Sunday, September 30, 2007

The Art of Dying

Pagi itu, matahari belum juga sempurna menampakkan wujudnya. Seorang tua di atas kursi roda, keluar dari masjid seusai melaksanakan sholat Subuh. Tubuhnya terlalu ringkih untuk memutar roda kursinya sehingga seorang ajudanpun membantu mendorongnya. Tapi tubuh ringkihnya itu tidak bisa menghalangi wajahnya untuk senantiasa memancarkan semangat yang begitu menyala, bahkan meresonansi seluruh rakyat Palestina. Mengobarkan semangat perjuangan pembebasan tanah para anbiya.

Dan masih di pagi itu, sebuah helicopter Apache tiba-tiba muncul di depan kursi rodanya. Melontarkan rudal yang tepat mengenainya. Dan tubuh orang tua itupun hancur, akibat ulah pengecut dari bangsa penakut yang dilaknat oleh Tuhannya. Dialah Syeikh Ahmad Yassin, pemimpin gerakan perlawanan HAMAS di Palestina. Dunia Islam pun berduka setelah kehilangan salah satu mujahid terbesarnya.

Dr. Abdul Azis Rantisi, pemimpin HAMAS yang menggantikan Syeikh Ahmad Yassin pun menikmati pangalaman bertemu Alloh yang mirip dengan pendahulunya. Ditembak roket dari helikopter Apache yang mengintainya. Sebelumnya, dia berkata kepada para wartawan yang mengkerubutinya. “Setiap orang pasti akan mati. Tinggal bagaimana matinya. Apakah di pembaringan, atau di jalanan dengan rudal Apache. Dan saya, lebih memilih Apache”

Ya, setiap makhluk Alloh yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Kullu nafsin dzaa iqotul mauut… Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Tidak akan ada yang luput, meskipun ia di balik tembok yang sangat tebal sekalipun, malaikat maut pasti akan menemukannya apabila sudah tiba waktunya. Tidak ada lagi perdebatan tentang kematian. Yang ada hanyalah dengan apa dan bagaimana akan kita hadapi kematian itu.

Karena kematian sesungguhnya adalah pintu gerbang menuju episode kehidupan yang lebih kekal dan abadi. Kematian adalah batas tipis antara kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat yang tiada ujungnya. Dan kematian adalah masa permulaan penghitungan segala amal kita di dunia. Kematian adalah akhir dari segala usaha kita di dunia. Dan kematian adalah masa di mana kita akan mulai merasakan akibat dari perbuatan kita selama di dunia. Karenanya, sudah seharusnya kematian dipersiapkan semaksimal mungkin dengan bekal sebaik mungkin. Karena kita berharap, kematian adalah awal dari kebahagiaan kita yang abadi.

Karena kematian sesungguhnya adalah pertemuan kita dengan Sang Khalik. Titik di mana kita kembali kepadaNya. Saat di mana kita akan menghadapi pengadilanNya. Dan waktu di mana kita akan mendapatkan keputusanNya. Karenanya, seharusnya kematian kita cita-citakan sebagai sesuatu yang sukses. Dengan cara yang sukses. Dengan sesuatu yang akan kita banggakan ketika kita menghadapNya. Meskipun hanya sebuah cita-cita, untuk menikmati kematian tidak dengan cara biasa. Untuk menggapai kematian dengan sebuah predikat yang akan membuat kita tidak mati, melainkan hidup. Syahid!

0 Comments:

 




© 2007 Hanya Goresan: The Art of Dying | Design by Kolom Tutorial | Template by : Template Unik