Friday, June 8, 2007

Yuuk Bangun Cinta...

Cinta Bersemi di Pelaminan
Oleh: Ust. Anis Matta

Lupakan! Lupakan semua cinta jiwa yang tidak akan sampai ke pelaminan. Tidak ada cinta jiwa tanpa sentuhan fisik. Semua cinta dari jenis yang ini yang tidak berujung dengan penyatuan fisik hanya akan mewariskan penderitaan bagi jiwa. Misalnya yang dialami oleh Nashr bin Hajjaj di masa Umar bin Khattab. Ia pemuda paling ganteng yang ada di Madinah. Sholeh dan kalem. Secara diam-diam gadis-gadis Madinah mengidolakannya. Sampai suatu saat Umar mendengar seorang perempuan menyebut namanya dalam bait-bait puisi yang dilantunkannya di malam hari.

Umar pun mencari Nashr. Begitu melihatnya, Umar terpana dan mengatakan, ketampanannya telah menjadi menjadi fitnah bagi gadis-gadis Madinah. Akhirnya Umar pun memutuskan untuk mengirimnya ke Basra. Disini ia bermukim pada sebuah keluarga yang hidup bahagia. Celakanya, Nashr justru jatuh cinta pada istri tuan rumah. Wanita itu juga membalas cintanya. Suatu saat mereka duduk bertiga bersama sang suami. Nashr menulis sesuatu dengan tangannya di atas tanah yang lalu dijawab oleh sang istri. Karena buta huruf, suami yang sudah curiga itu pun memanggil sahabatnya untuk membaca tulisan itu. Hasilnya: Aku cinta padamu!

Nashr tentu saja malu karena ketahuan. Akhirnya ia meninggalkan keluarga itu dan hidup sendiri. Tapi cintanya tak hilang. Dan ia menderita karenanya. Sampai ia jatuh sakit dan badannya kurus kering. Suami perempuan itupun kasihan dan menyuruh istrinya untuk mengobati Nashr. Betapa bahagianya Nashr ketika perempuan itu datang. Tapi cinta tak mungkin tersambung kepelaminan. Mereka tidak melakukan dosa, memang. Tapi mereka menderita. Dan Nashr meninggal setelah itu.

Itu derita panjang dari cinta yang tumbuh di lahan yang salah. Tragis memang. Tapi ia tak kuasa menahan cintanya. Dan ia membayarnya dengan penderitaan sampai akhir hayat. Pastilah cinta yang begitu akan jadi penyakit. Sebab cinta yang ini justru menemukan kekuatannya dengan sentuhan fisika. Makin intens sentuhan fisikanya, makin kuat dua jiwa saling tersambung. Maka ketika sentuhan fisik jadi mustahil, cinta yang ini hanya akan berkembang jadi penyakit. Itu sebabnya Islam memudahkan seluruh jalan menuju pelaminan. Semua ditata sesederhana mungkin. Mulai dari proses perkenalan, pelamaran, hingga mahar dan pesta pernikahan. Jangan ada tradisi yang menghalangi cinta dari jenis yang ini untuk sampai ke pelaminan. Tapi mungkin halangannya bukan tradisi. Juga mungkin tidak selalu sama dengan kasus Nashr. Kadan-kadang misalnya, karena cinta tertolak atau tidak cukup memiliki alasan yang kuat untuk dilanjutkan dalam sebuah hubungan jangka panjang yang kokoh. Apapun situasinya, begitu peluang menuju pelaminan tertutup, semua cinta yang ini harus diakhiri. Hanya di sana cinta yang ini absah untuk tumbuh bersemi: di singgasana pelaminan.

Sumber : Tarbawi


Itu adalah tulisannya Ust Anis Matta dalam Serial Cinta di majalah Tarbawi. Beberapa kali saya membacanya, beberapa kali itu pula saya tertegun, tercekat, atau apalah itu namanya. Bukan karena saya mengalaminya, tapi secara kebetulan ada beberapa kejadian yang membuat saya mau tidak mau memikirkan kisah itu.

Dulu (dan sekarang juga ding), saya begitu ”kenyang” dengan pemahaman bahwa, menikah tidak harus dengan cinta. Tepat sekali. Saya pun masih meyakininya sampai kini. Terlalu banyak contoh yang membuktikan bahwa menikah dengan orang yang (sebelumnya) tidak dikenalpun ternyata tetap membawa kebahagiaan. Dan biasanya para aktivis (da’wah) menikah dengan cara ini.

Sampai kemudian ada beberapa cerita yang sampai ke telinga saya, menceritakan bahwa mereka kesulitan untuk menerima konsep bahwa "menikah tidak harus dengan cinta". Bahkan kalimat itu terlontar dari beberapa orang yang sudah menikah. He he tapi yang ini jujur gak ke saya ceritanya. Ya iyalah, wong saya belum nikah kok dicurhatin masalah kayak gitu. Pernah baca bukunya Mbak Izzatul Jannah, Karena Cinta Harus Diupayakan? Dalam salah satu tulisannya di buku itu, beliau bercerita tentang seorang akhowat yang curhat, tidak bisa melupakan seorang ikhwan yang pernah tertambat di hatinya semasa di kampus dulu. Padahal kini ia telah menikah dengan orang lain. Singkat cerita, alhasil akhwat tersebut tidak bisa sepenuhnya mencintai suaminya. Walah!

Ya... karena saya belum pernah ngalamin, jadi ya belum berani untuk komentar, apa yang salah sama akhwat itu. Apa memang begitu dahsyat kekuatan cinta sampai menyiksa orang seperti itu? Dan apa memang begitu sulitnya melupakan cinta apalagi cinta pertama kita?

Beberapa waktu yang lalu juga ada seorang teman yang cerita, dia sudah hampir memasuki gerbang pernikahan, tapi ternyata belum juga bisa melupakan ”cinta” kepada seorang ikhwan lain yang telah dipendamnya selama bertahun-tahun. Kepada teman saya itupun saya hanya bisa memberikan sedikit nasehat (yang semoga aja didengarnya), bahwa menikah dengan orang yang kita cintai adalah sebuah pilihan dan kemungkinan, sedangkan mencintai orang yang kita nikahi adalah sebuah kewajiban. Ketika pilihan dan kemungkinan itu sudah tidak memungkinkan untuk dimungkinkan (halah opo sih maksude?) maka tiada pilihan lain bagi kita kecuali melaksanakan kewajiban kita, mencintai orang yang kita nikahi.

Memang, idealnya tidak jatuh cinta ketika belum siap menikah. Dan idealnya juga cinta sejati itu baru tumbuh setelah di pelaminan. Tapi ketika cinta tak terelakkan di saat kita belum siap menikah, dan ternyata cinta itu tidak memungkinkan untuk menyandingkan kita di pelaminan, maka saya kutip paragraf pertama tulisan di atas, "Lupakan! Lupakan semua cinta jiwa yang tidak akan sampai ke pelaminan".

Terakhir, saya kutip nih, kata-katanya Salim A Fillah dalam ”Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim”. Bisa dilihat di halaman 237.
”Antum bebas jatuh cinta pada akhwat manapun, berapapun banyaknya –malah kalau bisa sebanyak-banyaknya-. Tapi jadilah gentle dan sportif! Kalau ada ikhwan lain yang lebih siap datang mendahului menjemput sang anagn pengisi sepi jangan menangisi nasib diri! Persilakan dengan gagah, bahkan bantu dengan segenap pengorbanan kalau perlu!”

” Antunna bebas mencintai ikhwan manapun. Tetapi kalau seseorang berbeda yang baik akhlaq dan agamanya datang dan kita tidak punya alasan syar’i untuk menolak, jangan sekali-kali menghindar!”

Mari kita tahan diri untuk tidak jatuh cinta, dan berjanjilah untuk membangun cinta kepada pasangan yang berhak kelak (kalau udah punya he he).

Ternate, 08062007 abis jumatan
dedicated for beberapa orang teman

1 Comment:

Dino said...

Mas fredy punya bakat nulis juga ya, ternyata...
Lagi-lagi sepakat dengan pendapat mas...mohon selipkan saya dalam doa antum...
jzk

 




© 2007 Hanya Goresan: Yuuk Bangun Cinta... | Design by Kolom Tutorial | Template by : Template Unik