Gundah nampak begitu jelas di wajah seorang Ibu tatkala suatu pagi putri kesayangannya mengungkapkan keinginannya lewat telepon.
"Bu, ijinkan kakak untuk berumah tangga ya Bu? Kakak ingin menggenapkan separuh dien kakak", Suara anaknya memelas seakan mengharapkan suatu yang amat sangat.
"Engkau masih terlalu muda nak... Apa kau tak ingin menikmati dulu masa mudamu? Tak inginkah kau merasakan jerih payahmu selama ini? Tak inginkah kau menikmati dulu gajimu dari pekerjaan yang baru kau dapat itu?", jawab sang ibu berusaha untuk menyanggah keinginan putrinya tanpa menyakiti hatinya. Ya, perasaan anaknya adalah perasaannya. Ketika perasaan putrinya sakit, sakit pulalah perasaannya. Sungguh, penolakannya hanya karena rasa sayang semata kepada anaknya.
"Kakak sudah 22 tahun Bu... Sudah cukup dewasa untuk menentukan jalan hidup sendiri. Kakak merasa sudah memerlukan pendamping hidup. Yang akan membagi beban yang kakak rasa. Yang akan melindungi kakak di kala kakak terancam. Yang akan mengingatkan kakak ketika kakak mulai tersesat." Sang anak mencoba mengingatkan Ibunya kalau dirinya bukan lagi bayi kecil sebagaimana 22 tahun silam.
"Tak cukupkah ibu sebagai pendampingmu Nak...?" Sang Ibu kembali mencoba memberi pengertian kepada putri sulungnya.
"Ibu juga membutuhkanmu. Ibu juga butuh tempat untuk berbagi beban hidup. Dan kamulah tempat selama ini ibu bercerita."
"Ibu, tahukah ibu kalau menikah merupakan perintah agama? Ketika kakak menikah, kakak ingin melaksanakan sunnah Baginda yang mulia. Kakak ingin menjaga diri kakak. Kakak tidak ingin seperi anak-anak muda lain yang mengumbar nafsu mereka lewat pacaran, atau apapun namanya. Kakak takut terjerumus pada dosa Bu..."
"Ketika kakak menikah, bukan berarti kakak ingin meninggalkan Ibu... bukan berarti kakak ingin meninggalkan tanggungjawab terhadap adik-adik. Insya Alloh tidak Bu... Bakti kakak kepada Ibu-Bapak insya Alloh tidak akan luntur oleh pernikahan ini kelak. Dan kakak juga akan selalu siap menjadi tempat berbagi untuk ibu...Ibu tidak akan kehilangan kakak. Tidak sama sekali. Kakak berjanji Bu" Sang anak berusaha menjelaskan dengan menahan tangis, meskipun sesekali terdengar juga isaknya.
"Apa kau sudah mantap dengan keputusanmu Nak...?" Hati sang Ibu mulai luluh dengan kesungguhan anaknya.
"Insya Alloh"
"Kenalkan dia pada Ibu Bapak Nak. Kebahagiaanmu, kebahagiaan kami. Insya Alloh Ibu ijinkan."
Gampang amat ya minta ijin nikah? Kekekekeke


2 Comments:
eh, mau nikah ya? beneran neh? trus, pangeran mana yang beruntung? selamat deh. barakallah
eh, maap. salah ya... maksudnya, putri mana yang beruntung dapet pangeran ini? hihihi... maap ya. abis jenis kelaminnya ga tau sih.... ga digambar sih...
Post a Comment