Liburan panjang ini, tiga hari berturut-turut setiap hari ada sahabat saya yang menggenapkan separuh dien mereka. Saya selalu gembira ketika mendengar kabar teman-teman saya yang akan segera maupun sudah menggenapkan separuh agama mereka dengan menikah. Karena saya tahu, menikah adalah keindahan, kecuali yang menganggapnya sebagai beban. Rumahtangga adalah kemuliaan, kecuali bagi yang memandangnya sebagai rutinitas tak bermakna. Dan bagi mereka para aktivis dakwah yang saya kenal, menikah dan perjuangan mereka adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Artinya, menikah adalah sebagian dari perjuangan mereka untuk menegakkan agama ini. Subhanalloh….Sebagaimana saya yang menikah ketika usia saya belum genap 22 tahun, sahabat-sahabat saya inipun masih sangat muda usianya ketika besok (insya Alloh) melepaskan masa lajang mereka dan mengubah status mereka menjadi bapak dan ibu rumah tangga. Memang, seperti kata pepatah di televisi, “Tua itu Pasti, Dewasa itu Pilihan”. Tidak ada hubungan pasti antara usia dan kedewasaan seseorang. Dan tentu tidak ada hubungan pasti juga antara usia dan kesiapan seseorang untuk menikah. Dan saya selalu salut kepada para pemuda yang menjaga kesuciannya dengan menikah. tentu diiringi dengan bekal yang cukup. Bekal ilmu, bekal iman, bekal mental, bekal materi, dan bekal-bekal lain yang sangat dibutuhkan untuk mengarungi samudera luas bernama rumah tangga.
Hmmm... spesial untuk sahabat-sahabatku Mbak Ratna yang akan menikah pada 17 Agustus ini, Mas Febri dan Mbak Siti Kholilah yang esok 18 Agustus hendak merayakan cintanya, dan Mbak Malatika Septiasari dan Mas Amin Fauzan yang 19 Agustus nanti insya Alloh akan resmi menjadi suami istri.
Barokallohulaka wa baroka 'alaika wajama'a bainakuma fii khoiri...
Dan harapan saya selalu, semoga pernikahan ini tidak menjadi terminal pemberhentian bagi kreatifitas dan kontribusi kita dalam hidup ini. Ana uhibbukum fillah...


0 Comments:
Post a Comment