Sunday, September 2, 2007

Nagabonar dan Bonaga

Entah kenapa, dari dulu saya menyukai akting Pak Deddy Mizwar di layar kaca. Menurut saya aktingnya selalu luwes dan begitu menjiwai setiap perannya. Tapi saya tidak berminat untuk membahasnya di sini, karena memang saya awam terhadap dunia seni peran sehingga merasa tidak kompeten untuk memberikan komentar lebih lanjut. Babar blas gak mudheng tentang dunia per-felem-an seperti itu.

Penampilan teranyar Pak Deddy yang (kembali) memukau saya, ada di Film naga Bonar (jadi) 2. Film yang konon hendak mengulang kesuksesan film Naga Bonar itu mengingatkan saya atas perntanyaan teman-teman kepada saya, "Bagaimana sih cara meyakinkan ortu agar mengijinkan kita menikah muda?". Lho, emang apa hubungannya?

Dalam film itu ada satu konflik yang cukup menarik perhatian saya. Konflik antara Bonaga (anaknya Nagabonar yang diperankan Tora Sudiro) dengan Naga Bonar (Deddy Mizwar). Bonaga yang merupakan lulusan S2 luar negeri telah berhasil menjadi seorang pengusaha sukses di Jakarta. Suatu ketika, dia mendapat tawaran proyek bernilai trilyunan rupiah. Tentu, sebagai seorang pengusaha, itu merupakan kesempatan emas yang (mungkin) tidak akan datang dua kali. Investor tersebut ingin membangun sebuah resort di kebun kelapa sawit milik Nagabonar. Katanya, kebun yang luas itu merupakan tempat yang sempurna untuk didirikan tempat peristirahatan karena daerahnya yang berbukit-bukit. Masalah muncul ketika ternyata di kebun tersebut terdapat makam istri, ibu, dan sahabat karib Nagabonar. Tentu dong, Nagabonar gak mau melepas tanahnya. Meskipun sudah meninggal, tapi ketiga orang itu adalah orang-orang yang terlalu istimewa bagi Nagabonar, sehingga tetap hidup dalam hatinya.

Tapi di sisi lain, Bonaga (dan teman-temannya) dengan cara berpikir seorang usahawan, tetap berusaha agar Nagabonar mau merestui penjualan tanah itu yang akan menjadikan mereka pengusaha sukses kelas internasional.

Ah, saya tidak akan bercerita panjang lebar tentang film ini. Silakan tonton sendiri aja filmnya, he he... Tapi ada satu hal yang menjadi pelajaran bagi saya. Adanya pertentangan antara generasi tua (orang tua) dengan generasi muda (anak). Pada dasarnya antara Nagabonar dengan Bonaga mempunyai kesamaan sifat. Bisa dibilang, Bonaga adalah Nagabonar yang hidup pada masa kini. Tapi masalahnya, karena dua orang itu besar dan mendapat pengalaman dari dua zaman yang berbeda, maka jadilah mereka dua orang yang memiliki dua sudut pandang yang berbeda.

Nah... Tanpa kita sadari, kitapun sering mengalami "konflik" semacam itu dengan orang tua kita. Banyak teman-teman yang mengeluh, mereka ingin menikah tapi terhambat izin dari orang tua. Padahal, dia merasakan bahwa kebutuhan untuk mendapatkan pendamping hidup begitu mendesak. Tapi mereka juga tidak berani melangkah lebih lanjut tanpa restu dari orang tua.

Seperti Nagabonar yang saya ceritakan tadi, sebenarnya (saya yakin) tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya tidak bahagia. Cuma masalahnya, bahagia menurtut si anak dan bahagia menurut orang tua terkadang berbeda. Misalnya, kita merasa yakin bahwa kita akan bahagia ketika menikah di usia muda, sedangkan orang tua memandang bahwa pernikahan merupakan sesuatu yang tidak main-main sehingga harus disiapkan seserius mungkin dan tidak tergesa-gesa. Kalau sudah menemui masalah seperti ini, maka hanya ada satu jalan yang harus ditempuh.

k/o/m/u/n/i/k/a/s/i

10 huruf itu yang harus mulai dilakukan oleh kita. Sebuah hal yang wajar ketika orang tua khawatir terhadap anaknya yang baru usia 22 tahunan, sudah ngebet untuk nikah. Bukan hal aneh juga ketika mereka kaget saat bertanya tentang calon mantunya, dan sang anak tidak bisa menjelaskan dengan pasti karena cara pernikahan sang anak yang tidak lewat pacaran dulu. Atau ketika ditanya modal untuk menikah, dan ternyata sang anak hanya memiliki uang sekedarnya. Orang tua pasti akan berpikir dengan cara dan sudut pandang orang tua. Sedangkan anak, tetap berpikir dengan cara anak muda yang menggebu dan merasa lebih tahu dari siapapun. Ini yang sering jadi masalah. Kepada teman-teman saya yang bertanya, "Bagaimana cara meyakinkan ortu agar mengijinkan kita menikah?", saya ingin mengatakan, "Kenapa antum tidak coba berusaha mengerti jalan pikiran ortu antum dan coba dikompromikan dengan keinginan antum lalu disampaikan lagi kepada mereka dengan cara yang lebih baik?". Kadang timbul konflik yang cukup besar ketika masing-masing pihak masih eyel-eyelan dengan pendapatnya masing-masing.

Orang tua, sama dengan kita, selalu menginginkan hal yang terbaik bagi kita. Pernahkah antum berpikir, khawatirnya mereka akan kehilangan putra/putri tercintanya apabila telah menikah? Pernahkah terpikir khawatirnya mereka akan kesiapan anak-anaknya mengarungi bahtera rumahtangga yang seluas sisa umur kita di dunia ini? Cobalah selami cara berpikir mereka, lalu kompromikan dengan keinginan kita. Memang, pernikahan bukan suatu perkara yang gampang. Pernikahan adalah masalah separuh agama kita. Makanya, jangan sampai kita mempersiapkan secara serampangan. Dan jangan sampai juga, kita menyakiti hati orang tua kita demi mempertahankan pendapat kita. Makanya kata ustadz Anis Matta, "Persiapkanlah orang tua antum dua tahun sebelum antum berencana untuk menikah!"

Nah...

1 Comment:

wansur said...

sepakat! jalan pikiran kita mmg bisa jadi sgt berbeda dg orang tua kita, komunikasi dan kompromilah yg akn menyelesaikannya. jadi persiapannya paling tidak dua tahun ya bos? ckp lama ya? kalo ortu sdh oke, tapi keluarga besar belum oke, pye?

 




© 2007 Hanya Goresan: Nagabonar dan Bonaga | Design by Kolom Tutorial | Template by : Template Unik