanjutnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Destruksi sosial yang dilakukan penulis cerpen-novel syahwat itu, beradik-kakak dengan destruksi yang dilakukan produsen-pengedar-pembajak-pengecer VCD/DVD porno, beredar (diperkirakan) sebanyak 20 juta keping, yang telah meruyak di masyarakat kita, masyarakat konsumen pornografi terbesar dan termurah di dunia. Dulu harganya Rp 30.000 sekeping, kini Rp 3.000, sama murahnya dengan 3 batang rokok kretek. Mengisap rokok kretek 15 menit sama biayanya dengan memiliki dan menonton sekeping VCD/DVD syahwat sepanjang 6o menit itu. Bersama dengan produsen alkohol, narkoba dan nikotin, mereka tidak sadar telah menjadi unsur penting pengukuhan masyarakat permissif-addiktif serba-boleh-apa-saja-genjot, yang dengan bersemangat melabrak apa yang mereka anggap tabu selama ini, berpartisipasi meluluh-lantakkan moralitas anak bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perzinaan yang Hakekatnya Pencurian adalah Ciri Sastra Selangkang&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya sesudah mendapatkan korannya, saya membaca cerpen karya penulis yang disebut di atas. Dalam segi teknik penulisan, cerpen itu lancar dibaca. Dalam segi isi sederhana saja, dan secara klise sering ditulis pengarang Indonesia yang pertama kali pergi ke luar negeri, yaitu pertemuan seorang laki-laki di negeri asing dengan perempuan asing negeri itu. Kedua-duanya kesepian. Si laki-laki Indonesia lupa isteri di kampung. Di akhir cerita mereka berpelukan dan berciuman. Begitu saja. Dalam interaksi yang kelihatan iseng itu, cerpenis tidak menyatakan sikap yang jelas terhadap hubungan kedua orang itu. Akan ke mana hubungan itu berlanjut, juga tak eksplisit. Apakah akan sampai pada hubungan pernikahan atau perzinaan, kabur adanya.&lt;br /&gt;Perzinaan adalah sebuah pencurian. Yang melakukan zina, mencuri hak orang lain, yaitu hak penggunaan alat kelamin orang lain itu secara tidak sah. Pezina melakukan intervensi terhadap ruang privat alat kelamin yang dizinai. Dia tak punya hak untuk itu. Yang dizinai bersekongkol dengan yang melakukan penetrasi, dia juga tak punya hak mengizinkannya. Pemerkosa adalah perampok penggunaan alat kelamin orang yang diperkosa. Penggunaan alat kelamin seseorang diatur dalam lembaga pernikahan yang suci adanya. Para pengarang yang terang-terangan tidak setuju pada lembaga pernikahan, dan/atau melakukan hubungan kelamin semaunya, yang tokoh-tokoh dalam karyanya diberi peran syahwat merdeka, adalah rombongan pencuri bersuluh sinar rembulan dan matahari. Mereka maling tersamar. Mereka celakanya, tidak merasa jadi maling, karena (herannya) ada propagandis sastra menghadiahi mereka glorifikasi, dan penerbit menyediakan gratifikasi. Propagandis dan penerbit sastra semacam ini, dalam istilah kriminologi, berkomplot dengan maling.&lt;br /&gt;Hal ini berlaku bukan saja untuk karya (yang dianggap) sastra, tapi juga untuk bacaan turisme, rujukan tempat hiburan malam, dan direktori semacam itu. Buku petunjuk yang begitu langsung tak langsung menunjukkan cara berzina, lengkap dengan nama dan alamat tempat berkumpulnya alat-alat kelamin yang dapat dicuri haknya dengan cara membayar tunai atau dengan kartu kredit gesekan.&lt;br /&gt;Sastra selangkang adalah sastra yang asyik dengan berbagai masalah wilayah selangkang dan sekitarnya. Kalau di Malaysia pengarang-pengarang yang mencabul-cabulkan karya kebanyakan pria, maka di Indonesia pengarang sastra selangkang mayoritas perempuan. Beberapa di antaranya mungkin memang nymphomania atau gila syahwat, hingga ada kritikus sastra sampai hati menyebutnya "vagina yang haus sperma". Mestinya ini sudah menjadi kasus psikiatri yang baik disigi, tentang kemungkinannya jadi epidemi, dan harus dikasihani. Bila dua abad yang lalu sejumlah perempuan Aceh, Jawa dan Sulawesi Selatan naik takhta sebagai penguasa tertinggi kerajaan, Sultanah atau Ratu dengan kenegarawanan dan reputasi terpuji, maka di abad 21 ini sejumlah perempuan Indonesia mencari dan memburu tepuk tangan kelompok permissif dan addiktif sebagai penulis sastra selangkang, yang aromanya jauh dari wangi, menyiarkan bau amis-bacin kelamin tersendiri, yang bagi mereka parfum sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dengan Ringan Nama Tuhan Dipermainkan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 1971-1972, ketika saya jadi penyair tamu di Iowa Writing Program, Universitas Iowa, di benua itu sedang heboh-hebohnya gelombang gerakan perempuan. Kini, 34-an tahun kemudian, arus riaknya sampai ke Indonesia. Kaum feminis Amerika waktu itu sedang gencar-gencarnya mengumumkan pembebasan kaum perempuan, terutama liberasi kopulasi, kebebasan berkelamin, di koran, majalah, buku dan televisi.&lt;br /&gt;Menyaksikan penampilan para maling hak penggunaan alat kelamin orang lain itu di layar kaca, yang cengengesan dan mringas-mringis seperti Gloria Steinem dan semacamnya, banyak orang mual dan jijik karenanya. Mereka tidak peduli terhadap epidemi penyakit kelamin HIV-AIDS yang meruyak menyebar seantero Amerika Serikat waktu itu, menimpa baik orang laki-laki maupun perempuan, hetero dan homoseksual, akibat kebebasan yang bablas itu.&lt;br /&gt;Di setasiun kereta api bawah tanah New York, seorang laki-laki korban HIV-AIDS menadahkan topi mengemis. Belum pernah saya melihat kerangka manusia berbalut kulit tanpa daging dan lemak sekurus dia itu. Sinar matanya kosong, suaranya parau.&lt;br /&gt;Kematian banyak anggota kelompok ini, terutama di kalangan seniman di tahun 1970-an, tulis seorang esais, bagaikan kematian di medan perang Vietnam. Sebuah orkestra simfoni di New York, anggota-anggotanya bergiliran mati saban minggu karena kejangkitan HIV-AIDS dan narkoba, akibat kebebasan bablas itu. Para pembebas kaum perempuan itu tak acuh pada bencana menimpa bangsa karena asyik mendandani penampilan selebriti diri sendiri. Saya sangat heran. Sungguh memuakkan.&lt;br /&gt;Kalimat bersayap mereka adalah, "This is my body. I'll do whatever I like with my body." "Ini tubuhku. Aku akan lakukan apa saja yang aku suka dengan tubuhku ini." Congkaknya luar biasa, seolah-olah tubuh mereka itu ciptaan mereka sendiri, padahal tubuh itu pinjaman kredit mencicil dari Tuhan, Cuma satu tingkat di atas sepeda motor Jepang dan Cina yang diobral di iklan koran-koran. Mereka tak ada urusan dengan Maha Produser Tubuh itu. Penganjur masyarakat permissif di mana pun juga, tidak suka Tuhan dilibatkan dalam urusan. Percuma bicara tentang moral dengan mereka. Dengan ringan nama Tuhan dipermainkan dalam karya. Situasi kita kini merupakan riak-riak gelombang&lt;br /&gt;dari jauh itu, dari abad 20 ke awal abad 21 ini, advokatornya dengan semangat dan stamina mirip anak-anak remaja bertopi beisbol yang selalu meniru membeo apa saja yang berasal dari Amerika Utara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ciri kolektif seluruh komponen Gerakan Syahwat Merdeka ini adalah budaya malu yang telah kikis nyaris habis dari susunan syaraf pusat dan rohani mereka, dan tak adanya lagi penghormatan terhadap hak penggunaan kelamin orang lain yang disabet-dicopet-dikorupsi dengan entengnya. Tanpa memiliki hak penggunaan kelamin orang lain, maka sesungguhnya Gerakan Syahwat Merdeka adalah maling dan garong genitalia, berserikat dengan alkohol, nikotin dan narkoba, menjadi perantara kejahatan, mencecerkan HIV-AIDS, prostitusi dan aborsi, bersuluh bulan dan matahari.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;IPB, 9 Januari 2007&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-7837663280851285349?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/7837663280851285349/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=7837663280851285349&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/7837663280851285349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/7837663280851285349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/03/budidaya-malu-dikikis-habis-gerakan.html' title='Budidaya Malu Dikikis Habis Gerakan Syahwat Merdeka'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RgYFO3etY6I/AAAAAAAAABQ/IDWTsU9LmUo/s72-c/Taufik+Ismail.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-742628710289505709</id><published>2007-03-24T17:07:00.000+07:00</published><updated>2008-12-10T15:00:27.143+07:00</updated><title type='text'>Sekilas tentang Pemuda Kita</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RgYDY3etY5I/AAAAAAAAABI/d8jiBVJWyoc/s1600-h/angsa+pacaran.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5045724158259717010" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RgYDY3etY5I/AAAAAAAAABI/d8jiBVJWyoc/s320/angsa+pacaran.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lagi nonton Padamu Negeri nih di Metro TV. Wah, udah telat 15 menit deh kayaknya. &lt;strong&gt;“Disfungsi Cameraphone, Seberapa Parahkah?”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Emang tema ini menarik ya? Mungkin. Sejak gegernya ME dan YZ yang sontak menjadi dua inisial paling populer di akhir 2006, seakan video-video gak mutu seperti itu menjadi trend di negeri ini. Mulai dari pelajar sampai PNS ketangkep membuat foto memalukan itu. Tadinya aku menganggap hal itu biasa-biasa aja. Gak pernah ambil pusing malahan. Lha wong merasa gak keganggu. Ditawarin juga belum pernah. Lihat juga belum (&lt;em&gt;semoga tidak ding&lt;/em&gt;). &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sekarang aku jadi agak care dengan masalah itu. Ternyata anak-anak jaman sekarang (&lt;em&gt;ceileh, emangnya aku anak jaman kapan?&lt;/em&gt;) terlalu parah terkontaminasi budaya esek-esek. Begitu parahnya sampai-sampai hampir dianggap tidak lazim kalau seorang anak muda tidak punya pacar. Tidak lazim kalau seorang anak muda berkomitmen untuk menjaga kesuciannya. “&lt;em&gt;Cah enom kok ra nduwe pacar to le&lt;/em&gt;?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku teringat tetanggaku di rumah nan jauh di sana... Dua dari tiga anaknya hamil sebelum menikah! Dan satu-satunya anak yang tidak hamil sebelum menikah karena memang dia tidak bisa hamil alias laki-laki! Ketika ditanya kenapa mereka nekat melakukan itu, jawabnya begitu mencengangkan, “Habisnya, aku gak bakalan diijinin buat nikah kalau belum hamil.” Nah lho...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah ngalamin juga di sebuah kota kecil di Indonesia. “Mas, udah punya pacar? Cewe sini cantik-cantik lho Mas. Kalau mas mau, tinggal pilih aja. Kan mas &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pajak"&gt;Pegawai Pajak&lt;/a&gt;. Pasti mau deh mereka... Mau serius boleh, mau tidak serius juga boleh. Coba dulu, kalau cocok, tinggal lanjut. Udah punya pacar juga gak papa, cewe sini juga pasti mau. Gimana? Mau tak cariin?” Wadaw... Pusing gue dengernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi ingat kata seorang sahabat agung, Utsman bin Affan, Radliyallohu ‘anhu. “Alangkah inginnya seorang wanita pezina, agar semua wanita pun menjadi pezina seperti dirinya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata masalahnya (&lt;em&gt;menurutku nih&lt;/em&gt;) bukan hanya salah teknologi. Artinya, kita tidak bisa menyalahkan, “Ini nih, akibat anak dikasih kamera canggih-canggih...” Tapi lebih disebabkan karena –meminjam istilahnya Pak Taufik Ismail- Budaya Malu yang telah Dikikis Habis Gerakan Syahwat Merdeka. Kita sudah tidak malu lagi ketika pacaran di tempat umum. Kita sudah tidak malu lagi ketika para tetangga tahu, menikah setelah hamil. Seorang perempuan sudah tidak malu lagi ketika tubuhnya dijamah oleh laki-laki yang dia tidak tahu apakah laki-laki itu akan jadi suaminya atau tidak. Ups, pasti ada yang protes, ”&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Gak semuanya kalee&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;...Masih ada kok yang percaya dengan ayat ini, ‘&lt;em&gt;Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat timbangan dzarrahpun akan melihatnya. Dan barang siapa mengerjakan keburukan seberat timbangan dzarrah pun akan melihatnya&lt;/em&gt;’ (&lt;em&gt;Al Zilzal 7-8&lt;/em&gt;)”. Iya, aku percaya, tapi coba lihat di sekitar kita, &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Banyak kalee&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; yang kaya gitu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Satu contoh lagi nih, yang bikin aku sempet “gedheg-gedheg” juga. “Mas, aku barusan check in lho... Di Hotel anu, sama cewek yang baru kukenal semalem.”&lt;br /&gt;“Husy, emang gak malu cerita kaya gitu di depan umum? Istighfar napa?”&lt;br /&gt;“Yee... mas, hal itu udah biasa kali di sini... Di tempat asal, pasti mas orang kuper ya? Kaya gitu kok dianggap tabu”&lt;br /&gt;Na’udzubillahi mindzalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini kok kelihatannya gak nyambung ya? Ya, sengaja, karena aku hanya ingin mengatakan, bukan (hanya) penyebaran foto dan video mesum itu yang harus kita bicarakan. Tapi lebih jauh dari itu. Moralitas pemuda di negeri kita yang harus lebih kita perhatikan! Itulah –salah satu- alasan kenapa segmen utama da’wah kita adalah pemuda, As Syabaab. Karena merekalah aset dan harapan umat di masa datang. Dan merekalah target empuk yang gampang dihancurkan oleh kaum kuffar.&lt;br /&gt;Allohu a’lam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-742628710289505709?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/742628710289505709/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=742628710289505709&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/742628710289505709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/742628710289505709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/03/sekilas-tentang-pemuda-kita.html' title='Sekilas tentang Pemuda Kita'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RgYDY3etY5I/AAAAAAAAABI/d8jiBVJWyoc/s72-c/angsa+pacaran.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-3690476501213093775</id><published>2007-03-24T12:24:00.000+07:00</published><updated>2007-03-24T12:39:38.489+07:00</updated><title type='text'>Kenyataan</title><content type='html'>&lt;div&gt;Dan kenyataan tetaplah kenyataan&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Meskipun kadang kita terlalu bodoh untuk menerima kenyataan&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tapi kenyataan tetaplah kenyataan&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dan kadang kenyataan inilah yang terbaik untuk masa depan&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dan kenyataan tetap kenyataan&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kenyataan yang telah digariskan oleh Alloh Sang Penguasa Kehidupan&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Libur2 di kantor sendirian gak jelas...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-3690476501213093775?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/3690476501213093775/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=3690476501213093775&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/3690476501213093775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/3690476501213093775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/03/kenyataan.html' title='Kenyataan'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-7771696117007143176</id><published>2007-03-21T16:13:00.000+07:00</published><updated>2007-03-21T16:24:12.758+07:00</updated><title type='text'>Imagine</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Teman, pernahkan kita membayangkan, suatu ketika di sepertiga malam terakhir, kita bermimpi ada bidadari yang mengecup kening kita? Dan ketika kita terbangun, bidadari itu ada di hadapan kita, seorang wanita nan cantik dengan balutan mukena. Terdengar suara lembutnya, "Suamiku, sholat dulu yuk...?" &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Atau teman, pernahkan kita membayangkan, rumah mungil kita selalu ramai setiap malam? Ruang tengah itu dipenuhi suara nyaring si abang yang sedang menghafal juz Amma, bersahutan dengan adiknya dengan ejaan "a ba ta"-nya dan diselingi jeritan tangis si bungsu yang terbangun ingin bergabung dengan kakak-kakaknya. Wajah mereka menjadi kerinduan selalu bagi kita. Keceriaan mereka menjadi penyemangat luar biasa bagi aktivitas kita. Dan harapan mereka menjadi harapan besar bagi masa depan kita...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan tahukah teman, siapa orang yang akan mendapatkannya? Dialah yang selalu istiqomah di jalanNya. Dan tentu saja yang menggenapkan dien, sesuai manhaj Kitabulloh, dan sunnah Rosululloh saw. Tidakkah kita ingin jadi bagian dari mereka?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:78%;"&gt;Inspirasi dari Salim A Fillah  &lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-7771696117007143176?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/7771696117007143176/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=7771696117007143176&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/7771696117007143176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/7771696117007143176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/03/imagine.html' title='Imagine'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-2537810162217344364</id><published>2007-03-18T13:21:00.001+07:00</published><updated>2007-03-18T14:30:25.626+07:00</updated><title type='text'>Catatan Perjalanan 3</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Kali ini aku bicara tentang persepsi. Persepsi yang kadang membuat orang kehilangan kepercayaan diri. Persepsi yang kadang membuat orang merasa terdzolimi. Persepsi yang kadang membuat orang merasa tersakiti. Persepsi yang kadang membuat orang tidak nyaman dengan dirinya sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingat ketika pertama kali tahu kalau aku ditugaskan di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ternate"&gt;Ternate&lt;/a&gt;. Beragam komentar pun muncul dari teman-teman maupun saudara-saudaraku. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Sabar ya mas? Insya Alloh itu yang terbaik”&lt;br /&gt;“Sabar akhi..”&lt;br /&gt;“Kok jauh amat sih penempatannya?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidak sedikit juga yang berkomentar…. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Selamat Mas, memang cocok di situ. Ternate pasti butuh banyak orang seperti mas”&lt;br /&gt;“Selamat ya…? Semoga bisa memberikan yang terbaik di sana”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ada juga yang menawari akhwat untuk dijadikan istri (halah!)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pun ketika pertama kali menginjakkan kaki di Bumi Sultan Khairun ini dan bertemu dengan senior-seniorku yang lebih dulu di sini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Kok jauh banget sih Mas?&lt;br /&gt;“Ternate itu kotanya ya kayak gini, gak ada hiburan. Paling juga Bilyard. Jadi sabar-sabarin aja kamu di sini…”&lt;br /&gt;“Barang-barang di sini mahal lho dek. Gak bakalan bisa kaya deh kalo di sini.”&lt;br /&gt;“Awas lho, di sini rawan gempa. Ati-ati aja. Tadi pagi aja ada gempa gedhe…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari itu semua. Sebenernya semua kembali pada satu hal : Persepsi!&lt;br /&gt;Nyatanya, aku mulai kerasan tinggal di sini. Nyatanya, aku merasa tidak begitu masalah dengan segala keterbatasan di sini. Nyatanya aku merasa senang karena saudara-saudara seperjuanganku ternyata banyak sekali di sini. Dan nyatanya, hamper semua yang diceritakan dan dikeluhkan kakak-kakak kelasku tidak aku rasakan.&lt;br /&gt;Sedih? Mungkin iya. Tapi itu tidak lama. Rasa itu buru-buru lenyap ketika kuinjakkan kaki di sini. Berganti dengan sebuah semangat dan harapan baru. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat". (QS. Al-Mu’minuun:29) &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-2537810162217344364?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/2537810162217344364/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=2537810162217344364&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/2537810162217344364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/2537810162217344364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/03/catatan-perjalanan-4.html' title='Catatan Perjalanan 3'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-5830145642806907094</id><published>2007-03-17T12:01:00.001+07:00</published><updated>2008-12-10T15:00:27.369+07:00</updated><title type='text'>Wanita Idamanku</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/Rfuzr1cnaVI/AAAAAAAAAA4/EyLiK1EigEk/s1600-h/akhwat+setengah.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5042821773434251602" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/Rfuzr1cnaVI/AAAAAAAAAA4/EyLiK1EigEk/s320/akhwat+setengah.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kalau aku ditawari seperti apa wanita yang akan mendampingiku. Tentu sebagai laki-laki aku ingin yang sempurna. Cantik wajahnya, bagus nasabnya, banyak hartanya, dan baik agamanya. Rakus ya? Nggak juga. Bukankah Rasululloh juga pernah berkata bahwa seorang wanita dinikahi karena empat hal tersebut? Manusiawi sekali deh kayaknya kalau aku ingin yang seperti itu. Siapa sih laki-laki yang tidak suka wanita cantik? Siapa sih orang yang tidak ingin mempunyai pendamping dari keturunan orang baik-baik? Siapa sih orang yang tidak ingin mempunyai harta untuk memenuhi kebutuhannya? Dan siapa sih orang yang tidak ingin hidup bersama orang sholeh? Apalagi wanita sholehah, sebaik-baik perhiasan dunia... Duuh...&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi ketika keinginan mendapatkan yang sempurna itu muncul, buru-buru hati kecilku berontak dan memaksa akalku mengingat siapa diriku ini. Kuambil cermin dan kulihat wajahku sendiri. Apa aku ganteng? Kata ibuku sih gitu... Menurutku sendiri juga begitu sebenarnya. Tapi selama ini jarang banget teman-teman yang bilang aku ganteng. Apalagi teman wanita. Hampir gak ada. Lalu apa aku ganteng? Kayaknya perlu diverifikasi dulu deh. Nah, kalo gitu, apakah pantas kalo ngarepin wanita cantik buat nemenin orang yang (belum tentu) ganteng kayak aku. Lagian kecantikan seseorang kan tidak menjamin bahagianya kehidupan kita to..?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku kemudian ingat-ingat siapa orang tuaku. Siapa kakek-nenekku sampai nenek buyutku (karena yang kutahu cuma sampai nenek buyutku). Apakah mereka orang baik-baik? Insya Alloh seperti itu. Tapi apakah aku dulu memilih untuk dilahirkan di tengah keluargaku ini? Tidak. Dan apakah seseorang bisa memilih dari rahim mana ia akan dilahirkan? Tentu tidak. Nah, apakah adil jika aku terlalu mementingkan nasab seseorang? &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lalu aku ambil dan kulihat isi dompetku. Halah, cuma ada beberapa lembar doang. Buku tabungan? Sama aja semakin mengkhawatirkan. Lha, kalo aku pengen dapat wanita kaya, apa aku mau jadi cowok matre yang ngandelin hidup dari istri? Bukankah kewajiban mencari nafkah ada di pundak laki-laki? Jahat banget kayaknya kalo aku mencari istri hanya karena hartanya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi aku tetep ingin punya istri sholihah... Dan yang ini jangan ditawar lagi, pliiss... &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Asalkan baik agamanya, siapapun dia. Semoga Alloh membuatnya selalu tampak cantik di mataku. Semoga Alloh memberiku kekuatan untuk membuatnya merasa hebat selayaknya putri bangsawan yang dihadiahkan seorang raja kepada seorang pangeran. Semoga Alloh menjadikan hati kami kaya, meskipun aku tidak bisa memberikan harta berlimpah padanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-5830145642806907094?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/5830145642806907094/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=5830145642806907094&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/5830145642806907094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/5830145642806907094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/03/wanita-idamanku_17.html' title='Wanita Idamanku'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/Rfuzr1cnaVI/AAAAAAAAAA4/EyLiK1EigEk/s72-c/akhwat+setengah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-6708472106971157764</id><published>2007-03-17T09:03:00.000+07:00</published><updated>2008-12-10T15:00:27.532+07:00</updated><title type='text'>KORUPSI!!! (Renungan dari Inbox)</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RftOY1cnaQI/AAAAAAAAAAM/8sZuQ_tISGw/s1600-h/korupsi.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5042710396342331650" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RftOY1cnaQI/AAAAAAAAAAM/8sZuQ_tISGw/s320/korupsi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Beberapa hari ini hampir tiap hari ada pesan yang masuk di inbox Private Message ku. Dengan masalah yang hampir sama. Degan keluhan yang hampir sama. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Akh, ana dapat amplop dari Korlak ana”. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Akh, barusan ana dikasih duit ni, gimana?”&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Akh, pernah ngalamin ini gak..?”&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Rasa senang bercampur kesedihan dan kemirisan selalu membaur menjadi satu ketika kubaca pesan-pesan dari sahabat-sahabatku itu. Senang, karena ternyata masih ada sekian banyak orang yang berhati-hati menerima sesuatu yang tidak jelas apakah termasuk haknya atau bukan. Senang karena ternyata masih banyak orang-orang yang berusaha amanah terhadap sesuatu yang dipercayakan kepada mereka. Senang karena harapan untuk perbaikan negeriku ternyata masih terbuka lebar. Tapi juga sedih dan miris karena ternyata budaya lama masih sangat mendominasi wajah perilaku birokrat di negeriku. Kadang aku hanya bisa menangis, mengadu kepada Robb ku. Ya Robb, beginikah wajah pemerintahan di negeriku? Beginikah wajah birokrasi di negeriku? Beginikah wajah abdi negara di negeriku? Beginikah wajah akhlak orang-orang yang sering mengaku sebagai murid Wali Songo? Ya Robb, berilah petunjukMu kepada kami semua…  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-6708472106971157764?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/6708472106971157764/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=6708472106971157764&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/6708472106971157764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/6708472106971157764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/03/korupsi-renungan-dari-inbox.html' title='KORUPSI!!! (Renungan dari Inbox)'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RftOY1cnaQI/AAAAAAAAAAM/8sZuQ_tISGw/s72-c/korupsi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-2919014310604491533</id><published>2007-03-13T15:28:00.000+07:00</published><updated>2007-03-18T14:37:29.272+07:00</updated><title type='text'>Melihat Kemiskinan sebagai Bencana Bisu..!</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Melihat Kemiskinan sebagai Bencana Bisu..! Begitulah kira-kira judul Editorial Media Indonesia hari ini. Ya, kita semua tahu kalau kemiskinan sudah menjadi suatu hal yang jamak terjadi di negeri kita. Tapi hanya sedikit dari kita yang (mau) tahu kalau kamiskinan ternyata sudah menjadi bencana bagi negeri ini. Selama ini kita hanya ‘bisu’ tak mampu berkata apa-apa tentang realitas yang terjadi. Selama ini kita hanya melihat “kemiskinan” sebagai urusan pribadi masing-masing. Lo miskin, gue kaya. Tidak ada hubungan (emosional) antara si miskin dan si kaya. Bahkan muncul jurang pemisah yang sangat dalam antara dua status sosial tersebut. Hampir tidak pernah terpikirkan kalau kemiskinan mereka merupakan kemiskinan negeri kita. Hampir tidak pernah terpikirkan bagaimana caranya membuat kekayaan menjadi suatu keadaan jamak di negeri ini. Menggantikan kemiskinan yang sudah mendarah daging di masyarakat. Hampir tidak pernah terpikirkan untuk menolong orang-orang yang masih miskin agar mereka dapat bangkit dari keterpurukannya. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, sebagian besar dari kita masih menganggap kemiskinan dan kekayaan adalah urusan (dan nasib) pribadi masing-masing. Termasuk kita mungkin sebagai kader da’wah. Padahal, si miskin itu sebagian adalah ummat kita, dan sudah seharusnya itu menjadi urusan jama’I ummat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi teringat pada suatu pertemuan pekanan sewaktu masih tinggal Magelang. Ketika sampai di tempat yang dijanjikan, mendadak aku kecewa karena melihat ada “orang asing” yang gabung dengan kelompokku. Sekilas, dia bukan orang yang terpelajar. Kulitnya hitam seperti terbakar terik matahari. Celana dan baju jeans nya sudah belel (sepertinya bukan karena mode, tapi memang seperti itu adanya). Rambutnya agak gondrong, sama sekali tidak rapi. Mirip-mirp pengamen, pikirku. Yang lebih menyebalkan lagi, orang itu tetap berada di situ ketika majelisku dimulai. Bahkan sewaktu Murobbyku menyampaikan materi pun orang itu masih duduk melingkar bersama kami. Sampai ketika diskusi, orang itu angkat bicara. Under estimate langsung aku tentunya. Dia mulai bicara tentang da’wah. Da’wah kita. “Hey, siapa orang ini?” Aku mulai tertarik dengan pembicaraannya. Dia terus berbicara dan berbicara, menyinggung berbagai masalah da’wah, bahkan sampai mengomentari kiprah mahasiswa. Subhanalloh, siapa orang ini? Sampai dia berhenti berbicara, Murobbyku memperkenalkannya. Namanya Mas Agus, pekerjaan sebagai pengamen dan wira usaha di Kota Solo. Dan sudah beberapa tahun ini dia ikut pengajian kita, dan berda’wah sesuai kemampuannya. Deg! Jantungku serasa berhenti mendengarnya. Ya Robb, betapa hambaMu ini telah meremehkan saudara seiman hanya karena penampilannya? Astaghfirullohal’adzim… Ampuni hambaMu yang Dloif ini ya Alloh… &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mas Agus melanjutkan bicaranya. Dia memprotes para mahasiswa yang seakan tidak pernah peduli dengan kehidupan dia dan teman-temannya. Dia memperotes para kader da’wah yang katanya mengurusi ummat, tapi sering lupa dengan “ummat” real yang ada di sekitar mereka. Dia memprotes… ah… Seakan dia menelanjangiku malam itu. Menelanjangi semua yang telah kuperbuat. Aku sering merasa telah berbuat banyak untuk da’wah ini. Membina sekian orang, menggerakkan sekian wajihah, mengkoordinir sekian aksi, dan tetek bengek lainnya yang sering membuat aku merasa “wah” sendiri! Padahal, hal kongkret apa yang sudah kulakukan untuk umat ini? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke topik! Seringkali kita sebagai kader da’wah pun melupakan sisi-sisi kongkret yang terjadi di sekitar kita. Seberapa besar frekuensi kita mengingat tetangga kita yang tidak bisa makan dengan layak? Seberapa besar frekuensi kita mengingat tetangga kita yang terjangkit gizi buruk? Seberapa besar frekuensi kita mengingat anak-anak kecil yang terpaksa putus sekolah? Dan yang penting, seberapa besar frekuensi kita untuk membantu mereka semua? Apa hanya dalam bazaar-bazaar saja? Atau kita membantu mereka ketika jadi panitia Baksos saja? Atau lebih parah, menyambangi mereka hanya waktu musim kampanye saja? Ataukah itu sudah menjadi agenda kita sehari-hari? Sekali lagi, kemiskinan sudah menjadi bencana bagi kita, dan semoga kita tidak ikut-ikutan “bisu” menghadapi bencana itu. Apalagi buta dan tuli. Semoga kita ingat, ummat kita bukan hanya yang potensial untuk diajak ke partai. Umat kita adalah semua orang yang membutuhkan keadilan dan kesejahteraan. Semoga kita bisa…. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-2919014310604491533?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/2919014310604491533/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=2919014310604491533&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/2919014310604491533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/2919014310604491533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/03/melihat-kemiskinan-sebagai-bencana-bisu.html' title='Melihat Kemiskinan sebagai Bencana Bisu..!'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-2771790682633127758</id><published>2007-03-11T18:46:00.004+07:00</published><updated>2008-12-10T15:00:27.692+07:00</updated><title type='text'>Catatan Perjalanan 2</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RfuxnlcnaSI/AAAAAAAAAAg/Tv92mxol7L0/s1600-h/images.jpeg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5042819501396551970" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RfuxnlcnaSI/AAAAAAAAAAg/Tv92mxol7L0/s320/images.jpeg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;"Dari Timur &lt;a href="http://kammi.or.id"&gt;KAMMI&lt;/a&gt; Bergerak Membangun Moralitas dan Intelektualitas Bangsa"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tulisan itu kubaca di kaos seorang pemuda saat Tatsqif DPD Kota Ternate pagi tadi. Sebuah tulisan yang memberikan kesan begitu mendalam buatku. Sebuah tulisan yang menggambarkan semangat untuk ikut membangun dari orang-orang yang sempat termarginalkan dalam pembangunan di "Masa Pembangunan". Sebuah tulisan yang mengisyaratkan keinginan "Orang Timur" untuk bangkit dari keterpurukan intelektualitas dan moralitas. Sebuah tulisan yang ingin menunjukkan bahwa mereka sama mampunya dengan para pendatang yang selama ini terkesan mendominasi berbagai sektor di wilayah ini. Dan tentu saja sebuah tulisan yang memberi kita harapan baru tentang bangsa ini. &lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dulu kukira ketertinggalan wilayah timur Indonesia hanyalah mitos yang masih perlu dibuktikan kebenarannya. Tapi setelah merasakan sendiri, aku mulai percaya. Sistem pembangunan yang menganakemaskan sebagian wilayah dan menganaktirikan wilayah lain ternyata berimplikasi sangat buruk bagi sebagian wilayah. Wilayah Timur terutama. Banyak pendatang yang mendominasi berbagai sektor kehidupan di sini. Termasuk da'wah. Bahkan aku terbiasa bicara dengan bahasa Jawa ketika ngobrol dengan ikhwah DPD maupun DPW. Karena memang banyak yang dari Jawa. Tapi setelah membaca tulisan itu muncul sebuah harapan baru agar ikhwah "pribumi" mampu memegang peranan penting di sini. Dari Timur, untuk Menda'wahi Seluruh Indonesia! &lt;strong&gt;Allohu Akbar!!!&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-2771790682633127758?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/2771790682633127758/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=2771790682633127758&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/2771790682633127758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/2771790682633127758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/03/catatan-perjalanan-2.html' title='Catatan Perjalanan 2'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_MA5efMPMvLA/RfuxnlcnaSI/AAAAAAAAAAg/Tv92mxol7L0/s72-c/images.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-6354798061179005077</id><published>2007-03-11T18:46:00.003+07:00</published><updated>2007-03-18T14:43:21.534+07:00</updated><title type='text'>Catatan Perjalanan 1</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Adisucipto 4 Maret 2007 Ba’da Subuh. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku menangis. Dalam. Air matanya sempat membasahi bahuku saat memelukku erat, seakan tak rela aku meninggalkannya. Akupun tak kuasa untuk tidak menangis di pelukan hangatnya. Ah, kapan lagi aku bisa memeluknya selama dan sehangat ini? Ayah menangis. Aku peluk dan kukecup tangannya. Tak lupa seperti biasa petuahnya mengalir mengiringi kepergianku. Adik menangis. Tak tega aku melihat wajah-wajah mungil mereka. Semua keluarga menangis. Akupun menangis. Sejenak kupalingkan wajah ke arah mereka sebelum masuk ke ruang check in. Wajah-wajah itu masih menangis. &lt;span class="fullpost"&gt;Tapi langkahku tak surut. Ya Robb, kuatkan hambaMu ini.&lt;br /&gt;Merpati itu mulai bergerak. Berjalan mencari lintasan yang tepat untuk menembus langit. Mesinnya kemudian menderu. Memekakkan telinga. Dan dalam sekejap burung itupun berhasil menembus awan, melintasi kota Gudeg yang penuh eksotisme. Membawaku sendiri. Hanya sendiri. Menuju ke tempat yang bahkan aku sendiri belum pernah membayangkannya. Tapi tidak, aku tidak sendiri. Ada Alloh yang bersamaku. Yang akan menjagaku, dan memberikan yang terbaik untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bumi Sultan Baabullah, Ba’da Dzuhur&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merpati itu masih membawaku. Terbang pelan di atas sebuah pulau nan indah. Alloh, inikah Ternate itu? Ratusan masjid terlihat megah dari atas awan, Tergambar siapa orang yang hidup di bawah sana. Segala puji bagiMu ya Alloh… Engkau telah membawaku ke tempat ini. Izinkan aku untuk memberikan yang terbaik untuk perjuangan di bumiMu ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;“Sesungguhnya setiap ikhwah, khususnya para dhu’at, bersegera menyebarkan da’wah ini di setiap tempat di mana saja, kendati harus menempuh perjalanan jauh dan penuh kesukaran”&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-6354798061179005077?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/6354798061179005077/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=6354798061179005077&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/6354798061179005077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/6354798061179005077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/03/catatan-perjalanan-1.html' title='Catatan Perjalanan 1'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-4847398854639371501</id><published>2007-03-11T18:46:00.002+07:00</published><updated>2007-03-17T10:32:42.375+07:00</updated><title type='text'>Lingkaran Kecilku...</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kuajak angan ini menelusuri jejak petualangan selama kurang lebih tiga tahun di kampus ini. Ribuan prasasti yang terukir indah berdiri kokoh di sepanjang jalan mengabadikan setiap langkahku dalam eksotisme gerak perjuangan yang kulalui. Ingin aku memungut prasasti-prasasti itu dan melukiskannya di sini, tapi entah mengapa otakku mempengarui jemariku sehingga kelu untuk melakukannya. Seakan ada satu kekuatan yang menyuruhku untuk membiarkan mereka menjadi kenangan manis yang hanya aku yang bisa menikmatinya. Akupun berusaha mengajak anganku untuk kembali bergerak menyusuri jalan yang tak mampu lagi terekam oleh minimnya kapasitas memoriku. Sampai akhirnya di penghujung jalan, kulihat sebuah tinggak yang merupakan pangkal dari semua petualangan selama ini. Sebuah tonggak yang aku ingat selalu menjadi awal pijakan kakiku dalam melangkah. Tonggak kokoh dengan warna keemasan yang disebut : “Tarbiyah”.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;Terus terang, aku selalu kesulitan memaknai kata ‘tarbiyah’ karena ia lebih dari sekedar ‘pendidikan’ seperti arti harfiahnya. Seni Membentuk Manusia (&lt;em&gt;Fannu tasykiilil insaan&lt;/em&gt;), mungkin itu kata yang tepat untuk mengartikan tarbiyah sebagaimana ditulis oleh Muhammad Quthb dalam Manhaj Tarbiyah Islamiyah. Tidak berlebihan memang. Pembentukan akal, hati, dan badan manusia bersama tarbiyah semakin hari semakin menampakkan hasil yang cukup menggembirakan meskipun bukan berarti tidak ada yang harus diperbaiki bersama. Termasuk tarbiyah di Kampus STAN yang aku rasakan. Sudah jamak cerita tentang kontribusi kader tarbiyah STAN dalam memajukan da’wah di negeri ini. Meskipun banyak komentar miring bermunculan yang menyebut kader STAN adalah kader karbitan, kader premature, atau kader yang terlalu jumud, tapi toh kader-kader karbitan yang premature dan jumud itu –dengan izin Alloh- mampu membuktikan diri mereka sebagai ujung tombak da’wah di pelosok nusantara. Mayoritas ketua (de facto) DPD dan DPW Partai Da’wah yang merupakan alumni STAN, bisa menjadi salah satu bukti nyata kontribusi mereka. Dan merupakan salah satu impian terbesarku untuk bisa bergabung dengan barisan mereka.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;Tarbiyahku dimulai dari sebuah lingkaran kecil yang muncul tiap pekan sekali dengan berbagai bentuk keistimewaan yang selalu silih berganti. Tapi aku juga mengenal tarbiyah jauh lebih dari sekedar lingkaran kecil itu. Tarbiyah bagiku adalah gabungan dari madah yang kudapat, dan aplikasi yang coba kuterapkan dalam keseharianku. Tapi tetap saja, lingkaran kecil menjadi awal dari setiap langkahku. Lingkaran kecil bagiku adalah stimulus yang “memaksaku” untuk terus bergerak seiring kerasnya persaingan pembangunan peradaban umat ini. Lingkaran kecil bagiku adalah imun yang melindungiku dari virus-virus kemaksiatan yang selalu siap menjerumuskanku ke dalam lubang kesesatan yang -kadang- aku sendiri tak tahu di mana jalan kesesatan itu. Lingkaran kecil bagiku adalah sumber perbekalan yang memberiku kekuatan untuk terus bertahan mengarungi medan perjuangan yang sering kali terasa amat melelahkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;Yup, lingkaran kecilku telah memberiku banyak pelajaran tentang arti kehidupan ini. Dan meskipun dengan tertatih, aku selalu ingin berusaha membenamkan setiap pelajaran itu dalam setiap jejak kehidupanku. &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang faham, aku memaknainya dengan berusaha mengerti Islam dan segala sesuatu yang aku jalani atas namanya. Kebanggaanku hanyalah karena kemuliaan dan kejayaannya. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang ikhlas, aku mengartikannya dengan selalu berusaha memotivasi diriku untuk terus berkarya dan memberikan setiap inchi tubuhku hanya dan hanya untukNya. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang amal, maka aku menterjemahkannya dengan berusaha memberikan kontribusi terbaikku demi kejayaan ummat yang (semoga) lebih kucintai dari diriku ini. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang jihad, akupun berusaha bersungguh-sungguh dalam setiap medan perjuangan yang harus aku lalui. Tak kupedulikan ocehan durjana yang selalu merayuku untuk mengikutinya. Tidak juga letih tubuh ini yang selalu menggodaku untuk berhenti. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang taat, maka tiada lain yang menjadi pedomanku selain Al Qur’an dan As Sunnah. Tandzim menjadi aplikasi ketaatanku pada orang-orang bertaqwa yang tertata demi kelurusan shaff barisan perjuangan suci tuk gapai sebuah cita. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang taddhiyah, maka akupun berusaha memberikan segala yang kupunya. Aku yakin, segala yang di sisiku hanyalah sesuatu yang fana, dan akan mulia ketika kuserahkan semuanya kepada Robb Semesta. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang tsabat, maka aku mengamalkannya dengan berusaha tegar terhadap segala aral menghadang. Aku yakin, tiada perjuangan yang tidak “menyakitkan”. Dan hanya istiqomah-lah, sikap terbaik untuk selalu siap menghadapinya. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang tajarrud, maka aku ingin semua titik potensiku kupersembahkan untuk da’wah ini. Aku yakin bahwa sesungguhnya aku adalah da’i sebelum predikat apapun yang melekat pada diriku. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang tsiqoh, maka aku berusaha mengesampingkan setiap prasangka yang senantiasa menusuk pikiranku. Kubalut sikap percayaku dengan iman suci penuh keyakinan pada Allah, Rasul, Islam, dan qiyadah da’wah yang bertaqwa. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang ukhuwah, akupun belajar untuk berbagi dengan saudara-saudaraku dan mengikat hati dalam tautan cinta untuk taat kepadaNya. Semoga Allah menghimpun hati para da’i dalam cinta-Nya, yang berjumpa karena taat kepada-Nya, melebur satu dalam dakwah ke jalanNya, dan saling berjanji untuk menolong syariat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;Itulah lingkaran kecilku. Lingkaran yang selalu memberi inspirasi bagiku. Lingkaran yang tak pernah berhenti membawaku berkelana menyusuri lorong-lorong gelap kehidupan menuju cahaya Alloh yang selalu menerangi kehidupanku. Lingkaran yang telah menempatkanku pada komunitas orang-orang sholeh yang berkomitmen untuk memperbaiki diri dan berkontribusi dalam setiap kebaikan. Lingkaran yang telah menjadikan Alloh sebagai satu-satunya tujuan hidupku, Muhammad sebagai panutan langkahku, Qur’an menjadi panduan gerakku, jihad dan syahid tak ayal menjadi jalan dan cita tertinggiku. Semoga Alloh merahmati orang-orang yang berhimpun dalam kecintaan kepadaNya, dan menjadikan diri ini bagian dari khalifah para penghuni surga abadiNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Yaa muqollibal quluub&lt;br /&gt;Tsabbit quluubana ‘ala diinika wa tho’atika&lt;br /&gt;Yaa muqollibal quluub&lt;br /&gt;Tsabbit quluubana ‘ala da’watika fii sabiilika &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-4847398854639371501?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/4847398854639371501/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=4847398854639371501&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/4847398854639371501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/4847398854639371501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/03/lingkaran-kecilku.html' title='Lingkaran Kecilku...'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-4768608421499470930</id><published>2007-03-11T18:46:00.001+07:00</published><updated>2007-03-14T14:38:05.674+07:00</updated><title type='text'>Evaluasi Singkat tentang Da'wah Keluarga</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Suatu hari setelah potong rambut aku meluncur ke warnet langgananku. Biasanya setelahbeberapa hari tidak ngenet, ada beberapa message dan friend request yangmenunggu untuk kubuka atau kukabulkan. Benar saja, setelah login ke imel yahoo ada beberapa imel yang masuk. Sebagian merupakan imel nggak penting karena darifriendster maupun milis yang dari judul subjectnya saja aku bisa memutuskan untuk tidak perlu membukanya. Tapi ada satu imel dari temanku semasa di kampus dulu. Cukup panjang juga imel ini. Karena dikejar bill dan waktu kubaca imelitu dengan eye scanning. Ternyata dia mengomentari salah satu tulisanku dimilisyang mengajak teman-teman untuk segera berubah. Dia ‘sambat’, enak sekali bagiteman-teman yang bisa mendapatkan suasana baru, baik di rumah, di kantor,maupun di lingkungan yang baru. Sedangkan dia, sekarang ‘ditahan’ di kampus untuk menghandle beberapa amanah tarbawiyah yang masih saja diamanahkan kepadanya. Sebenarnya tidak ada yang menarik (bagiku) dari cerita temanku itu.Dari semenjak kuliah, dia memang dikenal cukup jago menangani beberapa amanahdi berbagai wajihah di kampus. Jadi aku tidak heran kalau sampai lulus pun diamasih diperbantukan untuk menangani masalah-masalah kampus. Tapi tiba-tiba akujadi teringat materi yang kubahas sama teman-teman pengajian semalam. “DakwahKeluarga”. Ya, aku jadi berpikir, masuk dalam prioritas nggak ya keluargamereka dalam target da’wah teman-temanku yang sekarang masih “ditahan” dikampus? Padahal, bisa jadi mereka tidak akan punya waktu lagi untuk berlama-lama pulang kampung karena kesibukan diklat, penempatan, kerja, dll.Ah, semoga teman-temanku tidak seperti beberapa kader di sebuah Kota Pelajaryang dieritakan oleh salah satu sahabatku. Konon ada beberapa kader dikota itu yang engganpulang ke kampung halamannya selepas kuliah. Mereka beralasan, kondisi keluargadi rumah sangat tidak kondusif untuk da’wah. Bisa-bisa kalau mereka pulang,maka mereka akan futur karena tidak tahan terhadap kondisi dan tekanan darikeluarga di rumah. Bahkan ada beberapa dari mereka yang menikah sebagai jalan untuk melarikan diri dari kenyataan bahwa keluarga mereka belum kondusif.. Astaghfirullahal'adziim&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;)!( &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tidak dapat dipungkiri, ada banyak sekali kader da’wah yang berasal dari keluarga yangbelum mengenal da’wah. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang memiliki orang tuayang begitu represif bahkan phobia terhadap pergerakan da’wah. Suatu hal yangdapat dimaklumi, wong Nabi Ibrahim saja orang tuanya juga kafir bahkan pembuatberhala kok. Jadi nggak ada yang aneh ketika ada kader militan yang orangtuanya ternyata belum mengenal da’wah. Tapi akan jadi suatu hal yang aneh dan patutdisayangkan ketika seorang kader tidak berusaha memahamkan orang tuanya tentanghal-hal yang selama ini ia pahami. Dan ini jamak dialami oleh kader da’wah.Banyak dari mereka yang begitu hebat ketia berada di kampus maupun di berbagaiwajihah da’wah yang ia geluti, tapi mendadak menjadi “bukan siapa-siapa” bahkancenderung pecundang ketika memasuki halaman rumahnya. Seakan dia tidak berdayauntuk menunjukkan bahwa dia adalah seorang kader Islam yang telah mendapatkanpencerahan dan pemahaman yang menjadikannya lebih mulia dari orang lain yangbelum mempelajari dan mengamalkan agamanya. Memang tidak dapat disalahkanketika hal itu terjadi karena beberapa kekhususan dan setelah ia berusahasekuat tenaga untuk menda’wahi keluarganya. Bukankah hidayah itu hak prerogatifAlloh? Bahkan seorang Nabi Nuh pun tak berdaya menyelamatkan istri dan buahhatinya dari jurang kekafiran. Tapi yang jadi persoalan adalah, tidak masuknya keluarga dalam agenda dan prioritas da’wah para kader. Mereka cukup berbanggadan merasa berhasil ketika memiliki banyak kelompok binaan dan menjadi ujungtombak di berbagai amanah yang ada. Mereka lupa bahwa bahwa dalam At Tahrimayat 6, Alloh memberikan warning untuk menyelamatkan keluarga dari panasnya apineraka. “Selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” Ketika menafsirkan ayat ini, Syeikh Said Hawwamengatakan bahwa, ketika kita ingin membangun sebuah peradaban yang islami,maka harus dimulai darimembentuk pribadi yang islami dan keluarga yang islami.Ibdaa’ binafsik, mulailah dari dirimu sendiri. Diri kita, keluarga kita merupakan tanggungjawab kita sendiri. Bahkan keluarga kita sebenarnya mempunyai hak yang lebih besar untuk mendapatkan da’wah dari kita dibanding denganadik-adik binaan kita. Jangan sampai ketika binaan kita tersebar dimana-mana,tapi keluarga kita sama sekali tidak tersentuh.&lt;br /&gt;Paling tidak ada tiga urgensi kenapa kita harus berda’wah kepada keluarga kita. &lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menunjukkan bahwa da’i tersebut memang serius dalam memperjuangkan Islam &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Da’i yang menda’wahi keluarganya secara serius akan menjadi teladan yang baik&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Memiliki tenaga dan energi yang besar untuk berda’wah dan lenyapnya hambatan dari orang terdekat &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;Memang, seringkali hambatan dari keluarga begitu besar yang membuat kita merasa tak kuasa untuk menyampaikan kepada mereka. Budaya ewuh pekewuh, dan kurangnya komunikasi seringkali menjadi tembok penghalang yang begitu besar. Tapi sebenarnya halangan yang lebih besar dari semua itu adalah kurangnya perhatian dari da’i terhadap perkembangan da’wah di keluarganya. Semoga kita tidakmenjadi orang yang menyesal di kemudian hari karena lalai terhadap keluargakita sendiri. Dan semoga Alloh memberikan kekuatan dan kemudahan bagi kitauntuk mengajak keluarga kita kepada apa yang teah kita pahami. Keluarga bukanlah prioritas kedua maupun ketiga darida’wah yangkita gulirkan. Keluargaharuslah menempati prioritas pertama untuk kita selamatkan. Allohu a’lam bisshowab &lt;/p&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;)!(&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-4768608421499470930?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/4768608421499470930/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=4768608421499470930&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/4768608421499470930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/4768608421499470930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/03/evaluasi-singkat-tentang-dawah-keluarga.html' title='Evaluasi Singkat tentang Da&apos;wah Keluarga'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-55848853473800853</id><published>2007-03-11T04:19:00.001+07:00</published><updated>2007-03-11T18:46:10.817+07:00</updated><title type='text'>Totalitas Cinta Seorang Jundi</title><content type='html'>Bismillahirrohmanirrohim...Segala puji hanya bagi Alloh yang mengetahui segala sesuatu yang ghoib,yang selalu mengawasi hambaNya dalam keadaan bagaimanapun juga. Sholawatdan salam semoga tetap tercurah kepada pemimpin umat terbaik yangdipercaya oleh seluruh umatnya yang beriman, Baginda Nabi Muhammad saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;)!(&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;"Ana nggak mungkin ditempatkan di posisi itu, Mas..", Budi berkatadengan nada agak tinggi kepada kakak tingkatnya yang memintanyamencalonkan diri menjadi salah satu ketua himpunan mahasiswa dikampusnya. Dia beralasan bawa muyulnya tidak pada organisasi itu tapipada organisasi yang lain. Walaupun telah dijelaskan bahwa tidak adaorang lain yang "mampu" untuk dicalonkan selain Budi, tetap saja iamenolak dengan beralasan bahwa seorang jundi berhak untuk menolakamanah. Akhirnya himpunan mahasiswa itu "lepas" dan dikuasai oleh orangdi luar ikhwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;)!(&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang aleg tingkat II yang berasal dari Partai Da?wah. KetikaPilkada dilaksanakan di daerah tersebut partai mencalonkan seorangikhwan yang sudah dikenal profesionalitas dan komitmennya pada da'wah.Akan tetapi ketika proses kampanye berlangsung aleg tersebut mendukungcalon lain yang berasal dari koalisi partai yang notabene&lt;br /&gt;'musuhbebuyutan' partai da'wah dengan alasan hak pribadi dan memandang calondari partai lain lebih baik daripada caloon dari partai da'wah. Walaupunpada akhirnya calon dari partai da'wah lebih unggul (meski harus melaluisengketa panjang), dengan terpaksa partai me-recall aleg tersebut dandigantikan dengan aleg lain yang (semoga) lebih amanah dan lebih tho?atterhadap qiyadah.&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;)!(&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam di pertengahan 1998..."Ana rasa kita sangat belum siap untuk mendzohirkan jamaah kita menjadipartai, stadz". Seorang ikhwah mencoba untuk mendebat seorang masayikhda'wah setelah mengetahui bahwa para qiyadah jamaah memutuskan untukmembuat partai da'wah. "Perdebatan" terus berlangsung semalam suntukdengan dalil dan argumentasi yang sama-sama kuat. Akan tetapi beberapahari kemudian ditetapkan bahwa jamaah akan mendzohirkan diri menjadisebuah partai dengan berbagai konsekuensinya. Dan dengan penuhkesadaran, ikhwah tersebut menerima keputusan para qiyadah dengan lapang dada walaupun tetap belum menerima 100%- dan berjuang sekuat tenaga untuk memenangkan da'wah dalam pemilu 1999 dengan segala keterbatasan dan keluguan mereka.&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;)!(&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;"Mas, apa tidak bisa ditinjau ulang pencalonan akh fulan menjadicawapres?" seorang ikhwan bertanya pada kakak tingkatnya yang memintanyauntuk menjadi Tim Sukses Capres-Cawapres pada Pemira di kampusnya. "Ana lihat masih banyak kader yang lebih profesional daripada beliau", lanjut ikhwan tersebut. "Bahkan kalo diijinkan oleh syuro, ana siap untuk berjuang memenangkan pemira ini, demi da?wah?. Halah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;)!(&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;"Ana udah nggak tahan ada di posisi ini, Mbak. Mereka sepertimeninggalkan ana, seakan ana adalah kader kemarin sore yang tidak pantasmengetahui kebijakan resmi jamaah di kampus ini.." Seorang akhawat,sebut saja Ani complain kepada pembinanya setelah merasa 'ditinggalkan' oleh teman-teman sekelompoknya yang menjadi anggota syuro kampus.Kekecewaannya semakin bertambah melihat teman-teman sekelompoknya yang -menurutnya- tidak lebih baik dari dirinya, kini (walaupun mungkin hanya perasaannya sendiri) menganggap Ani "lebih rendah" dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;)!(&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;"Ngapain kita harus konsultasi ke LDK? Toh ini acara BEM yang tidak adasangkut pautnya dengan da'wah?" seorang koordinator pelaksana suatuacara penyambutan mahasiswa baru di sebuah kampus berkata dengan marah kepada seorang anak buahnya yang memberi usul yang sangat "aneh". Apa hubungannya acara penyambutan mahasiswa baru dengan LDK? Wadhuh...!&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;)!(&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;"Akhi, kenapa sih harus ana yang ditempatin di posisi ini?" ungkapseorang kader yang baru saja terpilih menjadi seorang ketua himpunan mahasiswa di kampusnya. Celakanya, yang ditanya pun bingung untukmenjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;)!( &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari sebuah blog yang banyak mengkritisi partaiyang merupakan implementasi dari jamaah da?wah, dan juga dari surveykekecewaan kader di kampus terhadap keputusan jama?ah, maka lahirlahkisah-kisah mengharukan di atas. Walaupun udah sedikit diotak-atik,kisah-kisah tersebut menggambarkan sebagian kecil dari ribuan kisahsedih dalam romantisme perjuangan da'wah ini. Sebuah konsekuensi logisdari keberadaan jamaah yang semakin berkembang dengan jumlah kader yang semakin banyak yaitu munculnya beragam pemikiran di internal kadertermasuk ketidaksepakatan kader terhadap keputusan-keputusan qiyadahyang -mau tidak mau- harus mereka laksanakan. Apalagi dengandidzohirkannya jamaah menjadi sebuah partai dalam kondisi yang sudhterlanjur sangat rusak, maka kasak-kusuk di akar rumput pun tidak akanbisa dihindari. Sebenarnya apa yang membuat para kader sering merasakecewa? Mending kita bahas satu-satu kisah-kisah di atas.&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;)!( &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketika memasuki era muassasi, maka konsekuensi yang harusditerima oleh seluruh kader adalah harus mau masuk dan mewarnai--syukur-syukur bisa menguasai?wajihah yang ada. Termasuk dalam da?wah kampus. Dan salah satu kelemahan da?wah (termasuk da?wah kampus) adalah minimnya kader yang qualified baik secara manajerial maupun kematangan tarbiyah. Seringkali dengan terpaksa, jamaah mengajukan calon yang tidak memenuhi kualifikasi, entah dari segi manajerial maupun kematangan tarbiyahnya sehingga sering blunder terhadap kebijakan jamaah. Sayangnya tidak semua kader memahami dan menyadari fenomena ini. Termasuk dalam kisah pertama di atas, ketika seorang kader hanya mementingkan ego pribadinya tanpa memperdulikan kepentingan da?wah yang jauh lebih penting, maka secara langsung dia telah merugikan da?wah dan membuat da'wah mundur beberapa langkah. Apakah seorang kader tidak berhak menolak amanah? Tentu saja berhak. Semua kader yang paham biasanya dan seharusnya akan berusaha menolak menerima amanah sebagai seorang 'pejabat' entah itu dalam wajihah ammah maupun yang lainnya. Namun apabila da'wah sudah memutuskan dan memang tidak bisa ditinjau kembali, maka tiada lain yang dilakukan kecuali sama'an waatho'an.&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;)!( &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dalam kisah kedua, mungkin kita semua bertanya, "Apakahjamaah begitu kejam sampai-sampai seorang kader tidak berhak menentukan pilihannya sendiri?". Ibarat sepakbola, maka seorang jundi adalah pemain di lapangan dan qiyadah adalah pelatih dan manajer. Tugas seorang pemain adalah bermain sebaik-baiknya di posisinya masing-masing, dan tugas seorang pelatih adalah berteriak-teriak memberikan instruksi kepada para pemainnya. Seorang pemain profesional pasti akan selalu nurut apa yang dikatakan pelatihnya, walaupun perintahnya kadang menyakitkan dengan mengeluarkannya dari lapangan dan menggantinya dengan pemain lain. Tapi demi sebuah cita-cita besar memenangkan pertandingan maka itu tidak akan menjadi masalah. Begitu pula dengan seorang jundi, harus rela dan ikhlas dengan instruksi dan "teriakan-teriakan" dari para qiyadah walaupun kadang itu sulit dilakukan atau bahkan sangat menyakitkan. Mungkin saja benar, calon yang diajukan oleh partai lain lebih unggul dalam beberapa hal, namun ketika kita sebagai jundi maka kita harus mengesampingkan pandangan pribadi kita dan menggunakan pandangan jamaah dalam bertindak. Dalam berda'wah, kita tidak boleh terjebak dalam pragmatisme dan melupakan esensi jangka panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;)!( &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kisah ketiga pun demikian, walaupun pendapat pribadi mungkinkita anggap lebih benar, namun dalam hidup berjamaah kita tetap harusmelaksanakan dengan sepenuh hati keputusan syuro walaupun itubertentangan dengan pendapat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;)!( &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sebagian besar kader menolak ketika diberi sebuahamanah, ada juga kader yang dengan gagah berani menawarkan diri untukdiajukan jamaah menjadi calon 'pejabat' di kampus. Apa itu salah? NabiYusuf dulu pernah meminta jabatan sebagai bendahara kerajaan pada rajaFir'aun, terus apa yang salah kalo seorang kader meminta 'jabatan' juga?Gimana jawabnya ya? Begini... ketika jamaah memutuskan sesuatu, pastisudah melalui mekanisme syuro yang panjang. Dan keputusan syuro adalahkeputusan yang terbaik. Yang salah adalah, ketika dalam diri kadertersebut muncul rasa iri apalagi rasa ujub karena merasa lebih baik dariikhwah yang dicalonkan. Padahal, syuro pasti sudah mempertimbangkanberbagai hal ketika memutuskan sesuatu. Dan seharusnya dalam kondisiseperti itu, seorang kader haruslah melaksanakan keputusan dengansepenuh hati, karena yang diperjuangkan sebenarnya bukanlah seorang alakh melainkan seorang kader da'wah untuk menduduki posisi tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;)!( &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dalam blog PKS Watch, ada komentator yang nulis -dengan nadakecewa- bahwa sistem kasta sudah mendarah daging dalam jamaah kita.Mungkin itu yang dirasakan seorang ukhti Ani ketika curhat kepadamurobbiyahnya. Ketika teman-teman sekelompoknya mendapatkan posisi dalam struktur, muncul pertanyaan kepada dirinya sendiri, kenapa aku nggakterpilih? Apa aku nggak pantes? Apa aku bermasalah? Apa aku nggak bisadipercaya? Sebuah pertanyaan yang sebenarnya muncul dari prasangka-prasangka yang menguasai dirinya. Apalagi teman-temannya sering berulah dengan membicarakan masalah "Top Secret" dalam majelispekanan yang tidak semua anggota majelis tersebut berhak tahu masalahyang dibicarakan. Merasa tidak faham dengan apa yang dibicarakan danmerasa bahwa dirinya "berbeda" dengan teman-temannya, maka iapun minder dan diam-diam memendam sakit hati terhadap teman-temannya. Ditambah lagi, dia sering mendapat amanah yang "tidak umum" diterima oleh para akhawat, sehingga dia merasa dikerjain oleh syuro yang notabeneberanggotakan teman-temannya sendiri. Wadhuh...! Sebenarnya masalah disini hanyalah masalah kedewasaan. Baik Ani maupun teman-temannya samasekali tidak/belum dewasa. Sebuah pertanyaan yang pantas dilontarkan,bagaimana mungkin Ani bisa tahu kalau teman-temannya mendapatkan posisi 'spesial', padahal posisi tersebut tidak boleh diketahui oleh orang lainkecuali Pembina mereka? Mungkin teman-teman Ani yang tidak dewasa sampai membocorkan hal tersebut, atau Ani yang belum dewasa sehingga penasaran dan mencari-cari 'posisi' apa sebenarnya yang diberikan kepadateman-temannya? Selain itu sebenarnya merupakan hal yang tidak pantasmembicarakan hal-hal amniyah di tempat terbuka di mana ada orang yangtidak berkepentingan untuk mengetahuinya, termasuk dalam majelispekanan. Di sini mungkin kita bisa mengatakan bahwa teman-teman Ani yang tidak dewasa. Tapi sebenarnya mungkin saja Ani yang sangat tidak dewasa karena sebenarnya Anipun tidak tahu persis apa yang dibicarakan,sehingga dia hanya menduga-duga dengan berbagai pasangka. Karenaterlanjur sakit hati dan terlanjur merasa 'sendiri', ia pun berkesimpulan teman-temannya jahat dan sekali lagi telah menyakiti hatinya. Apalagi dia juga merasa siap untuk menerima segala sesuatu yang bersifat amniyah, bahkan dia merasa lebih paham dari teman-temannya itu.&lt;br /&gt;Masalah seperti ini kalau dibiarkan maka akan menjadi bolasalju yang semakin hari semakin membesar. Keretakan ukhuwah tanpadisadari semakin parah karena masing-masing pihak tidak berusaha merubahsikap mereka selama ini. Pernyataan Ani yang merasa dikerjain olehteman-temannya merupakan suatu bentuk ungkapan kekecewaan yang mendalam.Walaupun pada dasarnya kekecewaan itu hanyalah bersumber dari perasaan,"Kenapa aku diatur oleh teman-temanku sendiri?" karena tidak mungkinteman-teman Ani yang bertugas dengan mekanisme syuro melakukan haltersebut. Dan sayangnya, permasalahan itu sepertinya tidak akan pernahselesai karena teman-teman Ani tidak pernah menyadari kalau Ani memendamperasaan lain terhadap mereka. Permasalahan hanya akan selesai kalau Animau membuka diri dan mengungkapkan segalanya kepada teman-temannya.Kalau itu berani Ani lakukan pasti akan terjadi suatu peristiwa yangmengharukan, hiks..hiks...&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Seandainya Ani ingat pernyataan Khalid Bin Walid ketikaditurunkan pangkatnya oleh Umar, seandainya ia ingat bahwa semua ituhanyalah amanah yang sangat berat yang akan dituntutpertanggungjawabannya kelak, seandainya kedewasaan dimiliki oleh seluruhkader da?wah ini, seandainya semua orang peka terhadap perasaansaudarinya... pasti kisah Ani hanyalah khayalan belaka.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;)!( &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang belum sepenuhnya disadari dan dimengerti olehkader da'wah, "Nahnu Du'at Qobla Kulli Syai'" bahwa apapun posisi kita,kita adalah kader da'wah dengan segala aturan dan konsekuensinya. Kitaadalah jundi yang bergerak atas intstruksi qiyadah kita.&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;)!( &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya seorang kader bersyukur apabila dapat memberikankontribusi dalam da?wah. Apapun posisi mereka. Terlebih lagi kalaudengan posisi tersebut dia dapat memperoleh keuntungan duniawi denganmengembangkan diri maupun keuntungan materi lainnya. Tidak perlu adapertanyaan seperti itu, walaupun sah-sah saja bertanya seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;)!( &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Terlalu banyak cerita-cerita 'tragis' perjuangan da'wahdikarenakan ulah segelintir kader yang belum begitu mengerti kaidah danjalan perjuangan yang begitu panjang. Fenomena yang tidak hanya terjadidi era sekarang. Ketika kita tengok sejarah perjuangan nabi, kader-kader da'wah era beliau pun banyak yang melakukan 'kesalahan'. Ka'ab Bin Malik yang tertinggal perang Tabuk dan juga pasukan Uhud yang tergiur olehrampasan perang menggambarkan akibat yang harus diderita ketika junditidak tho'at terhadap qiyadahnya sekaligus iqob yang pantas diterimaoleh seorang jundi ketika dia lalai melaksanakan perintah qiyadah. Punketika kita tengok awal pergerakan era 40an yang dirintis oleh seorangHasan Al Banna. Gamal Abdul Nasseer, adalah kader inti Ustadz Hasan AlBanna pada waktu awal perjuangan beliau. Akan tetapi berubah 180^0memusuhi da'wah, bahkan menangkapi dan menyiksa hampir semua kader da'wah setelah mendapatkan jabatan di pemerintahan. Tidak ada yangmenjamin keistiqomahan seseorang, hanya kepada 4JJI lah kita berlindungdan berserah diri. Sekarang semua berpulang kepada kita, "tegakah menjadikandiri kita bagian dari beban da'wah? Tidakkah kita ingin menunjukkan 'totalitas cinta seorang jundi' dengan 'mengesampingkan ego pribadi' sebagaimana cinta Umar kepada Bagindanya?" Dalam Kesendirian, 100706, 13:08&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-55848853473800853?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/55848853473800853/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=55848853473800853&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/55848853473800853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/55848853473800853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/03/bismillahirrohmanirrohim.html' title='Totalitas Cinta Seorang Jundi'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140040649978578981.post-7218493438829270991</id><published>2007-03-11T04:19:00.000+07:00</published><updated>2007-03-14T14:30:27.893+07:00</updated><title type='text'>It’s Time to Change!!!</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Awal 1998.&lt;/strong&gt; Jaket kuningnya menjadi simbol pergerakan mahasiswa pada waktu itu. Bersama rekan-rekannya, ia memimpin ribuan mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR untuk menekan penguasa rezim agar mengundurkan diri. Wangi parfum, peluh, dan darah bercampur dalam aroma khas jaket almamater yang selalu setia menemaninya. Dialah Rama Pratama. Siapa sangka, enam tahun kemudian dia kembali lagi ke gedung itu dengan gaya yang berbeda. Jaket almamater kini berganti menjadi tuxedo keren. Diapun tidak harus berteriak-teriak dengan megaphone untuk menyuarakan aspirasinya. Dia hanya cukup berkata: “Interupsi Pimpinan!” setiap kali hendak berpendapat. Semoga tuxedonya tetap seampuh jaket kuningnya beberapa tahun silam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;)!(&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Xanana Gusmao (duuh... lupa nama lengkapnya lagi). Lebih dari tiga puluh tahun dia bergerilya memperjuangkan Timor-Timur agar lepas dari Indonesia. Jakarta menjadi musuh nomer satunya pada waktu itu. Diapun dicap Jakarta sebagai teroris yang harus diburu dan ditangkap, hidup atau mati! Tiga puluh tahun berlalu, kini propinsi itu telah lepas dari Indonesia dan menjadi negara berdaulat. Karena terbiasa dengan gelontoran dana melimpah dari pemerintah pusat, setelah merdeka Timor Leste seakan tak kuasa hidup mandiri. Tak pelak, hal itu membuat Xanana Gusmao yang kini jadi presiden harus mengambil sikap sedikit melunak kepada Jakarta. Kini ia tak bisa lagi berhadap-hadapan dengan Jakarta seperti ketika ia menjadi pejuang dulu. Dan ia pun harus mengakui, rakyatnya masih suka makan mi instant buatan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;)!(&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ya,,, waktu berlalu begitu cepat. Keadaan bisa berganti hanya dalam hitungan bulan, minggu, bahkan hari. Begitupun dengan kita, ikhwati fillah. Beberapa bulan yang lalu, kita adalah mahasiswa dengan segala idealismenya. Kini (sebagian dari) kita sudah menjadi pekerja yang berhadapan dengan realita. Beberapa waktu lalu, kita bisa berteriak lantang menuntut ketua BPK untuk menarik ucapannya tentang korupsi di KPU, kini tak dapat dipungkiri sebagian dari kita menjadi anak buah orang yang dulu kita caci maki itu. (jadi inget akh amir…). Beberapa waktu lalu kita berbicara tentang bobroknya birokrasi di negeri ini. Kini, kitalah bagian dari birokrasi yang kita cap bobrok itu.&lt;br /&gt;Kenyataan itu bukanlah legtimasi kita untuk menanggalkan predikat sebagai aktivis da’wah dan memilih menjadi “orang biasa”. Justru kenyataan itu merupakan tantangan baru bagi kita yang menuntut kerja kongkret kita. Kini kita berhadapan dengan kenyataan yang jauh lebih rumit dan kompleks. Kini kita tidak hanya cukup dengan merasa risau menghadapi mad’u yang terkena VMJ, tapi juga harus memberikan solusi kongkret kepada mereka. Menikah misalnya. Karena mad’u kita bukan lagi hanya adek tingkt di STAN tapi juga pemuda-pemuda kampung yang butuh solusi nyata dari kita. Kini kita tidak hanya cukup mengadakan seminar pemberantasan korupsi di birokrasi, tapi pembuktian nyata kita sebagai bagian dari birokrasi harus terus kita tunjukkan. Kini kita tidak bisa merekrut orang dengan memberikan janji-janji surga, tapi kita juga harus menjawab permintaan pragmatis masyarakat tentang kehidupan yang lebih baik, makanan yang tercukupi, pendidikan memadai, dan lain sebagainya. Kini kita tidak cukup memperjuangkan perbaikan dengan “pedang terhunus” ataupun teriakan lantang di jalanan. Namun perubahan konkret yang dilakukan lewat kebijakan dan pembuktian nyata di lapangan.&lt;br /&gt;Itulah pergantian peran yang diinginkan. Perubahan menjadi Mujahid pembangun peradaban. Dan tidak ada waktu lagi bagi kita untuk mempersiapkan semuanya itu, karena memang kita tidak diberi kesempatan untuk sekedar pemanasan. Sekaranglah waktunya bagi kita untuk meneriakkan : &lt;strong&gt;SAATNYA BERUBAH!!&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Allohu a’lam&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Kasih Komentar ya...?&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140040649978578981-7218493438829270991?l=muthi-ayyash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/feeds/7218493438829270991/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5140040649978578981&amp;postID=7218493438829270991&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/7218493438829270991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140040649978578981/posts/default/7218493438829270991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muthi-ayyash.blogspot.com/2007/03/its-time-to-change.html' title='It’s Time to Change!!!'/><author><name>mas fredy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13520241491085120084</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MA5efMPMvLA/RhYInMpx-aI/AAAAAAAAACI/ziW0GPT_800/s320/Pethitha_pethithi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
