Sunday, September 30, 2007

Rumah Sakit oh Sakit...

Sebenernya, aku agak males menggunjing secara terbuka di blog, apalagi di bulan Ramadhan ini. (emang di luar Ramadhan boleh?). Yah, tapi sesekali boleh lah, menceritakan sedikit kekesalan yang dirasakan. Tentang sebuah pelayanan umum di negeri ini. Semoga ini bukan gunjingan karena tidak menyebut tokoh maupun instansi secara jelas.

Awal Romadhon kemarin, sehabis subuh tiba-tiba istriku mengeluh sakit kepala yang luar biasa. Sampai-sampai gak tega melihatnya. Ditunggu beberapa jam (karena kan ngiranya cuma sakit kepala biasa) ternyata tak kunjung sembuh, malah tambah sakit. Dan akhirnya setelah konsultasi ke seorang teman yang kebetulan berprofesi sebagai dokter, dibawalah istriku tersayang ke rumah sakit terdekat (maksudnya yang dekat dengan kontrakan kami) dengan mobil pinjaman dari kantor. Kebetulan rumah sakit itu adalah rumah sakit pemerintah yang konon fasilitas medisnya terlengkap di kota kami. Terus terang, di kotaku dulu aku sudah beberapa kali opname di rumah sakit, jadi sudah sangat hapal prosedur seseorang yang dibawa ke rumah sakit.

Aku langsung menuju Unit Gawat Darurat. Cukup susah juga untuk mencari tempat parkir mobil karena ternyata rumah sakit ini sedang direparasi. (kayak mobil aja direparasi). Maksudnya dibangun kembali. Setelah sampai di depan pintu UGD aku langsung membopong tubuh istriku masuk ke dalam ruang.penanganan. Seorang perawat membantu menaikkan tubuh istriku ke tempat tidur yang bisa didorong itu (gak tahu namanya je..). Hueks… serasa mau muntah mencium aroma pengap yang ada di ruang itu. Kesan kumuh dan kotor langsung dapat aku tangkap dengan sempurna.

Sabar..sabar...

Setelah menunggu beberapa saat, istriku hanya ditanya-tanya tentang sakitnya. Mungkin memang begitu ya prosedur masuk rumah sakit? Agak kasihan juga melihat istriku yang kesakitan masih harus menjawab pertanyaan dari para perawat. Untung tidak lama setelah itu dokter jaga segera datang memeriksa. Tapi ternyata tidak jauh beda dengan perawat tadi. Dia Cuma bertanya-tanya tetang apa yang dirasakan oleh istriku. Barangkali aku yang terlalu panik sehingga merasakan waktu berlalu begitu lama. Dan istriku belum mendapat penanganan! Padahal aku berharap paling tidak ada infus yang terpasang di lengan istriku untuk menyuplai nutrisi yang dibutuhkannya. Ia sudah begitu pucat dan lemas. Ya Alloh....

Waktu semakin lama berlalu. Dan akupun hanya mondar-mandir sambil mengharapkan ini semua segera selesai. Beberapa kali kulongok ruangan perawat di UGD itu. Semuanya sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.

”Ke mana orang yang merawat istriku tadi?”

Aku mulai kesal. Untungnya sebelum emosiku keluar, seorang suster memberikan secarik kertas padaku.

”Pak, tolong ditebus dulu ya? Di Apotik sana”

Buset, aku baru mulai mengerti sekarang. Sepertinya rumah sakit ini tidak mau mengambil resiko. Mereka hanya mau melayani kalau pasien jelas-jelas bisa membayar. Su’udzon? Gak lah... Kenyataan kok.

Tanpa buang waktu lagi aku berlari menuju apotik yang ditunjuk. Untung di dompetku ada beberapa lembar ratusan ribu rupiah. Gak kebayang kalau aku gak bawa duit. Bisa-bisa istriku dibiarkan kesakitan di ruangan pengap itu.

Setelah menunggu beberapa saat, akupun dipanggil oleh petugas apotik. Oalah, ternyata seperangkat alat infus yang harus kutebus. Kirain tadinya obat yang akan menyembuhkan istriku yang harus kubeli itu. Semakin dongkol perasaanku. Apa kalau kita tidak bisa menebus infus itu sang pasien akan dibiarkan lemas di ruangan pengap itu?

Aku segera berlari menuju istriku yang semakin pucat. Sebelumnya kuserahkan hasil dari apotik itu ke perawat. Setelah melihat-lihat lengan istriku, perawatnya memanggilku lagi.

”Pak, ini jarumnya terlalu besar, tuker dengan nomer 12 ya?”.

Grrhhhhh.... Mbok tadi dilihat dulu jarum yang sesuai dengan tangan lembut istriku. Emang gak capek bolak-balik rumah sakit apotik?

Udahlah, demi istriku aku kembali ke apotik untuk menukar jarum infus itu.

”Mau kelas berapa Pak?” Tanya perawat padaku.

”Kelas satu aja Pak.”

Aku berpikir, kelas satu biasanya sudah cukup layak untuk pasien. Gak perlu VIP lah. Lagian gak punya duit ini, he2.

Sebentar kemudian istriku dibawa ke bangsal dengan kursi roda. Sampai di bangsal dan menunggu perawat mencari kuncu kamarnya (tuh kan, kunci kamar aja masih harus dicari), sang perawat bilang padaku, ”Pak, bisa pulang sebentar untuk ngambil sprei sama piring buat makan?”

Aku bengong. Sprei harus bawa sendiri? Piring juga? Pengen ketawa tapi juga pengen ngumpat juga.

”Kalau spreinya dari sini saja bisa gak sus?”, aku mencoba menawar.

”Oiya, bisa.” Halah, mbok ya dari tadi.

Ketka kamar dibuka… Hiks, begitu mengenaskan. Rasa pengap dan bau debu sangat terasa di hidung. Jauh lebih nyaman kamar di kosanku itu. Lantainya sangat kotor, belum disapu apalagi dipel. Kamar mandinya setelah kulihat, ada kecoa yang hidup di sana. Hayah!

”Begini ini kalau rumah sakit umum, Mas...” Perawat itu agaknya mengerti ketidakpuasanku.

Egoku ingin mendebat, tapi sepertinya tidak ada gunanya. Sabar ya dek...?

To be continued...

3 Comments:

Tigger said...

Hmm, jd mb inge skrg ud sembuh blm?

Lintasberita said...

Artikel-artikel di blog ini bagus-bagus. Coba lebih dipopulerkan lagi di Lintasberita.com akan lebih berguna buat pembaca di seluruh tanah air. Dan kami juga telah memiliki plugin untuk Blogspot dengan installasi mudah. Salam!

http://www.lintasberita.com/Lokal/Rumah_Sakit_oh_Sakit---/

nanthan said...

Hello friend, You create a nice blog... my blog..http://iearnmoneyhelper.blogspot.com/ Thanks for the comment in my blog.
http://iearnmoneyhelper.blogspot.com/do ya want to have some adsense tips? come to my site and take something helpful for ya free!!!
Contact me.. I will show how to earn money with your blog.. I have some easy ideas... my mail is nanthan1983@gmail.com. I am earning more than 500$ per month.
have a nice day

 




© 2007 Hanya Goresan: Rumah Sakit oh Sakit... | Design by Kolom Tutorial | Template by : Template Unik